Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘ala Nabiyihi wa ‘ala alihi wa ashabihi wamanistaqomu bisunnatihi.
Segala puji hanya milik Allah ﷻ yang nikmatNya tak terhitung lagi tak terhingga. Terus tercurahkan kepada seluruh hamba-hambanya yang taat atau pendosa. Nikmat tersebut adalah bekal terbaik meniti jalan singkat kehidupan dunia, kehidupan yang kebanyakan manusia ingin hidup kekal di dalamnya, padahal dunia sejatinya tak bernilai lagi hina disisiNya.
Setiap hamba terlahir bersama fitrahnya. Fitrah yang lurus dan mengenal hakikat penghambaan kepada tuhannya semata. Mengenal siapa Allah ﷻ dan bagaimana cara mengesakanNya, juga hanya mengenal satu-satunya agama yang murni menunaikan hak-hak Allah di dalamnya, yaitu Islam.
Allah ﷻ berfirman:
ۚفِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا
“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (Ar Ruum 30:30)
Allah ﷻ menjadikan fitrah setiap manusia murni serta lurus di atas apa yang ditetapkan. Ketetapan itu pula yang menjadikan fitrah selalu sama dalam hal; kecintaan dan keinginan kepada berbagai bentuk kebenaran, sehingga pada hati setiap orang muncul dari dalamnya rasa cinta, keinginan, dan kecendrungan mencari hakikat kebenaran. Demikianlah Allah ﷻ menjadikan kebaikan pada setiap jiwa yang Dia ciptakan, kemudian diberi petunjuk sabagai bentuk penyempurnaan.
Allah ﷻ berfirman:
قَالَ رَبُّنَا ٱلَّذِىٓ أَعْطَىٰ كُلَّ شَىْءٍ خَلْقَهُۥ ثُمَّ هَدَىٰ
“Musa berkata: ‘Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.'” (Thaahaa 20:50)
Syaikhul Islam Ibn Taimiyah mengatakan:
فإن الحق محبوب في الفطرة، وهو أحب إليها وأجل فيها، وألذ عندها من الباطل الذي لا حقيقة له، فإن الفطرة لا تحب ذلك. ( الصوارف عن الحق ص.١)
“Sesungguhnya kebenaran itu dicintai oleh fitrah, paling dicintai olehnya, dan sangat agung menurutnya, dan lebih lezat di sisinya dari kebatilan yang tidak ada satu pun kebaikan padanya. Maka fitrah tidak akan pernah mencintai hal (kebathilan) tersebut.” (As Showarif anil Haq hal; 1).
Nabi ﷺ bersabda :
الإثم ما حاك في صدرك وكرهت أن يطلع عليه الناس
“Dosa itu apa yang meresahkan dada, sedang engkau membenci manusia mengetahui hal (dosa) tersebut”. (H.R Muslim)
Fitrah yang lurus dan akal yang sehat merupakan nikmat yang agung dan akan dipertanggung jawabkan. Kelak Allah ﷻ akan bertanya tentang nikmatnya; satu persatu, dan tidak akan ada satupun yang terlewatkan. Maka tidak akan ada alasan untuk mengelak, apalagi berdalih agar bisa selamat dari kesalahan, kelalaian dan kekeliruan. Terlebih lagi bagi manusia yang jelas baginya kebenaran, tapi justru berbelok dan memilih kesesatan.
Allah ﷻ berfirman:
أَفَمَن كَانَ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّهِۦ وَيَتْلُوهُ شَاهِدٌ مِّنْهُ
“Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al Quran) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah.” (Huud 11:17).
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di mengatakan:
فالبينة: الوحي الذي أنزله الله، والشاهد: هو شاهد الفطرة المستقيمة، والعقل الصريح
“Al bayyinah dalam ayat ini; wahyu yang Allah ﷻ turunkan dan as saahid; saksi berupa fitrah yang lurus dan akal yang sehat.” (Taisiirul Kariim ar-Rahman hal:379)
Demikian Allah ﷻ menciptakan seluruh manusia dan jin di atas fitrah yang lurus. Apabila jiwa tetap pada fitrahnya maka dia tidak akan menginginkan sesuatu kecuali kebenaran. Begitupula sebaliknya, tidak ada sesuatu yang ditinggalkan kecuali jelas padanya kebatilan. Inilah hakikat penciptaan, karena tidak ada satupun jiwa yang meniti jalan di luar dari pada tujuannya kecuali kesesatan yang diinginkannya, karena kebenaran akan diraih secara sempurna apabila jiwa terus bertahan di atas tujuan dari penciptaannya. Namun demikianlah sunnah yang terus berjalan, di mana kebenaran dan kebathilan akan berjalan beriringan dan jiwa-jiwa akan terus menjadikan keduanya salah satu di antara sebuah pilihan. Allah ﷻ berfirman:
فَإِنَّ ٱللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ
“Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” (Faathir 35:8)
فَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِن كَانُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.” (Ar Ruum 30:9)
Nikmat terbesar yang kadang terabaikan adalah ketika hamba dijauhkan oleh Allah dari bentuk penyimpangan, serta diberi taufiq untuk terus melazimi fitrahnya dan memastikan jalannya di atas kebenaran.
Oleh karenanya, hamba dituntut untuk faham (faqih) dalam perkara ini, yaitu mengetahui apa saja perkara-perkara yang membahayakannya dan menyelamatkannya saat ini, hingga ajal datang kepadannya dengan pasti.
Penghalang Kebenaran adalah Kebodohan
Di antara perkara yang jelas menghalangi hamba dari kebenaran yaitu kebodohan. Kebodohan dari perkara yang pokok; yaitu agamanya sendiri, sehingga dia menjadikan kebodohan tersebut perkara sepele dan terabaikan.
Sebagaimana jasad butuh kepada makanan agar kuat, serta kebal dari serangan penyakit yang menjadikannya mampu bertahan, begitupun jiwa butuh kepada ilmu yang benar agar tidak terjangkiti kebodohan dan terjerumus di dalam kesesatan.
Allah ﷻ berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az Zumar 39:9)
Kebodohan inilah pokok terbesar yang memprakarsai lahirnya kesesatan di tengah manusia; atau, kebodohan ini pula yang menjadikan kesesatan itu laris dan digemari oleh kebanyakan dari mereka, karena mereka tidak pernah berusaha untuk meniti dengan penuh kesungguhan dan ketabahan sebuah jalan yang akan mengantarkan mereka kepada kebenaran hakiki. Ditambah lagi, tidak adanya perhatian yang besar untuk mempelajarinya dengan sepenuh hati. Padahal, Allah ﷻ telah memudahkan ilmu melalui Al-Qur’an dan sunah Nabi-Nya ﷺ untuk terus dipelajari.
Allah ﷻ berfirman:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا ٱلْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Al Qamar 54:17).
Nabi ﷺ bersabda:
الحلال بيّن، والحرام بيّن، وبينهما أمور مشتبهات
“Perkara halal itu jelas dan harampun jelas, di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar.” (HR. Bukhari & Muslim).
Orang-orang yang menyelisihi kebenaran sering kali didasari oleh kurangnya pemahamannya kepada perkara-perkara yang telah Nabi ﷺ sampaikan di dalam agama ini. Kebenaran di dalam agama ini, “sebagaimana yang disebut dalam sabda Nabi ﷺ” adalah perkara yang jelas bagi siapapun yang menginginkan kenenaran yang sejati. Ketika kebodohan itu dilestarikan di tengah manusia, maka kebenaran itupun akan hilang terabaikan dengan sendirinya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:
وكثيرا ما يضيع الحق بين الجهال الأميين
“Sering kali kebenaran itu hilang di tengah orang bodoh lagi awam.'” (As Showarif ‘Anil Haq hal:10)
Seorang yang diberikan pemahaman dalam mengenali dan melazimi kebenaran, akan dibuat keheranan dengan tersebarnya praktik kebatilan yang terkesan konyol dan di luar dugaan. Akan tetapi hal tersebut tidak disadari oelh pelakunya, sehingga mereka tetap nyaman dengan akutnya kebodohan yang dilakukan. Bahkan ada pemahaman orang-orang yang jelas penyimpangannya, justru tetap diadopsi keyakinan dan praktiknya oleh sebagian kaum muslimin yang bodoh tentang agamanya. Ditambah lagi, mereka manganggap hal tersebut kebenaran yang sebenarnya. Di antara contohnya adalah; maraknya kaum muslimin berbondong bondong mengikuti kesesatan Syiah Rafhidah baik keyakinan maupun pratik agamanya, hingga sebagian mereka menganggap Syiah itu adalah bagian dari Islam yang harus diakui keberadaannya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juga mengatakan:
إن الذي ابتدع مذهب الرافضة كان زنديقا ملحدا عدوّا لدين الإسلا و أهله، ولم يكن من أهل البدع المتأولين كالخوارج والقدرية، وإن كان قول الرافضة راج بعد ذلك على قوم فيهم إيمان لفرط جهلهم
“Sesungguhnya seorang yang memprakarsai sekte Syiah rofidhoh adalah seorang yang zindiq lagi menyimpang yang merupakan musuh agama islam dan pengikutnya. Dan sekte tersebut bukanlah bagian dari ahli bid’ah yang lain seperti Khawarij dan Qodariyah. Dan apabila Syiar Rofidhoh justru tersebar di tengah kaum mu’minin, itu dikarenakan parahnya kebodohon mereka.” (As Showarif ‘Anil Haq Hal:10)
Tidak diragukan lagi, kebodohan merupakan jalan tercepat menuju kebinasaan, karena seseorang bisa jadi merasa sedang berbuat kebaikan dengan tujuan masuk syurga. Namun, tanpa disadari, dia telah berdiri di ujung tepian neraka karena sebab kebodohannya.
Di antara konsekuensi kobodohan adalah; seseorang akan memusuhi kebenaran dan para pengikut kebenaran. Demikianlah kenyataannya, “si bodoh” tidak hanya sibuk mengklaim dirinya yang paling benar segala-galanya. Akan tetapi, juga sibuk menggencarkan perlawanan bagi orang-orang yang menyelisihi keyakinannya. Allahul musta’an.
Berkata Ibnul Qoyyim:
والأسباب المانعة من قبول الحق كثيرة جدا، فمنها الجهل به، وهذا السبب هو الغالب على أكثر النفوس، فإن من جهل شيئا عاداه، وعادى أهله (الصوارف عن الحق ص.١٠)
“Begitu banyak sebab-sebab yang dapat mencegah seseorang dari menerima kebenaran. Di antaranya adalah bodoh tentang kebenaran tersebut (tidak pernah berusaha mempelajarinya). Ini adalah sebab yang paling sering menimpa kebanyakan jiwa yang ada. Maka barang siapa yang betul-betul bodoh terhadap suatu perkara, maka dia akan membenci perkara tersebut dan memusuhi pelakunya.” (As Showarif ‘Anil Haq Hal:10)
Demikianlah kebodohan jika dibiarkan begitu saja. Lambat laun dia akan merusak pemahaman dan keyakinan pelakunya, merusak pula orang-orang yang berafiliasi dengannya. Demikian pula, kebodohan itu diibaratkan kunci yang menutup pintu-pintu kebaikan bagi seseorang, sehingga syaithon leluasa merongrong jiwa seseorang yang bodoh dengan menanamkan kesesatan yang siap dilakukan dan disebar luaskan. Maka ketika kebodohan itu telah mengakar di dalam diri, dia akan menjadi salah satu dari sekian banyak penghalang hidayah yang membinasakan dan perlu diwaspadai.
Wallahu ‘alam.
***
Dompu, 4 Rabiul Awwal 1448 H / 17 Agustus 2026 M
Penulis : Muhammad Hidayatullah, S.Psi
Artikel : Meciangi.or.id






