Bismillah. Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’iin. Wa ba’du.
Berbicara tentang wanita-wanita sholihah, tentu tidak akan pernah ada habisnya. Meskipun banyak wanita-wanita yang menampakkan aurat dan menjadi fitnah bagi laki-laki, tapi banyak pula wanita-wanita yang menjadi penyejuk mata bagi suaminya, dan mereka lah sebaik-baik perhiasan dunia sebagaimana dalam sebuah hadits :
عن عبد الله بن عمرو، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ((الدنيا متاع، وخير متاع الدنيا المرأة الصالحة))
“Dari Abdullah bin ‘Amr, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ((Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholihah)).” (HR. Muslim, no. 1467. Hal : 585).
Pada hadits ini dunia disebut sebagai perhiasan, tapi sebaik-baik perhiasan yang ada diatas dunia ini adalah wanita sholihah. Ini menunjukkan keutamaan wanita sholihah.
Dalam hadits yang lain :
وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((إذا صلت المرأة خمسها وصامت شهرها وحفظت فرجها وأطاعت زوجها قيل لها ادخلي الجنة من أي أبواب الجنة شئت))
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ((Apabila seorang wanita menunaikan sholat lima waktu, berpuasa di bulan ramadhan, menjaga kemaluannya dan mentaati suaminya, dikatakan kepadanya : “Masuklah kedalam surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki)).” (Shohih Targhiib wat Tarhiib, no.2411. Hal : 618).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa hal yang menjadi ciri khas wanita sholihah, (1) Melaksanakan sholat lima waktu, (2) Berpuasa di bulan ramadhan, (3) menjaga kemaluannya, (4) Mentaati suaminya.
Mereka yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan ciri-cirinya diatas, itulah ciri-ciri calon penghuni surga, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kalimat perintah setelahnya “Masuklah kedalam surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki.” Seolah-olah ini adalah tazkiyah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi wanita-wanita yang ingin masuk surga, maka milikilah empat ciri diatas, maka masuk lah ke dalam surga dari pintu mana saja yang kalian kehendaki, bebas. Ini menunjukkan keutamaan dan kemuliaan wanita sholihah, yaitu wanita yang Allah sebutkan definisinya dalam firman-Nya :
«فَٱلصَّـٰلِحَـٰتُ قَـٰنِتَـٰتٌ حَـٰفِظَـٰتٌۭ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ»
Artinya : “Wanita yang sholihah adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS. An-Nisaa’ : 34)
Wanita sholihah yang Allah sebutkan pada ayat diatas adalah, (1) Wanita yang taat kepada Allah. Taat kepada Allah mencakup : Yang melaksanakan sholat lima waktu dan berpuasa di bulan ramadhan, (2) Memelihara diri ketika suaminya tidak ada, mencakup menjaga kemaluannya, serta mentaati suaminya. Kedua hal ini termasuk bentuk ketaatan seorang wanita kepada Allah ‘Azza wa Jalla, (3) Firman Allah yang artinya : “Oleh karena Allah telah memelihara (mereka)”, maksudnya Allah telah menjaga mereka dari segala ‘aib dan kekurangan.
Berkata Ibnu Katsir mengenai ayat diatas :
وقوله تعالى : «فَٱلصَّـٰلِحَـٰتُ» أي من النساء «قَـٰنِتَـٰتٌ» قال ابن عباس وغير واحد : يعني مطيعات لأزواجهن «حَـٰفِظَـٰتٌۭ لِّلْغَيْبِ» وقال السدي وغيره : أي تحفظ زوجها في غيبته في نفسها وماله. وقوله «بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ ۚ » أي المحفوظ من حفطه الله
قال ابن جرير حدثنا سعيد بن أبي سعيد المقبري عن أبي هريرة، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((خير النساء امرأة إذا نظرت إليها سرتك، وإذا أمرتها أطاعتك، وإذا غبت عنها حفظتك في نفسها ومالك)). قال : ثم قرأ رسول الله صلى الله عليه وسلم هذه الآية «ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ» إلى آخرها
وقال الإمام أحمد : حدثنا يحي بن إسحاق، حدثنا لهيعة عن عبيد الله بن أبي جعفر : أن ابن قارظ أخبره عن عبد الرحمان بن عوف قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ((إذا صلت المرأة خمسها، وصامت شهرها، وحفظت فرجها، وأطاعت زوجها، قبل لها : ادخلي الجنة من أي الأبواب شئت))
Firman Allah Ta’ala (yang artinya) : «Orang-orang yang sholih» Maksudnya dari kalangan para wanita, «Yang taat» Berkata Ibnu Abbas dan banyak ulama berkata : ‘Artinya wanita-wanita yang taat kepada suami-suami mereka’, «Lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada» Berkata As-Suddi dan selainnya : ‘Yaitu wanita yang memelihara dirinya ketika suaminya tidak ada (disampingnya) dengan menjaga dirinya sendiri dan harta suaminya. Dan firman Allah (yang artinya) : «Oleh karena Allah telah memelihara mereka» Yaitu orang yang dipelihara adalah orang yang dijaga oleh Allah.
Berkata Ibnu Jarir : Menceritakan kepada kami Sa’id bin Abi Sa’id al Maqburiy dari Abi Hurairah, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ((Sebaik-baik wanita yaitu seorang wanita yang jika engkau memandangnya dia akan membahagiakanmu, jika engkau memerintahkannya dia akan mentaatimu, jika engkau tidak ada di sisinya dia akan menjagamu dalam dirinya dan menjaga hartamu)). Ia mengatakan : Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat ini (yang artinya) : «Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita» hingga akhir ayat.
Berkata Imam Ahmad : Menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq, menceritakan kepada kami Ibnu Luhai’ah dari ‘Ubaidillah bin Abi Ja’far : Bahwasanya Ibnu Qaridz mengabarkan bahwa Abdurrahman bin ‘Auf mengatakan : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ((Apabila seorang wanita menunaikan sholat lima waktu, berpuasa di bulan ramadhan, menjaga kemaluannya dan mentaati suaminya, dikatakan kepadanya : “Masuklah kedalam surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki)).” (Tafsiir Ibni Katsiir, 1/446).
Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman tentang para bidadari :
«إِنَّآ أَنشَأْنَـٰهُنَّ إِنشَآءًۭ. فَجَعَلْنَـٰهُنَّ أَبْكَارًا. عُرُبًا أَتْرَابًۭا»
Artinya : “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al-Waqi’ah : 35-37)
Berkata Ibnu Katsir tentang tafsiran ayat diatas :
وقوله : «عُرُبًا» وقال سعيد بن جبير عن ابن عباس : يعني متحببات إلى أزواجهن، ألم ترى إلى الناقة الضبعة هي كذلك، وقال الضحاك عن بن عباس : العرب العواشق لأزواجهن وأزواجهن لهن عاشقون، وكذلك قال عبد الله بن سرجس ومجاهد وعكرمة وأبو العالية ويحي بن أبي كثير وعطية والحسن وقتادة والضحاك وغيرهم
“Firman Allah «عُرُبًا» (Penuh Cinta), berkata Said bin Jubair dari Ibnu Abbas, “Maksudnya yaitu wanita-wanita yang mencintai suaminya, apakah engkau tidak melihat bagaimana kecenderungan unta betina, seperti itu juga mereka (para wanita)”. Adh-Dahhak mengatakan dari Ibnu Abbas (اَلْعُرُوْبُ) yaitu wanita-wanita yang sangat menyayangi dan selalu merindukan suaminya, dan suaminya-pun demikian terhadap mereka, demikian juga pendapat Abdullah bin Abi Sarjas, Mujahid, Ikrimah, Abu ‘Aliyah, Yahya bin Abi Katsir, ‘Athiyah, Hasan, Qotadah, Dhahhak dan selain mereka.” (Tafsiir Ibni Katsir, 4/252).
Berkata As-Syaikh Abdurrahman bin Natsir As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya :
«إِنَّآ أَنشَأْنَـٰهُنَّ إِنشَآءًۭ» أي : إن أنشأنا نساء أهل الجنة نشأة غير النشأة التي كانت في الدنيا نشأة كاملة لا تقبل الفناء. «فَجَعَلْنَـٰهُنَّ أَبْكَارًا» صغارهن وكبارهن
وعموم ذلك يشمل الحور العين ونساء أهل الدنيا، وأن هذا الوصف – وهو البكارة- ملازم لهن في جميع الأحوال، كما أن كونهن «عُرُبًا أَتْرَابًۭا» ملازم لهن في كل حال
والعروب هي المرأة المتحببة إلى بعلها بحسن لفظها وحسن هيئتها ودلالها وجمالها ومحبةها، فهي التي إن تكلمت سبت العقول، وود السامع أن.كلامها لا ينقضي، خصوصا عند غنائهن بتلك الأصوات الرخيمة والنغمات المطربة، وإن نظر إلى أدبها وسمتها ودلها ملأت قلب بعلها فرحا وسرورا، وإن برزت من محل إلى آخر، إمتلأ ذلك الموضع منها ريحا طيبا ونورا ويدخل ذلك الغنجة عند الجماع
Artinya : «Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung» Yaitu sesungguhnya Kami telah menciptakan wanita-wanita ahli surga dalam kondisi langsung muda tidak melalui pertumbuhan yang mana ketika di dunia pertumbuhan itu melalui proses yang sempurna yang tidak akan habis. «Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan» Yaitu yang kecil diantara mereka maupun yang tua (semuanya perawan).
Dan keumuman itu (yaitu Allah jadikan mereka gadis-gadis perawan) mencakup para bidadari dan para wanita-wanita dunia, dan sungguh ini -yaitu perawan- merupakan sifat sebagai kelaziman bagi mereka dalam seluruh keadaannya sebagaimana keadaan mereka «Penuh cinta lagi sebaya umurnya» sebagai kelaziman bagi mereka dalam setiap keadaan.
Dan «أَلعُرُوبُ» yaitu wanita yang memperlihatkan cintanya kepada suaminya dengan kebagusan ungkapan kata-katanya, penampilannya, kegenitannya, kecantikannya dan cintanya. Maka dia (yaitu Al-‘Uruub) yang jika ia berbicara akan mengokohkan aqal, orang yang mendengar ucapannya akan mencintainya tanpa batas, khususnya ketika mereka bersenandung dengan suara-suara yang merdu, dan nyanyian-nyanyian biduanita. Apabila dilihat pada adab (sopan santun), tingkah laku dan yang ditunjukkannya, dia akan memenuhi hati suaminya dengan kegembiraan dan suka cita. Jika ia menampakkan diri pada suatu tempat ke tempat yang lain, maka tempat tersebut akan penuh dengan aroma wangi dan cahaya, dan masuk juga dalam hal ini wanita yang genit ketika jima’.” (Taisiirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiiri kalaamil Mannan, hal.834).
Itulah sebagian kecil dari ciri-ciri wanita sholihah, yaitu wanita-wanita yang bertakwa kepada Allah dan menyejukkan pandangan suami-suami mereka.
Orang-orang yang bijak pernah mengatakan :
“Bukan kecantikan yang membuat orang-orang terpikat.
Akan tetapi ketakwaan-mu kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”
Ahli hikmah juga menuturkan :
”Alangkah memikat perangai yang baik.
Dan sungguh menyejukkan jiwa tutur kata yang santun.
Ia laksana bidadari padahal ia tak secantik bidadari.
Karena ketakwaannya mereka bagaikan bidadari-bidadari dalam pingitan.”
Para pujangga pernah menghikayatkan :
“Sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah.
Yang bertakwa kepada Allah dan yang menjaga kehormatannya.
Yang melaksanakan sholat lima waktu dan berpuasa di bulan ramadhan.
Dialah sebaik-baik harta simpanan dan sebaik-baik perhiasan dunia.”
***
Repost : Sidayu – Gresik : 13 Jumadal Akhir 1444 H/15 Desember 2024
Penulis : Abu Dawud ad-Dombuwiyy
Artikel : Meciangi-d.blogspot.com






