Pertanyaan:
Kebanyakan manusia sangat mencintai harta benda, apakah hal tersebut dapat merusak aqidah mereka?
Jawaban:
Bismillah, wassholatu wassalamu ‘ala Rosulillah.
Mencintai harta merupakan tabiat dari manusia, sebagaimana ia senantiasa mencintai hal-hal yang baik dan membenci hal-hal yang buruk, sebagaimana firman Allahu Ta’ala:
وَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّا جَمًّا
“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (Al-Fajr : 20)
Mencintai harta tidak berdampak pada aqidah seseorang selama harta tersebut tidak membuatnya berpaling dari kewajibannya kepada Allah, tidak menyibukkannya dari yang disunnahkan kepadanya, siapa saja yang disibukkan dengan hartanya hingga lalai dalam melaksanakan kewajibannya kepada Allah maka itu adalah perkara yang diharamkan, hartanya kelak pada hari kiamat akan menjadi sebab kebinasaannya, maka yang demikian mendatangkan laknat dari Allah baik di dunia maupun di akhirat.
Namun apabila kecintaannya terhadap harta dalam rangka mencari keridhoan Allah, ia gunakan hartanya untuk berinfak dan membantu kerabatnya, membantu kaum muslimin yang membutuhkan, berkontribusi dalam pembangunan masjid dan dakwah hingga ia pun ikut andil dalam tersebarnya risalah agama islam yang mulia ini, maka ini tentunya kebaikan yang sangat besar.
Dan Allah Ta’ala di dalam Al Qur’an memuji orang-orang yang sibuk mencari harta namun disisi lain ia tidak lupa akan kewajibannya kepada Allah, Allahu Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَٰرَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلْقُلُوبُ وَٱلْأَبْصَٰرُ
لِيَجْزِيَهُمُ ٱللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا۟ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya: laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (An-Nuur : 37-38).
Wallahu A’lam
Surabaya : 12 Jumadal Ula 1444 H/6 Desember 2022
Dijawab oleh: Ustadz Muhammad Dimas Prasetyo
Artikel: Meciangi.or.id






