Pertanyaan:
Di bulan Ramadhan, mana yg lebih utama, kita perbanyak bacaannya sampe khatam beberapa kali? Atau kita pahami maknanya, cuma paling khatamnya sekali atau bahkan nggak sampe khatam?
Jawaban:
Bismillah Wassholaatu Wassalaamu ‘alaa Rosulillah
Berikut ini adalah perkataan berharga dari Imam Ibnul Qayyim rahimahullah yang menjelaskan perbedaan pendapat ulama tentang mana yang lebih utama antara membaca Al-Qur’an sedikit dengan tadabbur (merenungi maknanya) dan membaca banyak namun tanpa tadabbur.
Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata: “Para ulama berbeda pendapat tentang mana yang lebih utama antara membaca Al-Qur’an dengan tartil dan sedikit, atau membacanya dengan cepat dan banyak. Ada dua pendapat dalam hal ini:
1. Pendapat Pertama:
Ibnu Mas‘ud, Ibnu ‘Abbas, dan para ulama lainnya berpendapat bahwa membaca Al-Qur’an dengan tartil dan tadabbur, meskipun jumlah bacaannya sedikit, lebih utama daripada membacanya dengan cepat dalam jumlah banyak. Para pendukung pendapat ini berargumen bahwa tujuan utama dari membaca Al-Qur’an adalah memahami dan mentadabburinya, serta mengamalkannya. Membaca dan menghafalnya hanyalah sarana untuk mencapai tujuan tersebut.
Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama salaf:
“Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan, tetapi sebagian orang justru menjadikan tilawahnya sebagai amal tanpa memahami maknanya.”
Oleh karena itu, ahli Al-Qur’an sejati adalah mereka yang memahami dan mengamalkan isinya, bukan sekadar yang menghafalnya. Jika seseorang hanya menghafalnya tanpa memahami dan mengamalkan isinya, maka ia bukan termasuk ahli Al-Qur’an yang sebenarnya, meskipun ia mampu membacanya dengan sangat fasih.
Dalil mereka adalah sabda Rasulullah ﷺ:
“Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an adalah seperti ‘Ar-Raihanah’ (sejenis bunga), baunya harum tetapi rasanya pahit.” (HR. Al-Bukhari no. 5059, Muslim no. 797).
Dalam hal ini, manusia terbagi dalam empat golongan:
- Orang yang memiliki iman dan mengamalkan Al-Qur’an → Ini adalah golongan terbaik.
- Orang yang tidak memiliki iman dan tidak membaca Al-Qur’an.
- Orang yang membaca Al-Qur’an tetapi tidak beriman.
- Orang yang beriman tetapi tidak membaca Al-Qur’an.
Sebagaimana orang yang memiliki iman tanpa membaca Al-Qur’an lebih baik daripada yang membaca Al-Qur’an tetapi tanpa iman, begitu pula orang yang membaca Al-Qur’an dengan tadabbur lebih baik daripada yang membacanya dengan cepat tanpa tadabbur.
Dalil lainnya adalah bahwa Rasulullah ﷺ sering membaca Al-Qur’an dengan tartil, bahkan pernah membaca satu ayat sepanjang malam dalam shalatnya:
2. Pendapat Kedua:
Sebagian ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa membaca Al-Qur’an dalam jumlah banyak lebih utama. Mereka berdalil dengan hadis:
“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka ia mendapatkan satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan ‘Alif Lam Mim’ satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi no. 2910, dishahihkan oleh Al-Albani).
Mereka juga menyebutkan bahwa Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu pernah mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu rakaat, dan banyak dari kalangan salaf yang membaca Al-Qur’an dalam jumlah besar dalam waktu singkat.
Kesimpulan:
1. Pendapat yang lebih tepat adalah bahwa pahala membaca Al-Qur’an dengan tartil dan tadabbur lebih besar dalam kualitasnya, sementara pahala membaca Al-Qur’an dalam jumlah besar lebih banyak secara kuantitas. Perbandingannya seperti seseorang yang bersedekah dengan permata yang sangat berharga (sedikit tetapi bernilai tinggi) dibandingkan dengan seseorang yang bersedekah dengan banyak koin kecil (jumlahnya banyak tetapi nilainya lebih rendah).
2. Dalam Shahih Al-Bukhari, disebutkan bahwa Qatadah pernah bertanya kepada Anas bin Malik tentang cara Rasulullah ﷺ membaca Al-Qur’an, lalu Anas menjawab:
“Beliau membacanya dengan perlahan dan penuh penghayatan.” (HR. Al-Bukhari no. 5045).
3. Diriwayatkan juga oleh Syu’bah bahwa Abu Jamrah berkata: “Aku berkata kepada Ibnu ‘Abbas: ‘Aku adalah orang yang membaca Al-Qur’an dengan cepat, terkadang aku mengkhatamkannya dalam satu atau dua malam.’Lalu Ibnu ‘Abbas menasihatinya:
“Membaca satu surat saja dengan penuh pemahaman lebih aku sukai daripada membacanya dengan cepat. Namun, jika kamu tetap ingin melakukannya, maka bacalah dengan suara yang dapat didengar oleh telingamu dan dipahami oleh hatimu.’” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhail Al-Qur’an no. 608).
Dari Ibrahim, bahwa ‘Alqamah membaca Al-Qur’an di hadapan Ibnu Mas’ud—dan ia memiliki suara yang indah. Lalu Ibnu Mas’ud berkata:
“Bacalah dengan tartil, karena itu adalah perhiasan Al-Qur’an.” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ 1/132).
Ibnu Mas’ud juga berkata:
“Janganlah kalian membaca Al-Qur’an seperti tergesa-gesa membaca syair, dan janganlah kalian menghamburkannya seperti kurma yang berjatuhan. Berhentilah di setiap ayat yang mengandung keajaiban, dan gerakkan hati kalian dengannya. Janganlah tujuan kalian hanya sekadar mencapai akhir surat.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra 2/385).
Jika seseorang bisa menggabungkan antara kuantitas dan kualitas, antara jumlah khatam yang banyak disertai dengan tadabbur, maka pahalanya jauh lebih besar. semoga kita dimudahkan untuk bisa banyak membaca Al Qur’an dengan mentadabburinya, baik itu di bulan Ramadhan maupun di bulan-bulan lainnya. Aamiin
Wallahu a‘lam.
Sumber utama:
- Zad Al-Ma’ad (1/337-340), Ibnul Qayyim.
- Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan At-Tirmidzi.
- Ash-Shahih was-Saqim fi Fadhail Al-Qur’an Al-Karim, Amāl Sa‘di.
…
“Jiwa yang rindu cahaya, Al-Qur’an bukan sekadar untaian kata, tetapi lautan makna yang dalam tak terhingga. Bacalah dengan hati yang hidup, bukan sekadar lisan yang cepat berucap. Sebab ayat-ayatnya bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk direnungkan, dihayati, dan diamalkan”
***
Kota Surabaya, 21 Sya’ban 1446 H/20 Februari 2025 M.
Ditulis oleh : Muhammad Dimas Prasetyo
Artikel : Meciangi.or.id






