Apakah halal mengonsumsi makanan dari acara pesta rakyat? (Fadhil Makassar)
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه أجمعين وبعد
Allah Ta’ala berfirman :
وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ
Artinya : “Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu.” [Al-Maidah: 5]
Sembelihan orang Yahudi dan Nashrani halal karena mereka menyembelihnya atas nama Allah Ta’ala.
Syeikh Sa’di rahimahullah berkata :
وقد اتفق الرسل كلهم على تحريم الذبح لغير الله، لأنه شرك، فاليهود والنصارى يتدينون بتحريم الذبح لغير الله، فلذلك أبيحت ذبائحهم دون غيرهم
“Dan para Rasul semuanya sepakat akan haramnya menyembelih untuk selain Allah karena itu adalah syirik. Dan Yahudi dan Nashrani mereka meyakini haramnya menyembelih untuk selain Allah; oleh karena itu sembelihan mereka halal. (Lihat Tafsir Sa’di al-Maidah ayat 5).
Sehingga makanan yang disembelih untuk selain Allah ataupun untuk acara-acara yang tidak diridhoi Allah maka masuk dalam kategori ini yaitu tidak halal.
Yang menjadi masalah selanjutnya adalah apakah pesta rakyat adalah perkara yang mubah?
Jika dia adalah perkara yang mubah maka makanannya pun menjadi mubah atau halal.
Namun jika acaranya adalah acara yang haram semisal bidah dan syirik maka makanan acara tersebut menjadi haram.
Lajnah Daimah berkata :
إن كانت هذه المأكولات لا ارتباط لها بأعياد ومناسبات بدعية، وليس فيها مشابهة للكفار، وإنما هي عادات لتنويع الأكلات مع الفصول السنوية – فلا حرج في الأكل منها؛ لأن الأصل في العادات الإباحة
“Jika makanan itu tidak ada kaitannya dengan perayaan atau kegiatan bidah dan tidak ada unsur tasyabbuh dengan orang orang kafir dan hanya sekedar adat saja untuk menunjukkan ragam makanan bersamaan dengan musim musim dalam setahun maka tidak masalah makanan tersebut; karena hukum asalnya adat adalah mubah.” (Lihat fatawa lajnah daimah 22/270 nmr fatwa 20806).
Dan hari Nasional yang diperingati setiap tahun diperselisihkan oleh para ulama antara yang membolehkan karena tidak ada unsur ibadah sama sekali di dalamnya dan yang mengharamkan karena hal tersebut adalah kebiasan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mereka gemar membuat hari besar yang diperingati jika ada kejadian kejadian besar.
Dan pendapat ini diambil oleh Syeikh bin Baz rahimahullah :
هذا اليوم الوطني هو من التشبه بأعداء الله، الأيام الوطنية هو من التشبه، وقد وقع عن حسن نية، واجتهاد، ولكنه فيما يظهر لنا لا يشرع، وليس مما ينبغي، بل هو فيه تشبه لأعداء الله، وإن لم تقصد العبادة، أما لو قصد العبادة؛ يكون بدعة، لكن إذا لم تقصد العبادة، وإنما قصد بذلك التهانئ، وإظهار ما أنشأته الدولة، وما بذلته الدولة، فهذا يكون معتبرًا من جنس الأيام الأخرى التي يحدثها اليهود، والنصارى، وأشباههم للذكرى، أو لأسباب أخرى، فلا ينبغي التشبه بهم، لا في هذا، ولا في غيره
“Hari nasional termasuk tasyabbuh dengan musuh musuh Allah, dan dia memang berangkat dari niatan yang baik akan tetapi yang Nampak adalah hal ini tidak disyariatkan dan tidak selayaknya, bahkan di dalamnya ada tasyabbuh dengan musuh musuh Allah walaupun tidak ada niatan ibadah, adapun jika ada niatan ibadah maka ini bidah.
Akan tetapi jika tidak ada niatan ibadah hanya sekedar ucapan selamat saja dan memberitahukan jasa jasa yang telah diberikan negara maka ini hukumnya seperti hari hari besar yang dibuat oleh orang orang yahudi dan Nasrani dan yang semisal dengan mereka, maka tidak selayaknya tasyabbuh dengan mereka baik dalam hal ini maupun yang lainnya.” (Lihat fatawa bin Baz 2592).
Sehingga solusinya jika mendapakan makanan makanan sejenis sedekahkan kepada orang lain supaya tidak terbuang secara mubadzir.
***
Mekkah, Selasa 16 Shofar 1446 H/20 Agustus 2024 M
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A.
Artikel : Meciangi.or.id






