Sikap Mudaarah adalah sikap ramah, bijaksana dan sikap lemah lembut dalam berinteraksi dengan orang lain. Sedangkan sikap Mudaahanah adalah sikap mengorbankan prinsip agama demi menyenangkan orang lain atau dengan istilah lain yaitu sikap bermuka dua.
Mencampur adukkan dua istilah ini akan menimbulkan kerancuan dalam memahami sikap hikmah dalam berdakwah. Akibatnya, sikap hikmah dalam berdakwah justru dianggap sebagai sikap bermudah-mudahan terhadap musuh-musuh dakwah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan metode mudaarah dalam berdakwah, maka kita sebagai umatnya justru harus menggunakan cara ini juga untuk memuluskan dakwah kita di manapun, termasuk di kampung kita masing-masing, karena sikap mudaarah bukan sikap mudaahanah.
“Ibnu Batthol rahimahullah mengatakan: ‘Mudaarah adalah bagian dari akhlak orang-orang beriman, yaitu merendahkan hati kepada sesama manusia, berbicara dengan kata-kata yang lembut, serta meninggalkan sikap kasar dalam bertutur kata. Hal tersebut merupakan salah satu sebab terkuat timbulnya keharmonisan. Sebagian orang menyangka bahwa mudaarah itu sama dengan mudaahanah, maka ia telah keliru; karena mudaarah itu dianjurkan, sedangkan mudaahanah itu diharamkan. Perbedaannya adalah: mudaahanah berasal dari kata ad-dihaan, yaitu sesuatu yang menutupi bagian luar dan menyembunyikan bagian dalamnya. Para ulama menafsirkannya sebagai tindakan bergaul dengan orang fasik serta menampakkan keridhoan terhadap kemaksiatan yang dilakukannya tanpa memberikan pengingkaran kepadanya. Sedangkan mudaarah adalah sikap lembut kepada orang jahil sebagai bentuk pengajaran, sedangkam kepada orang fasik sebagai bentuk melarang perbuatan fasik tanpa bersikap kasar kepadanya, selama ia tidak terang-terangan menampakkan yang ada di dalam hatinya, dan mengingkarinya dengan kelembutan kata maupun perbuatan, terlebih lagi jika dibutuhkan upaya untuk melunakkan hatinya, dan hal-hal yang serupa dengan itu.’ Selesai.
Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata dalam bukunya Ar-Ruh (hal. 319): ‘Mudaarah adalah sifat terpuji, sedangkan mudaahanah adalah sifat tercela. Perbedaan antara keduanya yaitu: Orang yang melakukan mudaarah bersikap lembut kepada temannya agar dapat mengeluarkan kebenaran darinya atau memalingkannya dari kebatilan. Sementara orang yang melakukan mudaahanah bersikap lembut kepadanya demi menetapkannya dalam kebatilannya dan membiarkannya mengikuti hawa nafsunya. Maka, mudaarah itu milik ahli iman, sedangkan mudaahanah itu milik ahli nifak.’ Selesai. (Zagholud Da’wah wad Du’aat, hal.227).
فالدعوة إلى الله عزوجل وظيفة الأنبياء والمرسلين عليهم الصلاة والسلام، والدعاة إلى الله هم أتباع الأنبياء والرسل؛ لذا لا بد لأتباع الرسل من سلوك سبيلهم، واقتفاء نهجهم في الدعوة، فإذا احتاج الرسل والأنبياء إلى سلوك سبيل المداراة مع أعداء دعوتهم؛ فمن باب أولى أتباع الرسل في هذا الزمن، فهم بحاجة إلى مداراة خصوم الدعوة، بل وإلى مداراة إخوانهم الدعاة الذين معهم في الصف الواحد؛ ليستقيم الصف ويكون كالبنيان المرصوص
“Kebutuhan manusia secara umum, dan pengikut para rasul secara khusus, terhadap mudaarah (bersikap ramah) adalah kebutuhan yang tidak tertandingi oleh kebutuhan apa pun. Mudaarah (bermuka dua atau mengorbankan prinsip agama demi kesenangan orang lain) merupakan bagian dari akhlak orang-orang beriman yang sholih, dan menjadi salah satu sebab terkuat lahirnya keharmonisan di antara kaum muslimin, dan paling berhasil untuk menolak kejahatan musuh-musuh dakwah dari jalan dakwah.
Dakwah di jalan Allah ‘Azza wa Jalla adalah tugas para nabi dan rasul ‘alaihimus shalaatu was salaam, dan para da’i yang menyeru ke jalan Allah adalah para pengikut nabi dan rasul tersebut. Oleh karena itu, para pengikut rasul wajib menempuh jalan mereka dan mengikuti metode dakwah mereka. Jika para nabi dan rasul saja membutuhkan sikap mudaarah dalam menghadapi musuh-musuh dakwah mereka, maka para pengikut rasul di zaman ini tentu jauh lebih membutuhkannya. Mereka perlu bersikap mudaarah terhadap penentang dakwah, bahkan terhadap sesama saudara sesama da’i yang berada dalam satu barisan, agar barisan tersebut tetap kokoh dan menjadi seperti bangunan yang tersusun rapi.
فإذا كان الداعية حريصًا على نجاح دعوته، دارى المدعوين وعاملهم بما يحبون، حتى لو كان مضطرًا إلى قسر نفسه على ذلك ما دام يظن أن عاقبة الأمر إلى خير، والداعية الذي لم يدار المدعوين سوف يملونه، وينفضون من حوله، ويخسر كثيرًا في حياته الدعوية
وقد خلط بعض الدعاة بين المداراة والمداهنة، فترك المداراة خوفًا من الوقوع في المداهنة، والفارق واضح بين المداهنة والمداراة، فليس في المداراة تنازل عن شيء من الدين، ولا غض الطرف عن محرم، بعكس المداهنة، قال تعالى: «وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ» [القلم: ٩]
Jika seorang da’i bersungguh-sungguh menginginkan keberhasilan dakwahnya, ia akan bersikap mudaarah kepada orang-orang yang didakwahi dan memperlakukan mereka dengan apa yang mereka sukai, bahkan jika ia harus memaksa dirinya sendiri untuk melakukan hal itu selama ia menyakini bahwa akhir dari urusan tersebut akan membawa kebaikan. Sedangkan da’i yang tidak bersikap mudaarah kepada orang-orang yang didakwahi akan membuat mereka bosan, menjauh darinya, dan ia akan kehilangan banyak hal dalam perjalanan dakwahnya.
وقد ثبت في الصحيحين عن عائشة رضي الله عنها قالت: استأذن رجل على رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: ((ائذنوا له، بئس أخو العشيرة، أو ابن العشيرة)) فلما دخل ألان له الكلام، قلت: يا رسول الله، قلت الذي قلت، ثم ألنت له الكلام؟ قال: ((أي عائشة، إن شر الناس من تركه الناس))، أو ودعه الناس، اتقاء فحشه
Batas yang tidak boleh dilanggar oleh seorang da’i dalam menjaga perasaan orang yang didakwahi adalah kemaksiatan kepada Allah dan apa saja yang dibenci-Nya. Maka, seorang da’i mencurahkan kelembutan dan perlakuan yang baik kepada orang yang didakwahi untuk menariknya menuju hidayah serta menundukkan hatinya kepada kebenaran, tanpa terjerumus dalam sikap mudaahanah.
Dengan demikian, mudaarah maknanya adalah: Menampakkan kebaikan saat menghadapi keburukan; demi memancing timbulnya kebaikan dengan tetap menjaga keselamatan agama.
وقال الحسن البصري رحمه الله: التودد إلى الناس نصف العقل
Di antara contoh mudaarah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya adalah: Sikap mudaarah beliau terhadap penduduk Makkah, ketika beliau bertutur kata dengan lemah lembut kepada mereka dan memaafkan mereka tanpa mengungkit-ungkit jasa atau kesalahan mereka, meskipun beliau telah mengalami perlakuan buruk dari mereka. Beliau juga bersikap lembut kepada orang-orang munafik di Madinah, dan masih banyak lagi contoh lainnya.
Dengan mengikuti jalan para nabi itulah para sahabat dan generasi salafus sholih berjalan. Dengan sikap mudaarah, mereka berhasil menolak banyak keburukan, mencapai tujuan mereka dengan usaha yang minimal, dan menghindarkan diri dari beban gangguan musuh, menjaga diri dari makar mereka, serta terbebas dari penentangan mereka.
Sahabat Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: ‘Sesungguhnya kami tersenyum di hadapan suatu kaum, padahal hati kami melaknat mereka.’
Ibnu Muflih rahimahullah mengomentari: ‘Perkataan Abu ad-Darda’ ini bukanlah bentuk persetujuan terhadap hal yang diharamkan dan bukan pula sikap mudaahanah dalam ucapan, melainkan sekadar wajah yang berseri-seri secara khusus demi menjaga maslahat.’ Selesai.
فجامل الناس وأجمل ما استطعت وكن أصم أبكم أعمى ذا تقيات
serta jadilah orang yang tuli, bisu, dan buta yang penuh dengan ketakwaan.’
karena sesungguhnya engkau berada di dunia yang memerlukan sikap mudaarah.
Barangsiapa bersikap mudaarah, ia akan selamat; dan barangsiapa tidak bersikap mudaarah, ia akan segera melihat dirinya menjadi teman akrab bagi penyesalan.’
ومن لم يصانع في أمور كثيرة يضرس بأنياب ويوطأ بمنسم
niscaya ia akan dikunyah dengan taring-taring dan diinjak-injak dengan kuku binatang.” (Zagholud Da’wah wad Du’aat, hal,227-230).
Bersambung…
***
Grand Sahara – Purwodadi – Sidayu – Gresik, 12 Rabiul Akhir 1448 H / 24 September 2026 M
Penulis : Abu Dawud ad-Dumbuwiyy






