Sabtu, September 19, 2026
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
NEWSLETTER
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
No Result
View All Result
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
No Result
View All Result

Hikmah dalam Berdakwah (seri 2)

Abu Dawud ad-Dumbuwiyy by Abu Dawud ad-Dumbuwiyy
19 September 2026
in ADAB DAN AKHLAQ
Reading Time: 9 mins read
0
Home ADAB DAN AKHLAQ

6. Dakwah Kita Belum Seberapa

RELATED POST

Hikmah dalam Berdakwah (Seri 1)

Berbakti Kepada Ayah

Kondisi di medan dakwah kita belum ada apa-apanya, hanya riak air di dalam sebuah kolam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah ditimpa ujian dahsyat; di usir dari kampung halamannya, ancaman bunuh, dicaci-maki bahkan pernah dilempari kaumnya dengan batu hingga berdarah. Sambil mengusap darah di wajahnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a:

((اللهم اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون))

“Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Al-Bukhari dalam Syarh Tsalaasah al-Ushuul, hal.24).

Di Thoif, beliau mengalami penolakan oleh penduduknya. Padang pasir yang membawa hembusan angin panas di siang hari dan dingin di malam hari, menambah beratnya medan dakwah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersedih sebagai manusia biasa. Tapi kesedihan tidak boleh larut, dakwah harus tetap berlanjut. Dalam kesedihannya, Allah mengutus Malaikat penjaga gunung untuk menghibur beliau dan menawarkan jika beliau ingin, kedua Malaikat itu akan menimpakan gunung kepada penduduk Thiof.

Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan :

قالت للنبي عليه هل أتى عليك يوم كان أشد من يوم أحد؟ قال : ((لقد لقيت من قومك ما لقيت وكان أشد ما لقيت منهم يوم العقبة إذ عرضت نفسي على ابن عبد ياليل بن عبد كلال فلم يجبني إلى ما أردت فانطلقت وأنا مهموم على وجهي فلم أستفق إلا وأنا بقرن الثعالب فرفعت رأسي فإذا أنا بسحابة قد أظلتني فنظرت فاذا فيها جبريل فناداني فقال إن الله قد سمع قول قومك لك وما ردوا عليك وقد بعث إليك ملك الجبال لتامره بما شئت فيهم فناداني ملك الجبال فسلم علي ثم قال يا محمد ذلك فيما شئت إن شئت أن أطبق عليهم الاخشبين فقال النبي عليه بل أرجو أن يخرج الله من أصلابهم من يعبد الله وحده لا يشرك به شيئا))

“Aisyah berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Apakah pernah datang kepadamu suatu hari yang lebih berat daripada hari Uhud?” Beliau bersabda : ((Sungguh aku telah mengalami dari kaummu apa yang telah aku alami, dan yang paling berat yang aku alami dari mereka adalah pada hari ‘Aqabah, ketika aku menawarkan diriku kepada Ibnu ‘Abdi Yalil bin ‘Abdi Kulal, namun ia tidak memenuhi ajakanku kepada apa yang aku inginkan. Maka aku pun pergi dalam keadaan bersedih, dan aku tidak sadar kecuali ketika aku berada di Qarn ats-Tsa‘alib. Lalu aku mengangkat kepalaku, ternyata ada awan yang telah menaungiku. Aku melihat, ternyata di dalamnya ada Jibril. Ia memanggilku dan berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan apa yang mereka tolak darimu. Dan Dia telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung agar engkau memerintahkannya sesuai kehendakmu terhadap mereka.’ Maka malaikat gunung itu memanggilku, memberi salam kepadaku, kemudian berkata : ‘Wahai Muhammad, itu terserah apa yang engkau kehendaki. Jika engkau mau, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung.’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ((Bahkan aku berharap agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun)).” (Shahiihul Atsar wa Jamiilul ‘Ibar, hal. 133)

Tokoh-tokoh penentang dakwah kita di kampung khususnya di sini, tidak melakukan intimidasi secara fisik seperti yang terjadi pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hanya sikap penentangan karena merasa apa yang kita bawa adalah perkara baru yang menyelisihi adat kebiasaan mereka. Sehingga penentangan da’wahnya hanya berkutat pada permasalahn kenapa salafi tidak ikut dzikir berjama’ah, kenapa tidak ikut doa bersama setelah sholat, kenapa tidak ikut berjabat tangan setelah sholat, kenapa tidak melakukan qunut subuh, dll. Akibatnya mereka membalas dengan sikap seperti tidak mengizinkan masjid digunakan untuk kegiatan belajar mengajar, kegiatan kajian ilmiyyah, dll. Artinya, tidak ada intimidasi fisik, apalagi mengerahkan massa untuk membubarkan kajian, karena masyarakatnya masih bisa menahan diri.

Berbeda kampung memang berbeda ritual keagamaannya meskipun satu daerah atau satu tanah kelahiran. Di Dompu, secara khusus di kampung tempat saya tinggal, ritual yang paling banyak dilakukan adalah perkara-perkara bid’ah dalam beragama, bukan perkara-perkara kesyirikan seperti menyembah kubur, tawaf di kubur, berdo’a kepada selain Allah, dll. Memang kesyirikan pasti ada, tapi yang tampak setiap hari adalah ritual-ritual bid’ah yang mereka lakukan seperti dzikir berjam’ah, dll. Adapun kesyirikan yang mereka lakukan, lebih banyak ketika mereka sedang menghadapi masalah yang pelik, seperti datang ke dukun, ke tempat-tempat keramat untuk penyembuhan yang mereka sebut sebagai prafu, atau menyembelih binatang untuk rumah baru dan menumpahkan darahnya ke dasar rumah, meletakkan sesajen di pojok-pojok lahan pertanian sebagai persembahan, dan itu terjadi secara pribadi, bukan perayaan tahunan, bukan kumpul-kumpul satu kampung melakukan acara-acara kesyirikan sebagaimana yang kita saksikan di kota-kota besar yang banyak kuburan keramatnya, namun kesyirikannya murni secara individu, tidak terekspose, dan seringnya terjadi ketika kondisi-kondisi sulit. Artinya, kesyirikan itu tetap ada tapi pada momen-momen tertentu, tidak dirayakan secara massal, apalagi dimeriahkan oleh semua elemen masyarakat dengan karnaval, kecuali festival Tari Ou Balumba yang baru beberapa bulan lalu terjadi di pantai Lakey untuk kalangan pegawai daerah. Namun acara ini sungguh sangat asing bagi masyarakat kami secara umum. Sehingga kondisi masyarakat yang seperti ini justru lebih mudah untuk di dakwahi ketimbang yang fanatik buta kepada kuburan-kuburan keramat. Dan tugas para da’i adalah untuk mendakwahkan dakwah tauhid dan membersihkan aqidah umat dari kesyirikan sekecil apapun. dengan hikmah.

Karena itu, kita harus membedakan cara menyikapi orang-orang awam dengan tokoh-tokoh penyebar kesyirikan dan kebid’ahan serta kesesatan yang memang sengaja menentang dan menyebarkan kesyirikannya dengan mengajak umat untuk menyembah kuburan, mengkultuskan tokoh-tokoh tertentu, atau menyikapi kelompok-kelompok menyimpang yang sengaja mengajak umat untuk melakukan kebid’ahan, menyebarkan fitnah dan provokasi, karena mereka ini memiliki syubhat dan kebencian, dan syubhat dan kebencian itu tidak akan hilang hanya dengan sekedar menziarahinya, membawakan hadiah untuknya, berdialog dengannya, tapi berdebat dengan mereka dengan cara yang baik.

Adapun dengan tokoh-tokoh penentang dakwah di kampung, ketika kita berbicara dengan mereka di serambi masjid, kita masih dipanggil dengan panggilan, nak, karena memang sejatinya mereka adalah tetangga kita, karib kerabat kita, paman-paman kita, bahkan bapak-bapak kita sendiri dan guru-guru ngaji kita waktu kita masih kanak-kanak. Maka menyikapinya harus bijaksana, melakukan langkah-langkah pendekatan, dan berdialog dengan mereka dengan cara yang baik.

Lalu bagaimana jika seandainya para sesepuh penentang dakwah di kampung tidak bisa lunak dengan cara menziarahinya, berdialog dengannya, membawakan hadiah untuknya, bahkan justru semakin besar permusuhannya, penentangannta terhadap dakwah serta menyebarkan fitnah dan memprovokasi masyarakat? Maka dahulukan sikap tenang, mencari solusi dengan cara misalnya mendatangi tokoh-tokoh pemuda yang berpengaruh yang didengar ucapannya di tengah masyarakat sebagaimana yang pernah kami lakukan ketika para tokoh penentang dakwah terprovokasi, lalu mendatangi para sesepuh tersebut dengan tokoh pemuda dan berbicara dengan mereka dengan bijak dan bila perlu berdebat, kita berdebat dengannya dengan cara yang baik.

Allah Ta’ala berfirman:

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَـٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan debatlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl : 125)

Ibnu Katsir mengatakan:

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَـٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
 

يقول تعالى آمرا رسوله محمدا صلى الله عليه وسلم أن يدعو الخلق إلى الله بالحكمة. قال ابن جرير: وهو ما أنزله عليه من الكتاب والسنة والموعظة الحسنة، أي بما فيه من الزواجر والوقائع بالناس ذكرهم بها ليحذروا بأس الله تعالى، وقوله: «وَجَـٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ»، أي من احتاج منهم إلى مناظرة وجدال، فليكن بالوجه الحسن برفق ولين وحسن خطاب كقوله تعالى: «وَلَا تُجَـٰدِلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ إِلَّا ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنْهُمْ» الآية، فأمره تعالى بلين الجانب، كما أمر به موسى وهارون عليهما السلام حين بعثهما إلى فرعون في قوله: «فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًۭا لَّيِّنًۭا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ». وقوله: «إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ» الآية، أي قد علم الشقي منهم والسعيد، وكتب ذلك عنده وفرغ منه فادعهم إلى الله، ولا تذهب نفسك على من ضل منهم حسرات، فإنه ليس عليك هداهم إنما أنت نذير، عليك البلاغ وعلينا الحساب، «إِنَّكَ لَا تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ»، «لَّيْسَ عَلَيْكَ هُدَىٰهُمْ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِى مَن يَشَآءُ

Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang ia (cara itu) lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)

Allah Ta’ala berfirman seraya memerintahkan rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar menyeru makhluk kepada Allah dengan hikmah. Ibnu Jarir berkata: “Yaitu apa yang Allah turunkan kepadanya berupa al-kitab dan sunnah.” «Dan pengajaran yang baik», yaitu dengan apa yang ada di dalamnya berupa larangan-larangan dan peristiwa-peristiwa (umat terdahulu) yang terjadi pada manusia, yang beliau mengingatkan mereka dengannya agar mereka berhati-hati terhadap adzab Allah Ta’ala.

Dan firman-Nya (yang artinya): «Dan debatlah mereka dengan cara yang ia lebih baik», maksudnya: siapa saja di antara mereka yang membutuhkan diskusi dan perdebatan, maka hendaklah hal itu terjadi dengan cara yang baik, lembut, keramahan, dan tutur kata yang baik, sebagaimana firman-Nya Ta’ala (yang artinya): «Dan janganlah kalian mendebat ahli kitab melainkan dengan cara yang ia lebih baik, kecuali orang-orang yang dzalim di antara mereka», hingga akhir ayat. Maka Allah Ta’ala memerintahkannya untuk bersikap lemah lembut, sebagaimana Dia telah memerintahkan hal itu kepada Musa dan Harun ‘alaihimas salam ketika Dia mengutus keduanya kepada Firaun dalam firman-Nya (yang artinya): «Maka berkatalah kalian berdua kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut».

 

Dan firman-Nya (yang artinya): «Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya», hingga akhir ayat, maksudnya: Allah benar-benar telah mengetahui siapa yang celaka dan siapa yang bahagia di antara mereka, dan Dia telah menetapkan hal tersebut di sisi-Nya serta telah menyelesaikannya. Maka serulah mereka kepada Allah, dan janganlah jiwamu terbawa karena mengasihaninya atas orang yang tersesat di antara mereka dalam keadaan penuh penyesalan, karena sesungguhnya bukanlah tugasmu memberikan hidayah (taufik) kepada mereka, hanya saja engkau hanyalah seorang pemberi peringatan. Atasmu kewajiban menyampaikan dan atas Kami kewajiban menghisab. «Sesungguhnya engkau tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai», «Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki».” (Mukhtashor Tafsiir Ibni Katsiir, 2/352).

7. Kita Menghadapi Orang-Orang Jahil yang di Tokohkan

Menyebarnya buku-buku tarekat sufiyyah menimbulkan syubhat yang menyesatkan orang-orang tua kita di kampung. Mereka menganggap ilmu kita hanya kulitnya saja, sedangkan ilmu mereka adalah intinya. Sehingga ada di antara mereka yang tidak sholat, ada yang sholat tapi beramal bid’ah dengan dalil nenek moyang. Selain itu buku-buku sufi yang mereka baca terkadang memberikan warna yang berbeda dalam amal ibadah mereka. Mereka mengatakan, “Buku kami ini tidak seperti buku kalian yang kertasnya putih bersih, buku-buku kami warnanya kuning dan tidak dijumpai yang menjualnya di pasaran.”

Inti dari yang ingin mereka sampaikan adalah, buku kalian itu buku baru, berbicara tentang kulit-kulitnya Islam saja, sedangkan buku kami adalah buku klasik yang berbicara tentang intisari agama yaitu ma’rifatullah versi mereka.

Jika kita menjelaskan tentang makna syahadat Laa ilaaha illallah, mereka hanya tersenyum dan mengatakan, “Kalian levelnya masih syariat. Yang kalian bahas itu baru kulitnya.” Bagaimana cara berdialog dengan mereka? Kuncinya ada pada pembahasan huruf-huruf yang selalu mereka bahas. Huruf Alif itu apa, huruf Ra itu apa, huruf Lam itu apa, huruf la nafiyatu liljinsi pada kalimat La ilaaha Illallah itu apa, semua ada filosofinya dalam pandangan mereka. Dan di sinilah ilmu nahwu itu bermanfaat dalam berdialog dengan mereka, karena akan membedah semua jenis huruf yang membuat mereka akan terpesona jika kita menjabarkan semua jenis huruf tersebut secara detail bahkan saya menjumpai banyak dari mereka yang mendapatkan hidayah salaf dengan dialog membedah jenis-jenis huruf ini.

Dari obrolan singkat seperti ini, mereka mulai mengerti ternyata kita punya level dalam pandangan mereka, karena hobi mereka adalah mengkaji huruf-huruf hijaiyah. Jadi tidak perlu bawakan dalil-dalil panjang, cukup jabarkan semua jenis-jenis huruf-huruf dalam pelajaran bahasa arab atau jelaskan makna Laa Ilaaha Ilallah secara kaidah nahwu, insya Allah mereka akan taubat dari keyakinan lamanya sebagaimana pengalaman pribadi saya ketika berdialog santai dengan mereka. Justru ketika saya membawakan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadits, mereka menepuk lantai masjid sambil mengatakan, “Hei… kami dalam beragama ga make dalil, karena dalil itu adalah ucapan ulama! Kami hanya kami hanya menerima Al-Qur’an dan hadits saja bukan dalil.” Kira-kira bagaimana sikap kita setelah mengetahui ini, apakah baro’ total?

Kembali pada pembahasan diatas. Karena itu menghadapi tokoh-tokoh penentang dakwah di kampung tidak hanya butuh ilmu, tapi juga butuh pendekatan, butuh dialog tanpa menggurui, butuh jadi pendengar sesaat, jangan langsung tancap gas, ini bid’ah, ini syirik, ini menyimpang, ini kufur, ini maksiat, karena kalimat-kalimat itu seakan serangan bertubi-tubi yang akan membuat mereka naik darah. Gunakan kalimat-kalimat yang lebih bijak seperti, “Ini tidak sunnah, Pak Aji”, atau yang semisal dengan itu. Padahal arti ucapan di atas adalah bid’ah itu sendiri secara makna.

Karena demikina, memilih kalimat yang bijak sangat mempengaruhi dakwah di tengah masyarakat, karena menghadapi tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh di lingkaran masjid dan masyarakat, butuh trik mumpuni. Mereka ditokohkan bukan karena mereka ahli dalam agama, tapi salah satu dari beberapa hal (1) karena statusnya sebagai pak haji dan imam sholat, (2) karena sering memimpin acara-acara adat dan kematian serta acara-acara bid’ah di tengah masyarakat, (3) karena umurnya yang sudah tua, (4) karena menjadi pengurus badan kesejahteraan masjid (BKM), (5) karena pendidikan dan status sosial.

Dan yang paling ditokohkan adalah yang memiliki gelar haji, sebagai imam sholat, umur yang cukup tua, dan sebagai rujukan dan dalam acara-acara adat, kematian, dan kegiatan bid’ah di tengah masyarakat. Untuk beberapa tahun belakangan ini, pendidikan sudah mulai menjadi tolak ukur menjadi tokoh di lingkaran masjid.

Hal-hal diatas bisa ditambahkan sesuai realita di kampung masing-masing. Inti pembahasan kita adalah bapak-bapak sesepuh kita di kampung, para tokoh-tokoh agama, para imam-imam di masjid kampung, mereka aslinya jahil, bukan Ustadz, bukan Kiyai, bukan Gus, tidak bisa baca kitab, tapi murni orang-orang awam yang ditokohkan karena sebab-sebab di atas. Maka sikapi tokoh-tokoh seperti ini dengan bijak, jangan samakan dengan menyikapi Khowarij, Jahmiyah, Mu’tazilah, kelompok-kelompok dakwah yang menyesilihi sunnah, firqoh-firqoh menyimpang di Indonesia, tapi sikapi dengan bijaksana, langkah pendekatan, sikap yang lembut, hikmah. Bahkan bila perlu, gunakan cara-cara khusus sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika di Makkah, bukan di baro’ secara total!

Bersambung…

***

Grand Sahara – Purwodadi – Sidayu – Gresik, 7 Rabiul Akhir 1448 H / 19 September 2026 M

Penulis : Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Artikel : Meciangi.or.id 

ShareTweetPin
Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Penuntut ilmu dengan nama Erwin Gunawan, S.T. Pernah belajar kepada para asatidzah di Yogyakarta, diantaranya Ustadz Ahmad Halim, Ustadz Sa'id Abu Ukkasyah, Ustadz Ahmad MZ, Ustadz Ari Wahyudi, Ustadz Abu Isa, Ustadz Aris Munandar dan Ustadz Afifi Abdul Wadud dan para asatidzah lainnya. Alumni Ma'had Aly Al Furqon Al Islamiy Srowo Sidayu Gresik. Alumni S1 Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Related Posts

Hikmah dalam Berdakwah (Seri 1)
ADAB DAN AKHLAQ

Hikmah dalam Berdakwah (Seri 1)

19 September 2026
Berbakti Kepada Ayah
ADAB DAN AKHLAQ

Berbakti Kepada Ayah

15 Juni 2026
Mulai dari yang Ringan
ADAB DAN AKHLAQ

Mulai dari yang Ringan

20 Agustus 2026
Empat Karakter Da’i Sejati (seri 4)
ADAB DAN AKHLAQ

Empat Karakter Da’i Sejati (seri 4)

8 Mei 2026
Empat Karakter Da’i Sejati (seri 3)
ADAB DAN AKHLAQ

Empat Karakter Da’i Sejati (seri 3)

11 April 2026
Empat Karakter Da’i Sejati (seri 2)
ADAB DAN AKHLAQ

Empat Karakter Da’i Sejati (seri 2)

8 April 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TENTANG KAMI

Website meciangi.or.id adalah situs dakwah Islam yang dikelola oleh Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi. Diantara kegiatan utama dakwah kami adalah Ma'had Meci Angi. Ma'had Meci Angi merupakan tempat menimba ilmu para penuntut ilmu yang berpijak pada pemahaman shalafus sholeh. Diantara kegiatan utamanya adalah pembelajaran bahasa arab seperti nahwu, shorof, belajar baca kitab, mengadakan daurah syar'iyyah, menerbitkan buletin serta kegiatan kegiatan dakwah lainnya.

Alamat sekretariat Website: Jln. Lintas Sumbawa, Gg. Potlot no.14. Lingkungan Rasa Bou - Kelurahan Kandai Dua - Kecamatan Woja - Kabupaten Dompu - NTB 84218.

Follow us

Terbaru

  • Hikmah dalam Berdakwah (seri 2)
  • Hikmah dalam Berdakwah (Seri 1)
  • Aku Ingin Terus Semangat dalam Ibadah
  • Bolehnya Sholat di Belakang Pemimpin yang Dzolim

Kategori

  • ADAB DAN AKHLAQ
  • AL-QUR'AN
  • AQIDAH
  • BAHASA ARAB
  • BANTAHAN
  • BIOGRAFI
  • BULETIN MECI ANGI
  • E-BOOK
  • FATWA ULAMA
  • FIQH
  • KHUTBAH JUM'AT
  • KITAB ULAMA
  • MANHAJ
  • MUTIARA SALAF
  • QOIDAH FIQH
  • SIROH
  • SYAIR
  • TAFSIR
  • TANYA JAWAB
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • USHUL FIQH
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
  • FIQH DAN MUAMALAH
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
  • LAINNYA

© 2024 by mantapp

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI

© 2024 by mantapp