Apakah jika kita melakukan ibadah di rumah di sepuluh malam terakhir ramadhan juga bisa mendapatkan lailatul qodar meskipun tidak iktikaf di masjid Ustadz? (Abdurrahman dari Kenduruan – Tuban)
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد
Pada sepuluh malam terakhir bulan ramadhan adalah malam-malam yang diharapkan adanya malam lailatul qodar.
Oleh karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kaum muslimin untuk mencarinya pada malam malam tersebut.
التمسوها في العشر الأواخر من رمضان ليلة القدر في تاسعة تبقى، في سابعة تبقى، في خامسة تبقى
“Carilah lailatul qodar di sepuluh akhir Ramadhan, dia mungkin di 9 atau 7 atau 5 hari akhir.” (HR. Bukhari 1917)
Maka beliau pun berijtihad di 10 hari yang terakhir untuk mencari lailatul qodar.
Dari Aisyah radhiyallahu Anha :
أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا دخل العشر أحيا الليل وأيقظ أهله وشد مئزره
“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam jika sudah masuk 10 akhir beliau menghidupkan malamnya, membangun kan istrinya dan mengencangkan ikat pinggang nya.” (HR. Bukhari 1920 dan Muslim 1174)
Dan malam lailatul qodar adalah malam yang spesial di mana Allah turunkan Al Qur’an pada malam mulia tersebut.
Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Artinya : “Sungguh kami menurunkannya pada malam lailatul qodar.” (QS. Al Qodar : 1)
Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma dan lainnya mengatakan :
أنزل الله القرآن جملة واحدة من اللوح المحفوظ إلى بيت العزة من السماء الدنيا، ثم نزل مفصلاً بحسب الوقائع في ثلاث وعشرين سنة على رسول الله ﷺ
“Allah turunkan Al Quran sekaligus dari lauhil mahfudz ke baitul izzah di langit dunia, kemudian turun secara bertahap kepada Nabi ﷺ berdasarkan kejadian selama 23 tahun.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/529)
“Beramal sholeh pada malam tersebut lebih baik dari pada beramal seribu bulan.
Pada malam itu para malaikat turun karena keberkahan dan rahmat malam tersebut.
Malam tersebut adalah malam yang damai.
Dan pada malam tersebut taqdir selama setahun ke depan diberikan kepada malaikat dari lauhil mahfudz.” (Lihat Syarh Shohih Muslim, Nawawi 8/57)
Dan pada malam itu Allah ampuni dosa dosa hamba hambanya yang qiyam malam hari nya dengan iman dan berharap pahala kepada-Nya.
Oleh karena itu seorang hamba diperintahkan mencari malam tersebut dengan memaksimalkan malam malam sepuluh akhir ramadhan dengan qiyam, dzikir dan ibadah ibadah lainnya.
Dan supaya bisa maksimal maka disyariatkan lah i’tikaf sepuluh akhir ramadhan tersebut.
Namun bagi yang terhalang untuk bisa totalitas i’tikaf di sepuluh akhir ramadhan di masjid-masjid kaum muslimin seperti wanita haid, nifas, dll maka rahmat Allah sangat lah luas.
Sehingga siapa yang sholat malam pada malam lailatul qodar tersebut maka pahala lebih baik daripada qiyam selama seribu bulan yang di dalamnya tidak ada lailatul qodar.
Mujahid rahimahullah berkata :
قيامها، والعمل فيها: خير من صيام ألف شهر وقيامه، ليس فيه ليلة القدر.
“Qiyam malam itu, beramal soleh malam itu lebih baik daripada puasa dan qiyam 1000 bulan yang di dalamnya tidak ada lailatul qodarnya.” (Lihat Al BasithBasith, Al Wahidi 24/192)
Al Baghowi rahimahullah berkata :
قال المفسرون: “ليلة القدر خير من ألف شهر”، معناه: عملٌ صالحٌ في ليلة القدر، خيرٌ من عمل ألف شهر، ليس فيها ليلة القدر
“Para ahli tafsir berkata: malam lailatul qodarlebih baik daripada seribu bulan, maknanya: beramal soleh pada malam lailatul qodar lebih baik daripada beramal soleh selama 1000 bulan yang di dalamnya tidak ada lailatul qodar.” (Lihat Ma’alim Tanzil, 8/491)
Adapun yang malas i’tikaf dan dia tidak ada halangan untuk totalitas beribadah pada sepuluh akhir ramadhan maka hendaknya dia memohon kekuatan dan kemudahan kepada Allah dan tidak ikut melemahkan semangat beribadah hamba Allah yang lainnya.
Dan itulah ajaran yang ditinggalkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada ummatnya di 10 akhir ramadhan.
***
Sumberrejo, Rabu 19 Ramadhan 1446 H / 19 Maret 2025 M
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A
Artikel : Meciangi.or.id






