Mau tanya kalau kita ziarah makam para sunan, wali dan orang sholih. Bagaimana? Apa boleh menurut syariat?
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد
Ziarah kubur untuk mengingat kematian dan akhirat adalah sangat dianjurkan. Rasulullah ﷺ bersabda :
زوروا القبور فإنها تذكركم الآخرة
“Ziarah kuburlah kalian karena itu mengingatkan akhirat.” (HR. Muslim 976)
Ziarah kubur untuk mendoakan penduduk kubur juga diperintahkan. Nabi ﷺ ketika ziarah ke makam baqi’ beliau berdoa :
السلام عليكم دار قوم مؤمنين وأتاكم ما توعدون ، غدا مؤجلون ، وإنا إن شاء الله بكم لاحقون ، اللهم اغفر لأهل بقيع الغرقد
“Semoga keselamatan atas kalian rumah kaum mukminin dan telah dating kepada kalian apa yang telah dijanjikan, besok yang tertunda, dan kami in sya Allah akan menyusul kalian, ya Allah ampunilah penduduk baqi’ ghorqod.” (HR. Muslim 974)
Adapun ziarah kubur untuk sholat di sana maka ada perincian, jika itu sholat jenazah maka boleh, jika untuk sholat fardhu atau sholat sunnah maka ini haram hukumnya.
Dari Aisyah dan Ibnu Abbas radhiyallahu anhum berkata :
لَمَّا نَزَلَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً عَلَى وَجْهِهِ فَإِذَا اغْتَمَّ كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ فَقَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا
“Ketika sakit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semakin parah, Beliau memegang bajunya dan ditutupnya mukanya. Bila sudah sesak, beliau lepaskan dari mukanya. Dalam keadaan selalu seperti itu beliau bersabda: “Laknat Allah tertimpa kepada Yahudi dan Nashara karena mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid-masjid”. Beliau mengingatkan (kaum Muslimin) atas perbuatan mereka (Yahudi dan Nashara).” (HR. Bukhari 425 dan Muslim 531)
Hadits ini menjelaskan haramnya mengerjakan sholat fardu maupun ibadah secara umum di kuburan karena Nabi ﷺ melaknat orang orang yahudi dan Nasrani atas perbuatan tersebut.
Kemudian bagaimana hukum menziarahi makam para wali dan orang orang sholeh?
Hukumnya pun relative tergantung bentuk ziarahnya sama seperti penjelasan di atas. Artinya jika ziarahnya untuk mendoakan mereka dan untuk mengingat kematian maka ini adalah ziarah yang diperintahkan.
Adapun untuk sholat maupun untuk beribadah di sana karena meyakini kemuliaan tempat tersebut maka ini yang diharamkan karena ada bentuk pengagungan kepada makhluk yang menjadi wasilah kepada kesyirikan.
Apalagi jika datang ke sana untuk minta minta kepada walinya maka ini adalah syirik yang akbar. Allah Ta’ala berfirman :
ومن أضل ممن يدعو من دون الله من لا يستجيب له إلى يوم القيامة وهم عن دعائهم غافلون
Artinya : “Dan siapa yang lebih sesat daripada orang orang yang meminta kepada selain Allah ta’ala yang dia tidak bisa mengabulkan permintaannya sampai kiamat dan mereka juga lalai dari doa mereka.” (QS. Al Ahqof 5)
Kemudian masalah berikutnya adalah ziarah tersebut dilakukan dengan melakukan safar? Bagaimana hukumnya?
Para ulama mengharamkan safar dalam rangka ziarah kubur orang orang sholeh.
Ibnu Taimiyah berkata :
وسُئِلَ مالكٌ عن رجلٍ نَذَر أنْ يأتيَ قبْرَ النبيِّ، فقال مالكٌ: إنْ كان أرادَ القبرَ فلا يأْتِه، وإنْ أرادَ المسجدَ فلْيأتِه، ثمَّ ذكَر الحديثَ: ((لا تُشَدُّ الرِّحالُ إلا إلى ثلاثةِ مساجِدَ)). ذكَره القاضي إسماعيلُ في “مبسوطِه”
“Imam Malik ditanya tentang seseorang bernadzar mendatangi makam Nabi, maka Malik berkata: jika dia ingin mendatangi kuburnya maka jangan, dan jika dia ingin mendatangi masjidnya maka lakukanlah, kemudian menyebutkan hadits: tidak boleh bepergian kecuali ke 3 masjid.” (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 1/304)
Imam Nawawi rahimahullah seorang ulama syafi’i yang terkemuka berkata :
واختَلف العُلماءُ في شدِّ الرِّحالِ وإعمالِ المَطِيِّ إلى غيرِ المساجدِ الثلاثةِ، كالذَّهابِ إلى قُبورِ الصالحينَ، وإلى المواضِعِ الفاضلةِ، ونحوِ ذلك؛ فقال الشيخ أبو محمدٍ الجُوينيُّ من أصحابِنا: هو حرامٌ. وهو الذي أشارَ القاضي عِياضٌ إلى اختيارِه
“Dan para ulama berbeda pendapat tentang seseorang melakukan perjalanan ke selain 3 masjid seperti pergi ke kuburan orang sholeh dan ke tempat tempat yang berfadhilah dan yang lainnya, maka Abu Muhammad Al Juwaini dari kalangan kita berkata: in haram, dan ini adalah yang dipilih oleh Al Qodhi Iyadh.” (Lihat syarh shohih muslim, Nawawi 9/106)
Dan di antara ulama kontemporer yang mengharamkan perkara ini adalah As Shon’ani dari madzhab syafi’i dalam kitab Subulussalam:
والحديثُ دليلٌ على فَضيلةِ المساجدِ هذه، ودلَّ بمَفهومِ الحَصْرِ أنَّه يَحرُمُ شَدُّ الرِّحالِ لِقَصدِ غيرِ الثلاثةِ -كزِيارةِ الصالحينَ أحياءً وأمواتًا؛ لِقَصدِ التقرُّب-، كقصْدِ المواضعِ الفاضلةِ؛ لقَصدِ التبرُّكِ بها والصلاةِ فيها
“Dan hadits ini dalil akan keutamaan 3 masjid, dan kebalikannya adalah haram bepergian ke delainnya seperti ziarah orang sholeh hidup maupun mati untuk tujuan pendekatan diri kepada Allah seperti mendatangi tempat yang berfadhilah untuk tujuan tabarruk dan sholat di sana.” (Lihat Subulussalam, As Shon’ani 3/394)
Jadi hanya sekedar ziarah ke suatu tempat walaupun itu mengunjungi orang sholeh tidak diperbolehkan, kecuali jika untuk menuntut ilmu maka ini diperintahkan.
Dan ini ada ucapan yang sangat indah dari ulama terkemuka Pakistan Shiddiq Hasan Khan :
وأمَّا السَّفرُ لغيرِ زِيارةِ القُبور -كما تقدَّم نظائرُه- فقد ثبَتَ بأدلَّةٍ صحيحةٍ، ووقَع في عصْرِه صلَّى اللهُ عليه وآلِه وسلَّمَ، وقرَّره النبيُّ عليه السَّلام؛ فلا سبيلَ إلى المنْعِ منه والنهيِ عنه، بخِلاف السَّفرِ إلى زِيارةِ القُبور؛ فإنَّه لم يَقعْ في زمَنِه، ولم يُقِرَّ أحدًا مِن أصحابه، ولم يُشِرْ في حديثٍ واحدٍ إلى فِعلِه واختيارِه، ولم يَشْرَعْه لأحدٍ مِن أُمَّتِه؛ لا قـــولًا، ولا فِعــلًا، وقد كان رسولُ الله صلَّى اللهُ عليه وآلِه وسلَّمَ يَزورُ أهلَ البقيع وغيرَهم مِن غيرِ سفرٍ ورِحلةٍ إلى قُبورِهم؛ فسُنَّتُه التي لا غُبارَ عليها ولا شَنارَ فيها: هي زِيارةُ القبورِ من دونِ اختيارِ سَفرٍ لها؛ لِتذَكُّرِ الآخِرةِ
“Dan adapun safar untuk selain ziarah kubur maka dalilnya shohih dan terjadi pada zaman Nabi ﷺ dan beliau menyetujuinya, maka tidak ada alasan untuk melarangnya.
Berbeda dengan safar untuk ziarah kubur, maka ini belum pernah terjadi pada zaman Nabi ﷺ dan tidak di akui oleh seorang sahabatpun, dan tidak ada isyarat dalam satu hadits pun untuk melakukannya atau memilihnya. Nabi ﷺ tidak pernah memerintahkan seorangpun baik secara lisan maupun perbuatan.
Dan sungguh Nabi ﷺ ziarah ke makam Baqi’ dan yang lainnya tanpa safar dan rihlah ke kubur mereka.
Jadi sunnah beliau yang sudah tidak tabu lagi adalah ziarah kubur tanpa perlu safar untuk ingat kematian.” (Lihat syarh shohih muslim, shiddiq hasan khan 5/113)
Semoga bermanfaat.
***
Sumberrejo, Kamis 22 Dzulqo’dah 1445 H / 30 Mei 2024 M
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A
Artikel : Meciangi.or.id






