Kamis, Oktober 22, 2026
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
NEWSLETTER
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
No Result
View All Result
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
No Result
View All Result

Hikmah dalam Berdakwah (Seri 6)

Abu Dawud ad-Dumbuwiyy by Abu Dawud ad-Dumbuwiyy
8 Oktober 2026
in ADAB DAN AKHLAQ
Reading Time: 11 mins read
0
Home ADAB DAN AKHLAQ

11. Cara Berpakaian

RELATED POST

Hikmah dalam Berdakwah (Seri 5)

Hikmah dalam Berdakwah (Seri 4)

Style seorang ikhwan salafi sangat mudah untuk dikenali, (1) berbaju koko, (2) memakai gamis, (3) memakai jubah, (4) berjenggot, (5) bercelana cingkrang, (6) berpenampilan rapi, (7) semangat menghidupkan sunnah, (8) tidak ikut dzikir berjamaah, (9) tidak ikut do’a berjama’ah, (10) tidak ikut salaman berjama’ah setelah sholat, (11) jarang bersosialisasi dengan masyarakat, (12) menggunakan cadar bagi wanita.

Masyarakat awam memang sangat anti dengan segala sikap yang menyelisihi kebiasaan mereka, terutama dalam hal ibadah mereka, sehingga muncullah banyak polemik-polemik dikalangan para ikhwah seperti pengusiran oleh jama’ah masjid, pemboikotan, pelarangan sholat di masjid, dan lain sebagainya.

Polemik para ikhwah di setiap kampung berbeda-beda. Yang jelas, dimanapun mereka berada, mereka selalu menjadi sorotan masyarakat. Karena itu dalam rangka hikmah dalam berdakwah, kita boleh-boleh saja mencocoki masyarakat dalam hal yang tidak menyelisihi syariat Islam seperti dalam masalah pakaian.

Pakaian masyarakat kita pada umumnya menggunakan sarung, baju koko, songkok nasional warna hitam, dll, dan itu bisa dilihat ketika mereka menghadiri sholat jum’at atau sholat berjama’ah di masjid setiap hari. Dan termasuk hikmah dalam berdawkah adalah beradaptasi dengan pakaian mereka selama tidak menyelisihi syariat.

Sebuah qaidah mengatakan :

العادة محكمة

“Adat kebiasaan itu bisa dijadikan sebagai sandaran hukum.”

Penerapan qaidah ini cukup luas, bisa dalam menentukan jarak safar, batasan mahar, batasan haid, nifas,  termasuk juga dalam masalah pakaian di tengah masyarakat.

Qaidah lain juga mengatakan :

الأصل في العادات الإباحة إلا ما ورد عن الشارع تحريمه

“Hukum asal adat istiadat itu boleh, kecuali apa yang ada pengharamannya oleh pembuat syariat (Allah dan Rasul-Nya).”

Karena itu, cara berpakaian selama tidak menyelisihi syariat boleh digunakan sebagai bentuk hikmah dalam berdakwah. Hal itu justru sangat besar peranannya dalam menentukan keberlangsungan sebuah dakwah. Akan tetapi jika masyarakat kita memang sudah terbiasa melihat orang-orang yang berpenampilan menggunakan jubahan, imamahan, gamisan, maka menggunakannya di tengah masyarakat tidak mengapa.

Cara pandang masyarakat khususnya dalam berpakaian itu memang sangat jeli, apalagi masyarakat yang hidup di kampung dan jarang mengunjungi kota-kota besar. Seandainya kita ingin menerapkan pendekatan ke masyarakat khususnya jama’ah masjid di kampung dengan hikmah dalam berdakwah, kita bisa mencocoki pakaian masyarakat selama tidak melanggar syariat. Sarungan misalnya, baju kokoan, songkokkan, baju batikan, sehingga dakwah tetap berjalan dengan baik dan hubungan dengan masyarakat dan jamaah masjid pun tetap terjaga tanpa mengorbankan aqidah dan prinsip dasar agama kita.

Tapi sunnatullah yang selalu berjalan, ada saja titik dan celah yang dijadikan senjata oleh masyarakat atau jama’ah masjid untuk memusuhi atau mencari kesalahan kita. Terkadang dengan beberapa tindakan sebagian ikhwan yang mungkin baru belajar dan mengaji salaf. Seperti contoh,  di kampung tetangga ada kegiatan pengajian yang baru dirintis oleh ikhwah lain. Dengan niat meramaikan majelis ta’lim, kita pun datang berduyun-duyun ke masjid tersebut. 

Terkadang sebagian ikhwan yang datang ke majelis pengajian sudah mendekati waktu iqomat. Masuk melalui pintu belakang lalu maju ke shof paling depan melewati banyak orang, menyalakan kipas, lalu takbir. Semua mata memandangnya, semua jamaah melihatnya. Jubah panjang warna putihnya menjadi terasa mencolok di antara para jama’ah, sedangkan imamah yang dikenakannya di atas kepala menjuntai dan melambai tertiup angin. Para sesepuh memandangnya dengan sinis, sebagian saling berbisik-bisik, Sebagian ikhwan lain maju juga ke shof depan pojok dan berdiri mantap di samping orang-orang tua yang mungkin sesepuh dan tokoh-tokoh agama di kampung tersebut. Ia berdiri memeluk dadanya. La salaam wa la kalaam, atau mungkin ia sedang khusuknya menanti iqomat.

Mungkin dalam pandangan kita, sikap di atas bukan sikap yang salah. Namun dalam tatakrama daerah tertentu, bisa jadi hal itu adalah sikap tidak sopan di wilayah orang lain. Mungkin itu adalah sesuatu yang remeh dalam pandangan kita, tapi bisa jadi itulah sebab utama kenapa sebagian pengajian kita di usir secara halus dari masjid-masjid tertentu, terutama di wilayah yang masih sangat asing dengan pakaian-apakain seperti di atas. 

Dari permaslahan-permasalahan yang seperti ini, dapat kita mengambil faedah bahwa; (1) Terkadang pakaian yang sudah biasa kita gunakan di kalangan sesama kita, pada satu keadaan bisa jadi hal itu sangat asing dalam pandangan masyarakat kampung yang masih awam di tempat kita, khususnya di tempat saya di awal-awal saya hijrah dahulu. Maka mencocoki pakaian masyarakat setempat selama tidak melanggar syariat, itu lebih hikmah dalam berdakwah. (2) Menghormati yang lebih tua sangat dianjurkan dalam agama kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((ليس منا من لم يرحم صغيرنا ، ويوقر كبيرنا))

“Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi yang kecil di antara kami dan tidak menghormati yang tua di antara kami.” (HR. Al-Bukhari dalam Adabul Mufrod, no.363)

Dan bentuk menghormati yang lebih tua adalah menyapanya. Jika dalam kondisi sedang menunggu iqomat seperti di atas dengan menjabat tangannya sembari tersenyum. Jika sedang berpapasan di jalan, ucapkan salam lebih dahulu dan semisal itu, karena hati manusia sangat mudah luluh dengan kebaikan dan pemuliaan walaupun terlihat sepele. Dan orang-orang yang usianya sudah tua, mereka lebih membutuhkan rasa hormat dari kita yang lebih muda daripada selainnya.

12. Kaku dan Keras bukan Ciri Dakwah Salaf

Sikap kaku adalah lawan dari sikap luwes, sedangkan sikap keras lawan dari sikap lemah lembut. Sikap kaku dan keras banyak memberikan efek yang buruk dalam sebuah dakwah.

Kita tidak sedang berbicara tentang mudaarah sebagaimana yang telah berlalu pembahasannya, karena mudaarah lebih luas cakupannya. Ia bukan sekedar berbicara lembut, tetapi juga bersikap luwes kepada seseorang demi maslahat yang dibenarkan oleh syariat, sambil tetap mempertahankan kebenaran. tidak kasar, tidak mencaci, tidak mengejek, mengolok-olok, membentak, dan memilih kata-kata yang baik dan bijak. Dan inilah keadaan Nabi Musa dan Harun ‘alaihimassalam ketika berdakwah kepada raja Fir’aun yang dzolim bahkan mengaku tuhan. Allah Ta’ala firman:

 «فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًۭا لَّيِّنًۭا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ»

Artinya : “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Taha : 44)

Dalam mendakwahi manusia sekelas Fir’aun, Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun ‘alaihimassalam untuk tetap berbicara lembut. Allah tahu Fir’aun tidak akan beriman, tapi Allah tetap memerintahkan kedua Nabinya yang mulia ‘alaihimas salam untuk tetap berkata lembut, tidak mencela, mencaci, membentak, dll.

Ibnu Katsir mengatakan:

«فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًۭا لَّيِّنًۭا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ» هذه الآية فيها عبرة عظيمة، وهو أن فرعون في غاية العتو والاستكبار، وموسى صفوة الله من خلقه إذ ذاك، ومع هذا أمر أن لا يخاطب فرعون إلا بالملاطفة واللين

وعن الحسن البصري «فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًۭا لَّيِّنًۭا» أعذرا إليه، قولا له: إن لك ربا ولك معادا، وإن بين يديك جنة ونارا

والحاصل من أقوالهم أن دعوتهما له تكون بكلام رقيق لين سهل رفيق، ليكون أوقع في النفوس وأبلغ وأنجع، كما قال تعالى:«ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَـٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ»، وقوله «لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ» أي لعله يرجع عما هو فيه من الضلال والهلكة، أو يخشى – أي يوجد طاعة من خشية ربه كما قال تعالى: لمن أراد أن يذكر أو يخشى فالتذكر الرجوع عن المحذور، والخشية تحصيل الطاعة

 وقال الحسن البصري: لعله يتذكر أو يخشى يقول: لا تقل أنت يا موسى وأخوك هارون أهلكه قبل أن أعذر إليه

«Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut». Di dalam ayat ini terdapat pelajaran yang amat besar, yaitu: bahwasanya Fir’aun berada di puncak kesombongan dan keangkuhan yang luar biasa, sedangkan Musa adalah hamba pilihan Allah dari antara makhluk-Nya pada masa itu. Meskipun demikian, Musa tetap diperintahkan agar tidak berbicara kepada Fir’aun melainkan dengan cara yang lemah-lembut dan penuh kelembutan.

Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri mengenai ayat (yang artinya): «Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut», beliau berkata: “Berikanlah udzur kepadanya. Katakanlah kepadanya: ‘Sesungguhnya engkau memiliki Tuhan, engkau memiliki tempat kembali, dan sesungguhnya di hadapanmu ada surga dan neraka.'”

Kesimpulan dari pendapat para ulama tafsir adalah bahwa dakwah mereka berdua (Musa dan Harun) kepada Fir’aun haruslah menggunakan ucapan yang halus, lembut, mudah, dan santun; agar ucapan tersebut lebih berkesan di dalam jiwa, lebih mendalam, dan lebih berhasil. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya): «Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik». 

Dan firman-Nya (yang artinya): «Mudah-mudahan dia sadar atau takut», maknanya: mudah-mudahan dia kembali dari kesesatan dan kebinasaan yang sedang ia jalani, atau dia menjadi takut. Artinya: memunculkan ketaatan karena rasa takutnya kepada Tuhannya, sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya): «Bagi orang yang ingin sadar atau ingin takut» Maka, At-Tadzakkur adalah kembali dari hal yang membahayakan, sedangkan al-Khasyah (rasa takut) adalah mewujudkan ketaatan.

Al-Hasan Al-Bashri berkata tentang makna «Mudah-mudahan dia sadar atau takut»: “Allah berfirman (yang artinya): Janganlah engkau mengatakan wahai Musa dan saudaramu Harun, ‘Binasakanlah dia (Fir’aun)’ sebelum Aku memberikan uzur kepadanya.” (Mukhtashor Tafsiir Ibni Katsiir, 2/482)

Pada hari ini, yang kita dakwahi di kampung bukan Fir’aun, tapi orang-orang awam, tetangga kita, guru-guru kita, bahkan orang tua kita. Tapi realitanya, sebagian kita sangat keras dan kasar ketika mendapati hal-hal yang tidak sejalan dengan mereka. Bahkan dengan santainya mengatakan dengan nada keras ini bid’ah, ini syirik, itu mungkar, ini haram. Sikap keras seperti ini justru akan menimbulkan polemik dalam dakwah. Semoga Allah membukan hati mereka untuk menerima kebenaran dakwah salaf ini dengan ucapan kita yang lembut dan santun.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((ما كان الرفق في شيء الا زانه ولا كان الفحش في شيء قط الا شانه))

“Tidaklah kelembutan berada pada sesuatu kecuali ia akan menghiasinya, dan tidaklah kekasaran berada pada sesuatu kecuali ia akan merusaknya.” (HR. Ibnu Hibban, no.551).

Kita melihat dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, asasnya adalah ucapan lemah lembut. Seandainya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap keras, manusia akan lari darinya. Allah Ta’ala juga berfirman :

«فَبِمَا رَحْمَةٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ»

Artinya : “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran 158).

Jika dakwah kita sulit diterima masyarakat, bukan semata-mata karena mereka membenci dakwah ini, tapi bisa jadi cara kita dalam berdakwah terlalu kaku dan keras, ceroboh mungkin atau terlalu tergesa-gesa dalam menyampaikan kebenaran.

13. Apa Itu Hikmah dalam Berdakwah

Teringat sebuah kisah di awal-awal saya mendapatkan hidayah. Ikhwan yang mendakwahi saya rahimahullah adalah teman kos saya. Ia tidak pernah mendakwahi saya ketika baru pulang kuliah. Rasa letih, keringat, dan kepanasan membuat dakwah model apapun akan sulit di terima, dan sepertinya ia sangat mengerti akan hal itu. Yang ia lakukan hanya satu, membelikan saya es teh, lalu melanjutkan membaca majalah Al-Furqon yang ia tumpuk di kamar kos saya.

Begitu yang ia lakukan selama 3 bulan, jika bukan es teh, ia akan membelikan saya es jeruk. Jika ia sempat, ia akan memasakkan nasi dan membelikan lauknya di warung. Namun ketika kondisi saya sedang fresh, setelah mandi, sedang ceria atau ketika hendak makan bareng di warung Padang Jawa di depan kos, baru ia membahas masalah-masalah agama dengan gaya santai dan tidak terkesan menggurui.

Saya sempat berpikir, kenapa ia bisa membaca psikologi lawan bicaranya, seolah ia tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Puncaknya ia menjelaskan kepada saya tentang hukum musik, dan itupun setelah pendekatan berbulan-bulan. Caranya pun penuh hikmah, memberikan saya sebuah majalah dan membiarkan saya membacanya sendiri, setelah itu baru terjadi dialog.

Setelah saya mendapatkan hidayah, baru saya mengerti bahwa ikhwan tersebut memang sering diandalkan jika ada dialog atau debat dengan teman-teman aktivis kampus baik yang berhaluan kiri atau kanan. Ia dikenal cerdas, luas wawasannya, banyak literasinya, dan sangat dalam argumennya jika membantah. Ia pernah belajar di pondok pesantren Al-Irsyad Surabaya beberapa tahun. Setelah kembali ke kampung halamannya, ia menjadi Ustadz di wilayah Sumatera kepulauan dan berdakwah di sana. Namun 3 tahun yang lalu, takdir Allah mendahuluinya. Ia telah kembali kepada Rabb-nya Ta’ala di usia yang tergolong masih muda;  mendekati 40 tahun rahimahullah karena sebuah penyakit.

Pelajaran dari kisah sederhana di atas bahwa hikmah dalam berdakwah itu tidak hanya sebatas ucapan yang santun sebagaimana kisah Fir’aun, tapi juga pengetahuan tentang kapan waktu yang tepat untuk menyampaikan ilmu dan kapan tidak, pandai membaca situasi atau keadaan, tidak terburu-buru, tidak gegabah apalagi ceroboh, dan inilah yang disebut oleh para ulama dengan hikmah dalam berdakwah.

Allah Ta’ala berfirman:

«ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ»

Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125).

Syaikh Abu Ammar Muhammad bin Abdillah mengatakan:

قال ابن القيم رحمه الله : الحكمة: فعل ما ينبغي، على الوجه الذي ينبغي، في الوقت الذي ينبغي

زاد ابن عثيمين رحمه الله : «والمكان الذي ينبغي

ثم قال ابن القيّم رحمه الله أيضًا: والله تعالى أورث الحكمة آدم وبنيه، فالرجل الكامل من له إرث كامل من أبيه، ونصف الرجل -كالمرأة- له نصف ميراث، والتفاوت في ذلك لا يحصيه إلا الله تعالى، فكل نظام الوجود مرتبط بهذه الصفة، أي: صفة الحكمة، وكل خلل في الوجود وفي العبد فسببه الإخلال بها، فأكمل الناس أوفرهم نصيبًا، وأنقصهم وأبعدهم عن الكمال أقلهم منها ميراثًا، ولها ثلاثة أركان: العلم، والحلم، والأناة، وآفاتها وأضدادها: الجهل، والطيش، والعجلة، فلا حكمة لجاهل، ولا طائش، ولا عجول، والله أعلم. اهـ

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Hikmah adalah: melakukan apa yang sepatutnya, dengan cara yang sepatutnya, pada waktu yang sepatutnya.”

Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menambahkan: “Dan di tempat yang sepatutnya.”

Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah juga berkata: “Dan Allah Ta’ala mewariskan hikmah kepada Adam dan keturunannya. Maka laki-laki yang sempurna adalah yang memiliki warisan sempurna dari ayahnya, sedangkan setengah laki-laki -seperti wanita- memiliki setengah warisan. Perbedaan dalam hal tersebut tidak ada yang dapat menghitungnya melainkan Allah Ta’ala. Sebab, seluruh tatanan alam semesta terikat dengan sifat ini, yaitu sifat hikmah. Setiap kerusakan di alam semesta maupun pada diri seorang hamba disebabkan oleh terabaikannya sifat tersebut. Manusia yang paling sempurna adalah yang paling beruntung mendapat bagiannya, sedangkan manusia yang paling kurang dan paling jauh dari kesempurnaan adalah yang paling sedikit warisan hikmahnya. Hikmah memiliki tiga rukun: ilmu, sifat tenang, dan kehati-hatian. Adapun perusak dan kebalikannya adalah: kebodohan, kecerobohan, dan tergesa-gesa. Maka tidak ada hikmah bagi orang yang bodoh, tidak pula bagi orang yang ceroboh, dan tidak pula bagi orang yang tergesa-gesa. Wallahu a’lam.” Selesai.

وقال الشيخ عبد الرحمن السعدي رحمه الله : «ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ» [النحل: ١٢٥]؛ أي: كل أحد على حسب حاله وفهمه وقوله وقبوله

ومن الحكمة: الدعوة بالعلم لا بالجهل، والبداءة بالأهم فالأهم، وبالأقرب إلى الأذهان والفهم، وبما يكون قبوله أتم، وبالرفق واللين؛ فإن انقاد بالحكمة، وإلا فينتقل معه بالدعوة بالموعظة الحسنة، وهو الأمر والنهي المقرون بالترغيب والترهيب» اهـ

فالداعي إلى الله كقائد السفينة الحكيم، قال تعالى: «وَلَٰكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ» [آل عمران: ٧٩]، والرباني: مأخوذ من ربان السفينة، وهو القائد الحكيم الخبير الذي يقود السفينة في خضم الأمواج المتلاطمة والرياح العاصفة والأخطار المتلاحقة والمحدقة بالسفينة فيخرج بها بإذن الله إلى بر الأمان؛ فينجو هو والسفينة والركاب والبضائع المحملة وأموال الناس، والفضل في هذا لله ثم بحكمته وخبرته، والله عزوجل يريد من الداعية أن يكون هكذا

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan: «Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik». [QS. An-Nahl: 125]; maknanya: Masing-masing orang diseru sesuai dengan keadaan, pemahaman, perkataan, dan penerimaannya.”

Dan di antara bentuk hikmah adalah: berdakwah dengan ilmu bukan dengan kebodohan, memulai dari hal yang paling penting kemudian yang penting berikutnya, dengan hal yang paling dekat (mudah) dicerna oleh akal dan pemahaman, dan dengan hal yang penerimaannya paling sempurna, serta dengan kelembutan dan kesantunan. Jika ia patuh dengan hikmah, (maka itu yang diharapkan), namun jika tidak, maka ia berpindah dengannya ke metode dakwah berupa nasihat yang baik, yaitu perintah dan larangan yang diiringi dengan kabar gembira dan peringatan.” Selesai.

Maka penyeru ke jalan Allah itu bagaikan nakhoda kapal yang bijaksana. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): «Akan tetapi (dia berkata), ‘Jadilah kamu orang-orang Rabbani, karena kamu mengajarkan Kitab dan karena kamu mempelajarinya».'” [QS. Ali ‘Imran: 79]. Dan kata Rabbani diambil dari kata rubban as-safinah (nakhoda kapal), yaitu pemimpin yang bijaksana dan berpengalaman yang mengemudikan kapal di tengah gelombang yang menghempas, angin kencang, serta bahaya bertubi-tubi yang mengepung kapal, lalu ia membawanya keluar dengan izin Allah menuju pantai keselamatan; sehingga selamatlah dirinya, kapalnya, para penumpang, muatan barang, dan harta benda manusia. Keutamaan dalam hal ini adalah milik Allah, kemudian berkat hikmah dan pengalamannya. Dan Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki dari seorang da’i untuk menjadi seperti ini.” (Zagholud Da’wah wad-Du’at, hal.125-126).

Bersambung…

***

Repost, Grand Sahara – Purwodadi – Sidayu – Gresik, 21 Rabiul Akhir 1448 H / 3 Oktober 2026 M

Penulis : Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com
ShareTweetPin
Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Penuntut ilmu dengan nama Erwin Gunawan, S.T. Pernah belajar kepada para asatidzah di Yogyakarta, diantaranya Ustadz Ahmad Halim, Ustadz Sa'id Abu Ukkasyah, Ustadz Ahmad MZ, Ustadz Ari Wahyudi, Ustadz Abu Isa, Ustadz Aris Munandar dan Ustadz Afifi Abdul Wadud dan para asatidzah lainnya. Alumni Ma'had Aly Al Furqon Al Islamiy Srowo Sidayu Gresik. Alumni S1 Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Related Posts

Hikmah dalam Berdakwah (Seri 5)
ADAB DAN AKHLAQ

Hikmah dalam Berdakwah (Seri 5)

25 September 2026
Hikmah dalam Berdakwah (Seri 4)
ADAB DAN AKHLAQ

Hikmah dalam Berdakwah (Seri 4)

8 Oktober 2026
Hikmah dalam Berdakwah (Seri 3)
ADAB DAN AKHLAQ

Hikmah dalam Berdakwah (Seri 3)

8 Oktober 2026
Hikmah dalam Berdakwah (seri 2)
ADAB DAN AKHLAQ

Hikmah dalam Berdakwah (seri 2)

8 Oktober 2026
Hikmah dalam Berdakwah (Seri 1)
ADAB DAN AKHLAQ

Hikmah dalam Berdakwah (Seri 1)

8 Oktober 2026
Berbakti Kepada Ayah
ADAB DAN AKHLAQ

Berbakti Kepada Ayah

15 Juni 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TENTANG KAMI

Website meciangi.or.id adalah situs dakwah Islam yang dikelola oleh Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi. Diantara kegiatan utama dakwah kami adalah Ma'had Meci Angi. Ma'had Meci Angi merupakan tempat menimba ilmu para penuntut ilmu yang berpijak pada pemahaman shalafus sholeh. Diantara kegiatan utamanya adalah pembelajaran bahasa arab seperti nahwu, shorof, belajar baca kitab, mengadakan daurah syar'iyyah, menerbitkan buletin serta kegiatan kegiatan dakwah lainnya.

Alamat sekretariat Website: Jln. Lintas Sumbawa, Gg. Potlot no.14. Lingkungan Rasa Bou - Kelurahan Kandai Dua - Kecamatan Woja - Kabupaten Dompu - NTB 84218.

Follow us

Terbaru

  • Hikmah dalam Berdakwah (Seri 6)
  • Hikmah dalam Berdakwah (Seri 5)
  • Hikmah dalam Berdakwah (Seri 4)
  • Hikmah dalam Berdakwah (Seri 3)

Kategori

  • ADAB DAN AKHLAQ
  • AL-QUR'AN
  • AQIDAH
  • BAHASA ARAB
  • BANTAHAN
  • BIOGRAFI
  • BULETIN MECI ANGI
  • E-BOOK
  • FATWA ULAMA
  • FIQH
  • KHUTBAH JUM'AT
  • KITAB ULAMA
  • MANHAJ
  • MUTIARA SALAF
  • QOIDAH FIQH
  • SIROH
  • SYAIR
  • TAFSIR
  • TANYA JAWAB
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • USHUL FIQH
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
  • FIQH DAN MUAMALAH
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
  • LAINNYA

© 2024 by mantapp

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI

© 2024 by mantapp