Bismillah wassholaatu wassalaamu ‘alaa Rosulillah
Lingkungan hidup adalah anugerah yang sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan manusia dan makhluk lainnya di Bumi. Alam dengan segala keindahan dan sumber daya alam yang terkandung di dalamnya merupakan karunia Allah Ta’ala yang wajib kita jaga dan lestarikan. Dalam perspektif Islam, bumi dan segala isinya diciptakan untuk dimanfaatkan oleh umat manusia dengan bijaksana. Menjaga lingkungan bukanlah sebuah pilihan, tetapi sebuah kewajiban yang diamanahkan kepada setiap individu sebagai khalifah di muka bumi.
Namun, di zaman modern ini, masalah kerusakan lingkungan semakin menjadi perhatian dunia, tak terkecuali bagi umat Islam. Salah satu contoh yang cukup menyentuh adalah masalah yang terjadi di desa-desa di sekitar gunung dan bukit, tempat asal kita. Dulu, kawasan ini penuh dengan pepohonan yang sejuk dan kaya akan keanekaragaman hayati. Namun, kini banyak bukit dan gunung yang telah gundul setelah ditanami jagung secara masif. Masyarakat seringkali memanfaatkan tanah ini untuk menanam jagung karena dianggap lebih menguntungkan secara ekonomi. Namun, tanpa disadari, penggundulan hutan untuk lahan jagung justru membawa dampak buruk yang serius bagi lingkungan. Banjir menjadi lebih sering, suhu semakin panas, dan tanah yang dulu subur kini kering dan gundul. Inilah sebuah contoh nyata dari kerusakan yang terjadi akibat ketidaktahuan dalam mengelola alam.
Islam, melalui ajaran-ajarannya yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadist, sangat menekankan pentingnya menjaga lingkungan. Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi pengelola yang bijaksana dan bertanggung jawab terhadap bumi. Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana Islam mengajarkan kita untuk menjaga lingkungan, dengan menelusuri dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadist yang relevan, serta memberikan pelajaran-pelajaran penting yang bisa kita ambil untuk menjaga bumi yang kita cintai.
Allah Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَاۤءِ فَسَوّٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ ۗ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ
“Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 29)
Konsep Khalifah dan Tanggung Jawab Manusia terhadap Alam
Dalam Islam, manusia diciptakan sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi yang diberi amanah untuk menjaga dan mengelola alam. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 30:
“وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً”
“Dan ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.'” (Al-Baqarah: 30)
Sebagai khalifah, manusia diberi tanggung jawab untuk neribadah dan menjaga alam dan segala isinya, termasuk bumi, air, udara, serta segala makhluk hidup. Sebagaimana tugas seorang khalifah, kita harus mengelola sumber daya alam dengan bijaksana dan tidak melakukan kerusakan. Kerusakan lingkungan yang terjadi, seperti deforestasi atau perusakan ekosistem, adalah pelanggaran terhadap amanah yang diberikan oleh Allah Ta’ala.
Larangan Merusak Alam dan Mengambil Sumber Daya Alam Secara Berlebihan
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Al-A’raf: 56)
Ayat ini memberikan peringatan tegas kepada umat manusia untuk tidak merusak bumi setelah Allah menciptakannya dengan sebaik-baiknya. Allah menciptakan bumi dengan segala kesempurnaannya, menyediakan sumber daya alam yang cukup untuk kebutuhan hidup manusia, serta menyusun sistem ekosistem yang seimbang dan harmonis. Namun, manusia dengan keserakahan dan ketamakan sering kali menyalahi tujuan penciptaan ini dengan merusak alam. Dalam ayat ini, Allah mengingatkan bahwa kerusakan yang ditimbulkan oleh manusia akan membawa dampak yang buruk bagi kehidupan di bumi.
Makna “berbuat kerusakan di bumi” di sini mencakup berbagai tindakan manusia yang merusak alam dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Ini bisa berupa penebangan hutan secara liar, perburuan satwa liar yang berlebihan, pencemaran udara dan air, penggundulan lahan untuk kepentingan ekonomi jangka pendek, dan sebagainya. Semuanya adalah bentuk kerusakan yang mengancam kelestarian bumi. Dengan melakukan kerusakan-kerusakan tersebut, manusia bukan hanya merusak alam, tetapi juga merusak kehidupan dirinya sendirian orang lain, karena pada akhirnya alam yang rusak akan memberikan dampak negatif bagi kesehatan, kesejahteraan, dan kehidupan sosial.
Makna “berdoa kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap” menunjukkan bahwa kita harus kembali kepada Allah dengan penuh ketulusan, berdoa untuk meminta ampunan dan petunjuk-Nya agar kita bisa memperbaiki keadaan. Rasa takut yang dimaksud adalah takut akan akibat dari perbuatan kita yang dapat merusak alam, sementara rasa harap adalah harapan agar Allah memberikan rahmat-Nya untuk memperbaiki keadaan dan menganugerahkan bimbingan agar kita tidak kembali mengulang kesalahan yang sama.
Rahmat Allah yang disebutkan dalam ayat ini adalah janji-Nya kepada mereka yang berusaha memperbaiki kerusakan yang ada dengan cara yang baik dan benar. Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berusaha berbuat baik (muḥsinīn), termasuk dalam hal menjaga dan merawat alam ini.
Allah Ta’ala juga berfirman:
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini menjelaskan dengan sangat jelas bahwa kerusakan yang terjadi di bumi, baik di daratan maupun lautan, disebabkan oleh perbuatan manusia itu sendiri. Allah menggambarkan bahwa perbuatan tangan manusia, seperti eksploitasi yang berlebihan terhadap sumber daya alam, penggundulan hutan, dan pencemaran, menyebabkan kerusakan ekologis yang merusak keseimbangan alam. Semua ini terjadi karena manusia sering kali bertindak semena-mena tanpa memperhitungkan akibat jangka panjang yang akan terjadi.
“Kerusakan di darat dan di laut” dalam konteks ini mencakup berbagai bentuk kerusakan alam yang kita saksikan di sekitar kita. Di daratan, kerusakan dapat berupa penebangan hutan yang tidak terkendali, alih fungsi lahan yang tidak sesuai dengan daya dukung alam, dan pencemaran tanah akibat limbah industri atau pertanian. Di laut, kerusakan bisa berupa pencemaran plastik, limbah kimia, serta penangkapan ikan yang berlebihan yang mengancam keberlanjutan kehidupan laut.
Ayat ini juga menegaskan bahwa kerusakan alam yang terjadi adalah akibat dari “perbuatan tangan manusia”. Tidak ada satu pun bentuk kerusakan yang terjadi tanpa campur tangan manusia. Sebagai contoh, fenomena banjir yang sering terjadi akibat deforestasi atau perubahan iklim yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca adalah akibat dari tindakan manusia yang merusak alam. Meskipun demikian, Allah memberikan kesempatan bagi manusia untuk “kembali”, artinya, manusia diberikan kesempatan untuk bertaubat, memperbaiki perilaku mereka, dan kembali pada jalan yang benar dalam menjaga dan merawat bumi.
Ayat ini juga mengandung pesan penting tentang akibat perbuatan buruk manusia: “supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka”. Ini menunjukkan bahwa kerusakan alam dan bencana yang terjadi di dunia adalah sebagian dari hukuman atau akibat dari dosa-dosa yang dilakukan manusia, yang disebabkan oleh ketidakpedulian dan keserakahan mereka terhadap lingkungan.
Islam sangat melarang segala bentuk kerusakan di muka bumi. Dalam surat Al-A’raf ayat 31, Allah Ta’ala berfirman:
“وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ”
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (Al-A’raf: 31)
Ayat ini mengajarkan kita untuk tidak berlebihan dalam memanfaatkan sumber daya alam. Kita diingatkan untuk hidup sederhana, tidak boros, dan menjaga keberlanjutan alam. Sebagai contoh, ketika kita menggunduli hutan untuk kepentingan ekonomi jangka pendek, seperti menanam jagung yang menghabiskan banyak lahan, kita sebenarnya merusak keseimbangan alam. Akibatnya, tanah menjadi gundul, banjir sering terjadi, dan suhu semakin meningkat. Islam mengajarkan agar kita tidak melampaui batas dan menjaga alam tetap terjaga untuk generasi mendatang.
Menghargai Keberagaman Alam
Islam mengajarkan kita untuk menghargai semua ciptaan Allah, termasuk tumbuhan dan hewan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ”
Artinya: “Pada setiap makhluk hidup yang bernapas, terdapat pahala (jika kita berbuat baik kepadanya).” (Hadis Riwayat Bukhari)
Keberagaman hayati sangat penting untuk keseimbangan ekosistem. Penggundulan hutan dan penanaman tanaman monokultur seperti jagung yang masif dapat merusak keseimbangan tersebut, menyebabkan ketidakseimbangan ekologis yang berdampak negatif pada iklim dan kehidupan di sekitar kita.
Pelajaran yang Bisa Diambil
- Menjaga alam adalah bagian dari iman: Sebagai umat Islam, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga alam. Merusak alam adalah pelanggaran terhadap amanah yang diberikan oleh Allah Ta’ala.
- Bijaksana dalam memanfaatkan sumber daya alam: Islam mengajarkan agar kita menggunakan sumber daya alam secara bijaksana dan tidak berlebihan, baik itu air, tanah, atau tanaman.
- Menanam pohon sebagai amal jariyah: Menanam pohon atau merawat lingkungan adalah bentuk amal yang terus mengalir pahalanya, bahkan setelah kita meninggal dunia.
- Menghargai keberagaman hayati: Alam dengan segala keberagaman makhluk hidupnya harus dihargai dan dijaga agar tetap seimbang dan lestari.
Kesimpulan
Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga lingkungan dan mengelola alam dengan bijaksana. Manusia sebagai khalifah di bumi memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan alam dan memanfaatkan sumber daya alam dengan bijaksana. Penggundulan hutan untuk kepentingan ekonomi jangka pendek seperti menanam jagung tanpa mempertimbangkan dampaknya dapat merusak keseimbangan alam, meningkatkan suhu, dan menyebabkan bencana alam seperti banjir. Oleh karena itu, umat Islam diajarkan untuk hidup selaras dengan alam, menjaga keberagaman hayati, dan memperhatikan kelestarian bumi sebagai amanah dari Allah Ta’ala.
Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk menjaga lingkungan, agar bumi ini tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang. Aamiin
Wallahu ‘alam
…
“Bumi adalah tempat tinggal kita, dan menjaga alam adalah bagian dari ibadah kita kepada Allah.”
***
Girisekar, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, 27 Rajab 1446 H/27 Januari 2025 M.
Ditulis oleh : Muhammad Dimas Prasetyo
Artikel : Meciangi.or.id






