Jika malam ke-27 adalah yang paling diharapkan menurut mayoritas ulama berdasarkan penuturan Al-Imam Ibnu Hajar, apakah bisa artikan menurut mayoritas ulama Lailatul Qadar itu tetap (tidak berpindah) setiap tahunnya dan itu di malam ke-27 Ustadz? Jazakallahu khairan.
Jawab :
Para ulama berselisih tajam terkait kasus malam lailatul qodar sampai kurang lebih 40 pendapat.
وقد اختلف العلماء في ليلة القدر اختلافا كثيرا، وتحصّل لنا من مذاهبهم في ذلك أكثر من أربعين قولا كما وقع لنا نظير ذلك في ساعة الجمعة، وقد اشتركتا في إخفاء كل منهما ليقع الجد في طلبهما
“Dan para ulama berselisih dalam masalah lailatul qodar menjadi pendapat yang banyak.
Dan jika dikumpulkan dari pendapat madzhab maka ada sekitar 40 pendapat sebagaimana yang terjadi pada kasus waktu mustajab pada hari Jum’at, keduanya sama sama tersembunyi supaya para hamba bersungguh sungguh mencari dan mendapatkannya.” (Lihat Fathul Bari 4/262).
Dan malam tersebut lebih tepatnya terjadi pada malam malam ganjil di 10 akhir Ramadhan.
Imam Bukhari rahimahullah menulis bab :
بَابُ تَحَرِّي لَيْلَةِ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ
“Bab mencari malam lailatul qodar di 10 akhir yang ganjil.”
Dan jumhur ulama memandang bahwa malam lailatul qodar berpindah pindah tiap tahunnya.
Al Qurtuby rahimahullah berkata :
والحاصل من مجموع الأحاديث، ومما استقر عليه أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم في طلبها: أنها في العشر الأواخر من رمضان، وأنها متنقلة فيه، وبهذا يجتمع شتات الأحاديث المختلفة الواردة في تعيينها. وهو قول مالك، والشافعي، والثوري، وأحمد، وإسحاق، وأبي ثور، وغيرهم على ما حكاه أبو الفضل عياض. فاعتَمِد عليه، وتَمَسَّك به
“Dan hasilnya dari kumpulan hadits-hadits yang ada dan yang menjadi perintahnya Rasulullah ﷺ untuk mencarinya adalah pada 10 malam akhir Ramadhan dan dia pindah pindah, dan dengan ini adalah hasil dari kumpulan hadits-hadits yang ada, dan ini adalah pendapat Malik, Syafi’i, Tsauri, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, dan yang lainnya sebagaimana yang dihikayatkan Abu Fadhl Iyadh, maka pegang lah itu dan jadikan landasan.” (Lihat Al Mufhim 3/251).
Dan ini yang seharusnya dipilih untuk menjaga iman kaum muslimin, karena memilih pendapat bahwa lailatul qodar tidak berpindah-pindah hanya ada pada malam 27 walaupun seandainya pendapat ini benar maka hanya akan mewariskan futurnya para hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah yang di mana perkara ini adalah tujuan diciptakan nya para hamba di dunia ini oleh Allah Ta’ala.
Syeikh Utsaimin rahimahullah berkata :
والحكمة من كونها تتنقل أنها لو كانت في ليلة معينة، لكان الكسول لا يقوم إلا تلك الليلة، لكن إذا كانت متنقلة، وصار كل ليلة يحتمل أن تكون هي ليلة القدر صار الإنسان يقوم كل العشر
Dan hikmahnya lailatul qodar ini berpindah-pindah adalah seandainya malam itu tidak pindah-pindah maka pemalas tidak akan mengejar beribadah kecuali malam itu saja.
Akan tetapi jika dia berpindah-pindah mungkin terjadi setiap malam maka para hamba akan mengejarnya setiap malam.” (Lihat Syarh Al Mumti 6/492).
Inilah pendapat yang menjadi pilihan.
Namun menyemangati manusia dengan hadits-hadits para sahabat yang mengatakan semoga terjadi malam ini dan malam ini setiap malam maka inilah yang benar, karena para hamba membutuhkan penyemangat untuk kuat menyambut panggilan Allah Ta’ala.
***
Tuban, malam Sabtu 29 Ramadhan 1446 H/28 Maret 2025 M
Dijawab oleh : Ustadz uhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A.
Artikel : Meciangi.or.id






