Salafi tidak bersatu tetapi cenderung berkelompok. Kalo memang al-haq bisa menyatukan, al-haq yang bagaimana? Atau kita melenceng dari al-haq? (Bang Alie Kopi – Tuban).
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وآله وصحبه أجمعين وبعد
Kecenderungan perpecahan di kalangan pendakwah kebenaran adalah sesuatu yang tidak bisa di hindarkan.
Renungilah firman Allah Ta’ala :
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [Anfal: 46]
Ayat ini secara gamblang memerintahkan para sahabat supaya tetap di atas koridor taat kepada Allah dan Rasulullah ketika di medan perang, larangan untuk berpecah belah dan perintah bersabar supaya dapat kemenangan.
Yang jadi catatan penting di sini adalah sebab persatuan adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul Nya. Sehingga jika terjadi pelanggaran terhadap satu saja dari aturan-Nya maka ini sudah bisa menjadi sebab perpecahan.
Dan sekarang siapa yang bisa untuk tidak jatuh pada pelanggaran terhadap ketentuan Allah dan Rasul-Nya?!!! Terlebih banyak kebodohan terhadap agama Islam itu sendiri.
Berapa yang sudah bisa berbahasa Arab?!!! Berapa yang sudah paham hukum-hukum Allah Ta’ala?!!! Belum lagi mempraktikkannya.
Jangan dikira jika seseorang sudah berilmu lantas dia terjamin tidak terjatuh pada kesalahan!!! Orang-orang Yahudi adalah contoh konkretnya di mana mereka selama ribuan tahun menikmati turunnya wahyu-wahyu langit kepada mereka sehingga mereka menjadi manusia yang paling berilmu di muka bumi ini, namun apa yang terjadi?? Mereka ternyata malah menjadi makhluk yang tidak mau diatur Allah Ta’ala.
Lantas kalau begitu jadi orang bodoh saja?!!!
Kawan yang Budiman, orang Arab dulu bertauhid, namun wahyu yang mereka terima tidak sebanyak bani Israel sejak nabi Ishaq sampai nabi Isa dapat wahyu terus.
Bangsa Arab hanya dapat wahyu ketika nabi Ismail ada, setelah beliau sampai nabi Muhammad baru dapat wahyu lagi.
Dampaknya apa??
Jelas kualitas ilmu mereka kalah dibanding bani Israel, sehingga mereka pun minder kepada orang-orang Syam yang di situ banyak bani Israelnya, sehingga mereka pun kagum kepada orang orang Syam.
Maka tatkala Amr bin Luhay Al Khuza’i salah satu pembesar bangsa Arab waktu itu datang ke Syam dan mendapati orang orang Syam ternyata banyak yang menyembah patung padahal mereka ahlu kitab (para ulama), maka dia pun menganggap ini baik dan membawanya ke tanah Arab dan tersebarlah kesyirikan lewat tangannya.
Berarti bodoh jelas menjadi malapetaka besar karena begitu mudah terpengaruh oleh budaya asing.
Lantas bagaimana solusinya?!!!
Ya tetap belajar agama supaya menjadi orang berilmu dan juga mensucikan hati biar tidak terjerumus seperti bani Israel.
Sampai sini masih mau jadi orang bodoh agama?!!! Bodoh terhadap hukum hukum Allah???
Bangkitlah kawan, belajarlah, karena ilmu itu adalah kunci kesuksesan dunia dan akhirat walaupun bukan jaminan.
Pelajaran berikutnya dari ayat di atas adalah para sahabat adalah manusia yang terbaik.
Terbaik hatinya, aqidahnya, akhlaknya, adabnya, dll.
Itupun mereka masih diajak bersatu, artinya apa???
Mereka pun punya potensi besar untuk terpecah sehingga senantiasa diingatkan supaya selalu bersatu dan tidak berpecah belah.
Maka jika sekelas para sahabat saja berpotensi besar untuk terpecah belah maka potensi itu lebih besar untuk terjadi pada kita saat ini.
Kalau begitu nggak usah jadi Salafi saja dech!!! Ribut mulu tiap hari
Kalau tidak mau jadi ahli sunnah terus mau jadi apa?
Apakah ada yang lebih baik dari ajaran ahlu sunnah salafus sholeh para sahabat?!!!
Syeikh Albani rahimahullah berkata :
الدعوة السلفية معصومة، أما من ينتسب إليها فليس معصوما
“Dakwah salafiyah adalah dakwah yang maksum selamat dari kesalahan, adapun yang mengaku sebagai Salafi maka dia tidak maksum selamat dari kesalahan.
Oleh karena itu ciri khas dakwah Sunnah adalah tidak fanatik kepada perseorangan kecuali hanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Dan ciri-ciri penyimpangan adalah fanatik buta kepada selain Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Maka di sini kita sudah bisa memahami sumber perpecahan di antara kita sesama kaum muslimin pendakwah Sunnah dakwah Salafiyah.
Semoga Allah Ta’ala menyatukan hati kita untuk mau kembali kepada agama nya dengan mempelajari nya dengan cara yang benar supaya kita bisa menunaikan hak hak Allah dan semua yang berdampingan dengan kita.
***
Sidayu, malam Selasa 22 Dzulqodah 1446 H/19 Mei 2025 M
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A.
Artikel : Meciangi.or.id







Masya Allah. Jazakallahu khoir ustad atas pencerahannya
Wa anta jazaakallah khair…