Bismillah, alhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’iin, wa badu.
Berbicara terntang Imam Al-Kisa’i, beliau adalah seorang ulama dalam bidang ilmu nahwu, bahkan beliau juga termasuk diantara ulama ahli qiro’ah sab’ah. Dimasa-masa belajarnya, Imam Al-Kisai pernah merasakan putus asa ketika mempelajari satu cabang dari ilmu bahasa arab yaitu Ilmu Nahwu. Namun karena melihat seekor semut yang gigih membawa makanan menaiki sebuah dinding, Imam Al-Kisa’i-pun terinspirasi dan mendapatkan pelajaran berharga dari semut tersebut.
Asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah pernah menceritakan mengenai kisah Imam al-Kisa’i tersebut dalam kitabnya Kitabul ‘Ilmi sebagai berikut :
وقد حدثني شيخنا المثابر عبد الرحمان السعدي – رحمه الله – أنه ذكر عن الكسائي إمام أهل الكوفة في النحو أنه طلب علم النحو فلم يتمكن، وفي يوم من الأيام وجد نملة تحمل طعاما لها وتصعد به إلى الجدار وكلما صعدت سقطت، ولكنها ثابرت حتى تخلصت من هذه العقبة وصعدت الجدار، فقال الكسائي : هذه النملة ثابرت حتى وصلت الغاية، فثابر حتى صار إماما في النحو
“Dan sungguh Syaikh kami yang tekun Abdurrahman as-Sa’diy – rahimahullah – telah menceritakan kepadaku bahwa dia pernah menyebutkan tentang Al-Kisa’i yaitu Imamnya penduduk kota kufah dalam bidang ilmu nahwu.
Bahwasanya beliau (Imam Al-Kisa’i) pernah mempelajari ilmu nahwu namun beliau tidak pernah berhasil. Pada suatu ketika beliau mendapati seekor semut yang membawa makanannya menaiki sebuah dinding, dan setiap kali dia naik dia terjatuh, akan tetapi dia bersabar hingga akhirnya dia-pun lolos dari rintangan tersebut dan berhasil naik keatas dinding.
Lalu Al-Kisa’ berkata : “Semut ini saja ia berusaha hingga sampai pada tujuannya”, maka beliau-pun bersungguh-sungguh (dalam belajar), hingga akhirnya ia menjadi Imam dalam bidang ilmu nahwu.” [Kitaabul ‘Ilmi li Fadhilati Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimiin, hal : 47]
Setelah membawakan kisah tersebut, lalu Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin memberikan kepada kita motivasi:
ولهذا ينبغي لنا أيها الطلبة أن نثابر ولا نيأس فإن اليأس معناه سد باب الخير، وينبغي لنا ألا نتشاءم بل نتفاءل وأن نعد أنفسنا خيرا
“Oleh karena itu, wahai para pelajar, kita seharusnya bersungguh-sungguh dan tidak berputus asa, karena putus asa berarti menutup pintu kebaikan. Kita juga tidak boleh pesimis bahkan harus optimis dan mempertimbangkan kebaikan untuk jiwa-jiwa kita.” [Kitaabul ‘Ilmi li Fadhilati Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimiin, hal : 47].
Dari sini dapat diambil ibroh bahwa tidak boleh bagi penuntut ilmu putus asa dalam belajar, apalagi sampai lari meninggalkan majelis ilmu atau pondok pesantren, justru yang seharusnya pupuk semangat yang membara untuk mengangkat kebodohan, dan perhatikan serta tadabburilah keadaan makluk-makhluk Allah yang lain seperti semut, sebab pada mereka ada ibroh. Wallahu a’alam.
1. Mempelajari ilmu nahwu sulit ketika di awal-awal mempelajarinya, tapi yakinlah sesulit apapun pelajarannya, ia akan menjadi mudah pada diakhirnya selama kita mau bersabar.
2. Imam Al-Kisa’i adalah Imam ahli nahwu dan Imam ahli qiro’ah sab’ah, sempat berputus asa dalam belajar, namun beliau kembali semangat tatkala melihat seekor semut yang sabar membawa makanan menaiki sebuah dinding, hingga akhirnya semut itu berhasil.
3. Memperhatikan tingkah laku binatang, bisa memberikan motivasi dan inspirasi kepada kita
4. Semut termasuk binatang yang gigih dan pantang menyerah
5. Bahasa arab adalah pintu pembuka ilmu, barangsiapa yang menguasainya dia akan menguasai seluruh ilmu sebagaimana ucapan Imam Asy-Syafi’i :
من تبحر في النحو اهتدى إلى جميع العلوم
“Barangsiapa yang menguasai ilmu nahwu, dia dimudahkan untuk memahami seluruh ilmu”. [Syadzaraat Adz-Dzahab, 2/407. Cet. Daar Ibni Katsir]
6. Pentingnya sabar, terutama dalam menuntut ilmu
7. Buruknya sifat putus asa, karena putus asa artinya menutup rapat-rapat pintu kebaikan.
8. Putus asa termasuk sifat orang-orang kafir sebagaimana firman Allah Ta’ala :
«إِنَّهُۥ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْكَـٰفِرُونَ»
Artinya : “Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. Yusuf : 87)
9. Pentingnya optimis dan buruknya sifat pesimis
10. Pentingnya berdo’a dan minta pertolongan kepada Allah Ta’ala dalam belajar, karena ilmu itu milik Allah dan kita minta kepada Pemiliknya agar membukakan cahaya ilmu untuk kita
11. Sesudah kesulitan pasti ada kemudahan dan kita harus yakin itu sebagaimana firman Allah Ta’ala :
«فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا. إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًۭا»
Artinya : “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyiroh : 5-6)
Dan masih banyak faedah-faedah lainnya, semoga yang sedikit ini bermanfaat. Baarakallahu fiikum.
***
Repost, Gresik : 12 Sya’ban 1443 H/19 Maret 2023
Penulis : Abu Dawud ad-Dombuwiyy
Artikel : Meciangi-d.blogspot.com






