Sabtu, September 19, 2026
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
NEWSLETTER
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
No Result
View All Result
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
No Result
View All Result

Hikmah dalam Berdakwah (Seri 1)

Abu Dawud ad-Dumbuwiyy by Abu Dawud ad-Dumbuwiyy
19 September 2026
in ADAB DAN AKHLAQ
Reading Time: 16 mins read
0
Home ADAB DAN AKHLAQ

Bismillah. Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbih ajma’iin. Wa ba’du.

RELATED POST

Hikmah dalam Berdakwah (seri 2)

Berbakti Kepada Ayah

Tidak dipungkiri dalam dakwah sangat dibutuhkan metode pendekatan yang bijak kepada masyarakat, karena dakwah itu tidak hanya membutuhkan kepintaran sang da’i dalam menguasai ilmu syar’i secara mendalam, tapi juga dibutuhkan kecerdasan dan kemampuan dalam berinteraksi sosial dengan masyarakat tanpa harus mengorbankan aqidah al-wala’ wal bara’.

1. Konsep Al-Wala’ wal Bara’

Sebagian orang khususnya yang katanya sudah mulai belajar sunnah, masih banyak yang salah dalam memahami konsep dasar al-wala’ wal bara’. Bagi mereka semua yang menyelisihi manhaj salaf harus diberikan bara’ total, meskipun itu adalah bapak-bapak penentang dakwah di kampung yang menjadi imam sholat dan melakukan kebid’ahan karena sebab kebodohan.

Tidak boleh bergaul dengan mereka, duduk bersama mereka, padahal dalam interaksi sosial dengan masyarakat harus ada komunikasi. Selain itu mereka pada satu sisi adalah tetangga kita bahkan karib kerabat kita sendiri di kampung. Kita tidak sedang menghadapi Khowarij, Mu’tazilah, Jahmiyah,  dll, tapi kita sedang menghadapi orang-orang awam di kampung. Diantara bentuk komunikasi dengan mereka adalah menyapa mereka, mengucapkan salam, berjabat tangan dengan mereka di serambi masjid saat sedang duduk-duduk santai atau sengaja duduk-duduk sejenak menanyakan kabar mereka lalu pulang.

Terkadang ada banyak hal yang ingin mereka tanyakan kepada kita, namun karena sikap kita yang terlalu kaku dan cuek, membuat mereka menjaga jarak bahkan membenci dakwah salaf yang mulia ini.

Karena demikina, sikap kita dalam berinteraksi sangat memberikan efek yang besar dalam melembutkan hati kaum muslimin, khususnya para penentang dakwah di masjid kampung. Dari sikap kita yang mudah berinteraksi, menyapa, mengucapkan salam, dan masih banyak lagi hal-hal yang terlihat sepele, bisa jadi itu akan menjadi washilah tersebarnya dawkah. Betapa banyak dakwah itu menjadi mudah dan diterima masyarakat karena sikap kecil yang terlihat remeh dalam pandangan manusia.

Sejatinya sebagian besar kita adalah penduduk asli di tanah kelahiran kita masing-masing, dan bapak-bapak “penentang dakwah” itu adalah guru-guru ngaji kita waktu kecil. tetangga kita, karib kerabat kita, bahkan paman dan orang tua kita sendiri. Mereka dahulu yang selalu memberikan nasihat-nasihatnya ketika khutbah jumat di masa-masa kita masih kanak-kanak. Apakah mereka harus kita bara’ total sebagaimana kita baro’ kepada orang-orang? atau kita posisikan diri kita sebagai seorang anak yang sedang mendakwahi orang tuanya dengan tegas tanpa perlu menggurui, tapi penuh hikmah dan dengan kelembutan.

2. Definisi al-Wala’ wal Bara’

2.1. Definisi al-Wala’

Para ulama menyebutkan makna al-wala sebagai berikut.

الولاء لغة من الولي، وهو أصل يدل على القرب، قال الراغب: ويستعار ذلك للقرب من حيث المكان، ومن حيث النسبة، ومن حيث الدين، ومن حيث الصداقة والنصرة والاعتقاد

“Al-Wala’ secara bahasa berasal dari kata al-wali. Kata tersebut merupakan suatu akar kata yang menunjukkan makna kedekatan. Ar-Raaghib berkata: ‘Makna kedekatan itu digunakan pula secara majazi untuk menunjukkan kedekatan dari segi tempat, dari segi hubungan nasab, dari segi agama, serta dari segi persahabatan, pertolongan, dan keyakinan.’ (Al-Maushuu’ah al-Fiqhiyyah, 45/119)

Dan al-wala’ yang kita maksud adalah al-wala’ dari segi agama, pertolongan, keyakinan dan persaudaraan; yaitu mencintai dan menolong orang-orang yang beriman karena persaudaraan atas dasar iman. Allah Ta’ala berfirman:

«إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ»

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat : 10)

Syaikh Sholih Fauzan mengatakan:
 

فالمؤمنون إخوة في الدين والعقيدة وإن تباعدت أنسابهم وأوطانهم وأزمنتهم

“Maka orang-orang yang beriman adalah saudara dalam agama dan akidah, sekalipun nasab mereka berjauhan, negeri-negeri mereka saling berjauhan, dan zaman mereka berbeda-beda.” (Al-Wala’ wal Bara’ fiil Islam, hal. 3)

2.2. Definisi al-Bara’

Para ulama menyebutkan makna al-bara’ sebagai berikut.

  البراءة في اللغة : الخروج من الشيء والمفارقة له، والأصل البرء بمعنى : القطع ، فالبراءة قطع العلاقة ، يقال : برئت من الشيء وأبرأ براءة : إذا أزلته عن نفسك وقطعت أسبابه ، وبرئت من الدين : انقطع عني ، ولم يبق بيننا علقة

“Al-Bara’ah (berlepas diri) secara bahasa adalah keluar dari sesuatu dan memisahkan diri darinya. Asal kata al-bar’u bermakna memutus. Oleh karena itu, al-bara’ah berarti memutus hubungan. Dikatakan: ‘Bari’tu minasy syai’i’ (aku telah berlepas diri dari sesuatu) dan ‘abra’u baraa’atan’ (aku berlepas diri dengan sebenar-benarnya), yaitu apabila seseorang menghilangkan sesuatu itu dari dirinya dan memutus segala sebab yang menghubungkannya dengannya. Dan dikatakan pula: ‘Bari’tu minad dain’ (aku telah bebas dari utang), maksudnya utang itu telah terputus dariku dan tidak lagi tersisa hubungan atau keterikatan apapun antara kami.” (Al-Maushuu’ah al-Fiqhiyyah, 8/51).

Dan al-bara’ yang dimaksud adalah membenci dan memusuhi orang-orang kafir dan orang-orang yang memusuhi Allah dan rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman :

«بَرَآءَةٌۭ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦٓ إِلَى ٱلَّذِينَ عَـٰهَدتُّم مِّنَ ٱلْمُشْرِكِينَ»

Artinya: “(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kaum muslimin) telah mengadakan perjanjian (dengan mereka).” (QS. At-Taubah : 1)

3. Pembagian Al-Wala’ wal-Bara’
 
3.1. Orang yang Dicintai dengan Kecintaan yang Murni Tanpa disertai Permusuhan
 
Syaikh Sholih Fauzan menjelaskan siapa mereka ini, beliau mengatakan:
 

وهم المؤمنون الخلص من الأنبياء والصديقين والشهداء والصالحين. وفي مقدمتهم رسول اللهصلى الله عليه وسلم، فإنه تجب محبته أكثر من محبة النفس والوالد والولد والناس أجمعين

ثم زوجاته أمهات المؤمنين وأهل بيته الطيبون وصحابته الكرام خصوصا الخلفاء الراشدون وبقية العشرة والمهاجرون والأنصار وأهل بدر وأهل بيعة الرضوان ثم بقية الصحابة رضي الله عنهم أجمعين

ثم التابعون والقرون المفضلة وسلف هذه الأمة وأئمتها كالأئمة الأربعة. قال تعالى: «وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَـٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّۭا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌۭ رَّحِيمٌ» (الحشر: 10)

ولا يبغض الصحابة وسلف هذه الأمة من في قلبه إيمان. وإنما يبغضهم أهل الزيغ والنفاق وأعداء الإسلام كالرافضة والخوارج، نسأل الله العافية

“Mereka adalah orang-orang mukmin yang tulus, yaitu para nabi, ash-shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Yang paling utama di antara mereka adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya mencintai beliau wajib melebihi kecintaan kepada diri sendiri, kepada orang tua, kepada anak, dan kepada seluruh manusia.

Kemudian istri-istri beliau, yang merupakan ibu-ibu kaum mukminin; kemudian ahlul bait beliau yang suci, kemudian para sahabat beliau yang mulia, terutama khulafaur rasyidin, kemudian sisa dari sepuluh sahabat yang dijamin surga, kaum muhajirin, kaum anshar, para peserta perang badar, para peserta baiat ridwan, kemudian seluruh sahabat yang lainnya. Semoga Allah meridhai mereka semuanya.

Kemudian para tabi’in, generasi-generasi yang utama, para ulama salaf umat ini, serta para imamnya, seperti imam empat madzhab. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): «Dan orang-orang yang datang setelah mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman daripada kami. Janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dengki terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.'” (QS. Al-Hasyr: 10).

Tidaklah membenci para sahabat dan para ulama salaf umat ini kecuali orang yang di dalam hatinya tidak terdapat keimanan. Yang membenci mereka hanyalah orang-orang yang menyimpang, orang-orang munafik, dan musuh-musuh Islam, seperti kaum rafidhah dan khawarij. Kita memohon kepada Allah keselamatan.” (Al-Wala’ wal Bara’ fiil Islam, hal. 15)
 

3.2. Orang yang Dibenci dan Dimusuhi dengan Kebencian dan Permusuhan yang Murni, tanpa Disertai Rasa Cinta Maupun Loyalitas

Syaikh Sholih Fauzan mengatakan:
 
وهم الكفار الخلص من الكفار والمشركين والمنافقين والمرتدين والملحدين على اختلاف أجناسهم
 
كما قال الله تعالى: «لَّا تَجِدُ قَوْمًۭا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ» (المجادلة: 22)
 

وقال تعالى عاتبا على بني إسرائيل: «ترى كثيرا منهم يتولون الذين كفروا لبئس ما قدمت لهم أنفسهم أن سخط الله عليهم وفي العذاب هم خالدون. ولو كانوا يؤمنون بالله والنبي وما أنزل إليه ما اتخذوهم أولياء ولكن كثيرا منهم فاسقون» (المائدة: 79-80)

“Mereka adalah orang-orang kafir yang murni, yaitu dari kalangan orang-orang kafir, kaum musyrik, orang-orang munafik, orang-orang murtad, dan kaum ateis, meskipun jenis dan golongan mereka berbeda-beda.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, ataupun keluarga besar mereka.” (QS. Al-Mujādilah: 22).

Dan Allah Ta’ala berfirman sebagai teguran kepada Bani Israil (yang artinya): “Engkau melihat banyak di antara mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai teman setia. Sungguh buruk apa yang telah mereka persiapkan untuk diri mereka sendiri, yaitu kemurkaan Allah menimpa mereka, dan mereka kekal di dalam azab. Seandainya mereka benar-benar beriman kepada Allah, kepada Nabi, dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, niscaya mereka tidak akan menjadikan orang-orang kafir itu sebagai wali (pelindung atau sekutu). Akan tetapi, banyak di antara mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Al-Mā’idah: 80–81). (Al-Wala’ wal Bara’ fiil Islam, hal. 15-16)

3.3. Orang yang Dicintai pada Satu Sisi dan Dibenci pada Sisi yang Lain

Syaikh Sholih Fauzan kembali mengatakan:
 
فتجتمع فيه المحبة والعداوة، وهم عصاة المؤمنين، يحبون لما فيهم من الإيمان، ويبغضون لما فيهم من المعصية التي هي دون الكفر والشرك
 
ومحبتهم تقتضي مناصحتهم والإنكار عليهم، فلا يجوز السكوت على معاصيهم بل ينكر عليهم، ويؤمرون بالمعروف وينهون عن المنكر، وتقام عليهم الحدود والتعزيرات حتى يكفوا عن معاصيهم ويتوبوا من سيئاتهم
 
ولكن لا يبغضون بغضا خالصا ويتبرأ منهم كما تقوله الخوارج في مرتكب الكبيرة التي هي دون الشرك
 
ولا يحبون ويوالون حبا وموالاة خالصين كما تقوله المرجئة، بل يعتدل في شأنهم على ما ذكرنا كما هو مذهب أهل السنة والجماعة
 

والحب في الله والبغض في الله أوثق عرى الإيمان، والمرء مع من أحب يوم القيامة كما في الحديث

“Pada diri mereka terkumpul rasa cinta dan rasa benci. Mereka adalah orang-orang mukmin yang berbuat maksiat. Mereka dicintai karena keimanan yang ada pada diri mereka, dan dibenci karena kemaksiatan yang ada pada diri mereka, yaitu kemaksiatan yang tidak sampai pada derajat kufur dan syirik.

Mencintai mereka mengharuskan untuk menasihati dan mengingkari kemungkaran mereka. Oleh karena itu, tidak boleh berdiam diri terhadap kemaksiatan mereka. Bahkan, mereka harus diingkari, diperintahkan kepada yang ma’ruf, dilarang dari yang mungkar, serta ditegakkan atas mereka hukuman-hukuman hudud dan ta’zir hingga mereka berhenti dari kemaksiatan mereka dan bertobat dari dosa-dosa mereka.

Akan tetapi, mereka tidak dibenci dengan kebencian yang murni dan tidak pula berlepas diri total dari mereka, sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Khawarij mengenai pelaku dosa besar yang tidak sampai pada tingkat syirik.

Demikian pula, mereka tidak dicintai dan tidak diberi loyalitas dengan cinta dan loyalitas yang murni sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Murji’ah. Akan tetapi, sikap terhadap mereka harus bersikap pertengahan sebagaimana yang telah kami jelaskan. Demikian itulah mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Mencintai karena Allah dan membenci karena Allah merupakan ikatan-ikatan iman yang paling kuat. Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya pada hari Kiamat, sebagaimana disebutkan dalam hadis.” (Al-Wala’ wal Bara’ fiil Islam, hal. 16-17).

 

Dan tokoh-tokoh penentang dakwah di kampung masuk pada poin ketiga ini, mereka tidak dicintai dan diberikan loyalitas dengan cinta dan loyalitas yang murni, dan mereka juga tidak dibenci dan di bara’ dengan kebencian dan bara’ yang murni. Inilah qoidah ahlus sunnah wal jama’ah yang harus difahami dengan benar, agar tidak seperti Khowarij yang mengkafirkan pelaku dosa besar sehingga bara’ kepada mereka secara total, dan tidak pula seperti Murji’ah yang menganggap pelaku maksiat imannya sempurna dan berhak mendapatkan cinta dan loyalitas yang murni. Namun sikap ahlus sunnah adalah pertengahan.

4. Orang yang Dicintai pada Satu Sisi dan Dibenci pada Sisi yang Lain

4.1. Wala’ wal Bara’ Kepada Ahlul Kiblat

Setelah penjabaran yang panjang lebar di atas, kita akan fokus pada poin kedua dan ketiga yaitu wala’ wal bara’ kepada orang-orang mu’min dan orang-orang kafir.

Dari penjabaran di atas dapat kita ketahui bahwa pelaku bid’ah, para penentang dakwah di kampung, mereka adalah kaum muslimin, ahlul kiblat, mereka melakukan melakukan kebid’ahan dan maksiat, selama bid’ah dan maksiatnya tidak sampai pada derajat kufur dan syirik, maka wala’ dan bara’ tidak boleh hilang total.

Kita tidak sedang berbicara tentang Jahmiyyah, Mu’tazilah, Qodariyyah, Khowarij, Jama’atut Tabligh, dan firqoh-firqoh menyimpang yang sengaja menyebarkan kebid’ahan dan manhaj dakwah mereka, atau Syi’ah, dll, tapi kita sedang berbicara tentang penentang dakwah di kampung, di desa tempat kita di lahirkan, yang level wala’ dan bara’ kepada mereka berbeda dengan kelompok-kelompok menyimpang.

Sejatinya orang-orang kampung itu adalah tetangga kita, karib kerabat kita, bahkan mereka adalah orang tua kita sendiri yang masih awam, jahil dengan hakikat perbuatannya, bahkan kebanyakan mereka menentang dakwah karena sebab kebodohan, Saya menyaksikan, masih banyak diantara mereka yang memiliki fitrah dan secercah cahaya ingin tahu tentang dakwah yang haq ini.

Dalam aqidah al-wala’ wal baro’, konsep yang diterapkan terhadap sesama muslim adalah wala’ (loyalitas/cinta) tetap harus ada walaupun hanya satu persen sesuai dengan kadar dosa dan maksiat serta bid’ah yang ia lakukan, karena baro’ secara total itu hanya terjadi pada orang-orang kafir. Jika ada seorang muslim yang bermaksiat kepada Allah, melakukan bid’ah, ia tetap seorang muslim yang memiliki hak-hak terhadap muslim lainnya.

Menurut manhaj ahlus sunnah, seorang muslim tidak keluar dari Islam hanya karena sebab dosa besar yang ia lakukan, atau bid’ah yang ia kerjakan, selama bid’ah tersebut tidak sampai pada derajat kekufuran sampaipun kelompok-kelompok menyimpang di atas. Maka konsekuensinya ia tetap memiliki hak wala’ sebagai sesama muslim, tetapi juga dibenci perbuatan bid’ahnya. Ini dikenal dengan prinsip dicintai karena imannya, dan dibenci karena maksiat atau bid’ahnya. Kita menjawab salamnya jika ia mengucapkan salam, menjaga hak-haknya sebagai seorang muslim, dan boleh bermakmum di belakangnya jika ia menjadi imam sholat, dll.

Imam Ath-Thohawiy mengatakan:

ونرى الصلاة خلف كل بر وفاجر من أهل القبلة، وعلى من مات منهم

“Dan kami berpendapat bahwa sholat itu (tetap sah dilakukan) di belakang setiap orang yang baik maupun yang fajir dari kalangan ahli kiblat, dan kami berpendapat untuk tetap menyalati siapa saja yang mati di antara mereka.”

Ibnu Abil Izz menjelaskan dalam syarahnya:

قال صلى الله عليه وسلم: ((صلوا خلف كل بر وفاجر)). رواه مكحول، عن أبي هريرة رضي الله عنه، أخرجه الدارقطني، وقال: مكحول لم يلق أبا هريرة، وفي إسناده معاوية بن صالح، متكلم فيه، وقد احتج به مسلم في صحيحه وخرج له الدارقطني أيضا، وأبو داود، عن مكحول، عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((الصلاة واجبة عليكم مع كل مسلم بر أو فاجر، وإن هو عمل بالكبائر، والجهاد واجب مع كل أمير بر أو فاجر، [وإن] عمل الكبائر))

وفي صحيح البخاري: أن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما كان يصلي خلف الحجاج بن يوسف الثقفي، وكذا أنس بن مالك، وكان الحجاج فاسقا ظالما.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ((Shalatlah kalian di belakang setiap orang yang baik maupun yang fajir (durhaka))).” Hadis ini diriwayatkan oleh Makhul, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dikeluarkan oleh Al-Daraquthni, dan beliau berkata: “Makhul belum pernah bertemu dengan Abu Hurairah. Dan di dalam sanadnya terdapat Mu’awiyah bin Shalih, seorang yang diperbincangkan (dikritik). Namun sungguh, Muslim telah berhujah dengannya di dalam kitab shahihnya.

Dan ad-Daraquthni serta Abu Dawud juga mengeluarkan riwayat dari Makhul, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ((Shalat itu wajib atas kalian bersama setiap orang muslim, baik ia orang yang baik maupun yang durhaka, walaupun ia melakukan dosa-dosa besar. Dan jihad itu wajib bersama setiap pemimpin, baik ia orang yang baik maupun yang durhaka, walaupun ia melakukan dosa-dosa besar)).

Dan di dalam shahih al-Bukhari terdapat riwayat: “Bahwasanya Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dahulu ia sholat di belakang Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Thaqafi, dan demikian pula Anas bin Malik, padahal Al-Hajjaj adalah seorang yang fasik lagi dzalim.” (Syarh al-Aqiidah ath-Thohawiyyah, 2/169-171).

Para sahabat radhiyallahu ‘anhum bermakmum kepada orang sekelas Hajjab bin Yusuf ats-Thaqafi yang fasik dan dzolim, membunuh banyak dari para sahabat, menunjukkan wala’ mereka kepada Hajjaj bin Yusuf masih ada. Sedangkan tokoh agama di kampung kita, bapak-bapak imam kita di musholla desa tidak seperti Hajjaj bin Yusuf ats-Thaqafi, tapi mereka adalah tetangga-tetangga kita yang jahil yang melakukan kebid’ahan atas dasar mengikuti tradisi nenek moyang. Mereka ini lebih berhak mendapatkan wala’ kita daripada Hajjaj bin Yusuf ats-Thaqafi yang dianggap fasik oleh para ulama.

5. Orang yang Dibenci dan Dimusuhi dengan Kebencian dan Permusuhan yang Murni, tanpa Disertai Rasa Cinta Maupun Loyalitas

5.1. Wala’ wal Bara’ Kepada Orang-Orang Kafir

Adapun terhadap orang kafir, maka tidak boleh diberikan wala’ sedikitpun kepada mereka sebagaimana banyak dalil yang menjelaskan hal ini. Allah Ta’ala berfirman:

«يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ ٱلْيَهُودَ وَٱلنَّصَـٰرَىٰٓ أَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍۢ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُۥ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ لظَّـٰلِمِينَ»

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah : 51)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan tentang tafsir ayat diatas:

ينهى تبارك وتعالى عباده المؤمنين عن موالاة اليهود والنصارى، الذين هم أعداء الإسلام وأهله – قاتلهم الله – ثم أخبر أن بعضهم أولياء بعض، ثم تهدد وتوعد من يتعاطى ذلك، فقال : «وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُۥ مِنْهُمْ ۗ »

“Allah Tabaaraka wa Ta’ala telah melarang hamba-hamba-Nya orang-orang yang beriman untuk mendukung/loyal/cinta kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mereka itu merupakan musuh Islam dan musuh umat Islam -semoga Allah membinasakan mereka-. Kemudian Allah mengabarkan bahwasanya sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian lainnya, kemudian Allah mengancam dan memberikan peringatan kepada orang yang melakukan hal itu, Allah berfirman (yang artinya) : «Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka».” (Tafsiir Ibni Karsiir, 2/63)

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman:

«لَّا تَجِدُ قَوْمًۭا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أو۟لَـٰٓئِك كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَـٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍۢ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّـٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ ضُوا۟ عَنْهُ ۚ أو۟لَـٰٓئِك حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُون»

Artinya : “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah : 22)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam menjelaskan dalam  tafsirnya:

أي لا يوادون المحادين ولو كانوا من الأقربين كما قال تعالى «لَّا يَتَّخِذِ ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلْكَـٰفِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلْمُؤْمِنِينَ ۖ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ ٱللَّهِ فِى شَىْءٍ إِلَّآ أَن تَتَّقُوا۟ مِنْهُمْ تُقَىٰةًۭ ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ ٱللَّهُ نَفْسَهُۥ ۗ » [آل عمران : ٢٨]

وقال تعالى : «قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَـٰرَةٌۭ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَـٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍۢ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَـٰسِقِينَ» [التوبة : ٢٤]. وقد قال سعيد بن عبد العزيز وغيره : أنزلت هذه الآية «لَّا تَجِدُ قَوْمًۭا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ» إلى آخرها في أبي عبيدة عامر بن عبد الله بن الجراح حين قتل أباه يوم بدر، ولهذا قال عمر بن الخطاب رضي الله عنه حين جعل الأمر سورة بعده في أولئك الستة رضي الله عنهم : ولو كان أبو عبيدة حيا لاستخلفته. وقيل في قوله تعالى : «وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ» نزلت في أبي عبيدة قتل أباه يوم بدر «أَوْ أَبْنَآءَهُمْ» في الصديق هم يومئذ بقتل ابنه عبد الرحمان «أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ» في مصعب بن عمير، قتل أخاه عبيد بن عمير يومئذ «أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ » في عمر قتل قريبا له يومئذ أيضا، وفي حمزة وعلي وعبيدة بن الحارث قتلوا عتبة و شيبة والوليد بن عتبة يومئذ، فالله أعلم

“Maksudnya mereka tidak akan berkasih sayang dengan orang-orang yang membenci (Allah dan Rasul-Nya) walaupun mereka itu termasuk karib kerabatnya sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya) : «Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya».” (QS. Ali Imron : 28)

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : «Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik». (QS. At-Taubah : 24)

Dan sungguh telah berkata Sa’id bin ‘Abdil ‘Aziz dan selainnya : ‘Diturunkan ayat «لَّا تَجِدُ قَوْمًۭا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِر» «Tidak akan kamu dapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat» sampai akhir ayat, yaitu diturunkan terkait Abu ‘Ubaidah Amir bin ‘Abdillah bin al-Jarrah ketika dia membunuh bapaknya pada perang badar, oleh karena itu, Umar bin al-Kaththab radhiyallahu ‘anhu ketika urusannya di musyawarahkan berkenaan dengan enam orang shahabat radhiyallahu ‘anhum berkata : “Dan seandainya Abu ‘Ubaidah masih hidup, niscaya aku akan mengangkat dia menjadi khalifah.”

Dan mengenai firman Allah : «وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُم» «Sekalipun mereka itu bapaknya», ayat ini di turunkan kepada Abu ‘Ubaidah ketika dia membunuh bapaknya pada perang badar. «أَوْ أَبْنَآءَهُمْ» «atau anak anak mereka sendiri», turun pada Abu Bakar as-Sbhiddiq pada perang badar yang hendak membunuh anaknya ‘Abdurrahman. «أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ» «atau saudara-saudaranya», turun pada Mus’ab bin ‘Umair yang membunuh saudaranya ‘Ubaid bin ‘Umair pada perang badar «أَوْ عَشِيرَتَهُم» «atau keluarga mereka», turun kepada Umar yang juga membunuh keluarganya pada perang badar, dan kepada Hamzah, ‘Ali, ‘Ubaidah bin al-Harits yang membunuh ‘Utbah dan Syaibah dan al-Walid bin ‘Utbah pada perang badar, wallahu a’lam.” (Tafsir Ibni Katsir, 4/283-284)

Berkata Asy-Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah:

الثالثة : أن من أطاع الرسول ووجد الله لا يجوز له موالاة من حاد الله ورسوله ولو كان أقرب قريب، والدليل قوله تعالى : «لَّا تَجِدُ قَوْمًۭا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَـٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍۢ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّـٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ». [المجادلة : ٢٢].

“Yang ketiga : Bahwasanya barangsiapa yang taat kepada Rasul dan mentauhidkan Allah tidak boleh bagi dia untuk loyal/cinta mencintai dengan orang-orang yang membenci Allah dan Rasul-Nya meskipun mereka adalah karib kerabatnya yang terdekat, dalilnya yaitu firman Allah Ta’ala (yang artinya) : “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” [QS. Al-Mujaadilah : 22]. (Syarh Al-’Usuul ats-Tsalaatsah, hal. 21-22)

Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin dalam syarahnya :

أى : المسألة الثالثة مما يجب علينا علمه الولاء والبراء، والولاء والبراء أصل عظيم جاءت فيه النصوص الكثيرة قال الله عز وجل : «يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ بِطَانَةًۭ مِّن دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًۭا» [آل عمران : ١١٨]. وقال تعالى : «يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ ٱلْيَهُودَ وَٱلنَّصَـٰرَىٰٓ أَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍۢ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُۥ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ» [المائدة : ٥١]المائدة. وقال سبحانه وتعالى : «يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ دِينَكُمْ هُزُوًۭا وَلَعِبًۭا مِّنَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَـٰبَ مِن قَبْلِكُمْ وَٱلْكُفَّارَ أَوْلِيَآءَ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ» [المائدة : ٥٧]. وقال تعالى : «يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوٓا۟ ءَابَآءَكُمْ وَإِخْوَٰنَكُمْ أَوْلِيَآءَ إِنِ ٱسْتَحَبُّوا۟ ٱلْكُفْرَ عَلَى ٱلْإِيمَـٰنِ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ ¤ قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَـٰرَةٌۭ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَـٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍۢ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَـٰسِقِينَ» [التوبة : ٢٣-٣٤]. وقال عز وجل : «قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ فِىٓ إِبْرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذْ قَالُوا۟ لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُا۟ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةُ وَٱلْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَحْدَهُۥٓ» [الممتحنة : ٤] الآية. ولأن موالاة كفار تكون بمناصرتهم ومعاونتهم على ما هم عليه من الكفر والضلال، وموادتهم تكون بفعل الأسباب التي تكون بها مودتهم فتجده يوادهم أى يطلب ودهم بكل طريق، وهذا لا شك ينافى الإيمان كله أو كماله، فالواجب على المؤمن معاداة من حاد الله ورسوله ولو كان أقرب قريب إليه، وبغضه والبعد عنه ولكن هذا لا يمنع نصيحته ودعوته للحق.

“Permasalahan yang ketiga yang wajib bagi kita agar mengilmuinya yaitu rasa cinta dan benci, dan rasa cinta dan benci merupakan pondasi yang agung yang telah datang dengannya nash-nash yang banyak. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu.” [QS. Ali Imron : 118]. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” [QS. Al-Maidah : 51]. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” [QS. Al-Maidah : 57]. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” [QS. At-Taubah : 23-24]. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya) : “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” [QS. Al-Mumtahanah : 4]

Untuk itu, loyal kepada orang-orang yang memusuhi Allah dan lembut/setia kepadanya menunjukkan apa yang ada di dalam hati manusia dari keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya sangat lemah. Karena itu tidak masuk akal seseorang mencintai sesuatu padahal sesuatu itu adalah musuh bagi yang dicintainya. Loyal kepada orang-orang kafir bisa dengan menolong mereka, membantu mereka atas kekafiran dan kesesatannya. Dan cinta kepada mereka terjadi dengan menempuh sebab-sebab, yang sebab-sebab tersebut akan menjadikan cinta kepada mereka, dan (akhirnya) engkaupun-pun akan mempunyai bagian dalam mencintai mereka yaitu akan mencari kecintaan mereka dengan segala jalan, dan ini tidak ragu lagi akan menghilangkan seluruh keimanan atau menghilangkan kesempurnaan iman. Maka wajib bagi seorang mu’min memusuhi orang-orang yang membenci Allah dan Rasul-Nya walaupun itu karib kerabatnya, dan membencinya, dan menjauh darinya akan tetapi hal ini tidak mencegah dia untuk menasehati dan mendakwahinya dalam kebaikan. (Syarh Al-’Usuul ats-Tsalaatsah, hal. 21-22).

Bersambung…

***

Grand Sahara – Purwodadi – Sidayu – Gresik, 6 Rabiul Akhir 1448 H / 18 September 2026 M

Penulis : Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Artikel : Meciangi.or.id 

ShareTweetPin
Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Penuntut ilmu dengan nama Erwin Gunawan, S.T. Pernah belajar kepada para asatidzah di Yogyakarta, diantaranya Ustadz Ahmad Halim, Ustadz Sa'id Abu Ukkasyah, Ustadz Ahmad MZ, Ustadz Ari Wahyudi, Ustadz Abu Isa, Ustadz Aris Munandar dan Ustadz Afifi Abdul Wadud dan para asatidzah lainnya. Alumni Ma'had Aly Al Furqon Al Islamiy Srowo Sidayu Gresik. Alumni S1 Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Related Posts

Hikmah dalam Berdakwah (seri 2)
ADAB DAN AKHLAQ

Hikmah dalam Berdakwah (seri 2)

19 September 2026
Berbakti Kepada Ayah
ADAB DAN AKHLAQ

Berbakti Kepada Ayah

15 Juni 2026
Mulai dari yang Ringan
ADAB DAN AKHLAQ

Mulai dari yang Ringan

20 Agustus 2026
Empat Karakter Da’i Sejati (seri 4)
ADAB DAN AKHLAQ

Empat Karakter Da’i Sejati (seri 4)

8 Mei 2026
Empat Karakter Da’i Sejati (seri 3)
ADAB DAN AKHLAQ

Empat Karakter Da’i Sejati (seri 3)

11 April 2026
Empat Karakter Da’i Sejati (seri 2)
ADAB DAN AKHLAQ

Empat Karakter Da’i Sejati (seri 2)

8 April 2026
Next Post
Hikmah dalam Berdakwah (seri 2)

Hikmah dalam Berdakwah (seri 2)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TENTANG KAMI

Website meciangi.or.id adalah situs dakwah Islam yang dikelola oleh Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi. Diantara kegiatan utama dakwah kami adalah Ma'had Meci Angi. Ma'had Meci Angi merupakan tempat menimba ilmu para penuntut ilmu yang berpijak pada pemahaman shalafus sholeh. Diantara kegiatan utamanya adalah pembelajaran bahasa arab seperti nahwu, shorof, belajar baca kitab, mengadakan daurah syar'iyyah, menerbitkan buletin serta kegiatan kegiatan dakwah lainnya.

Alamat sekretariat Website: Jln. Lintas Sumbawa, Gg. Potlot no.14. Lingkungan Rasa Bou - Kelurahan Kandai Dua - Kecamatan Woja - Kabupaten Dompu - NTB 84218.

Follow us

Terbaru

  • Hikmah dalam Berdakwah (seri 2)
  • Hikmah dalam Berdakwah (Seri 1)
  • Aku Ingin Terus Semangat dalam Ibadah
  • Bolehnya Sholat di Belakang Pemimpin yang Dzolim

Kategori

  • ADAB DAN AKHLAQ
  • AL-QUR'AN
  • AQIDAH
  • BAHASA ARAB
  • BANTAHAN
  • BIOGRAFI
  • BULETIN MECI ANGI
  • E-BOOK
  • FATWA ULAMA
  • FIQH
  • KHUTBAH JUM'AT
  • KITAB ULAMA
  • MANHAJ
  • MUTIARA SALAF
  • QOIDAH FIQH
  • SIROH
  • SYAIR
  • TAFSIR
  • TANYA JAWAB
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • USHUL FIQH
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
  • FIQH DAN MUAMALAH
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
  • LAINNYA

© 2024 by mantapp

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI

© 2024 by mantapp