Alhamdulillahilladzii arsala Rasuulahu bil huda wa diinil haq, liyudzhirahu ‘ala ad-diini kullihi walau karihal kaafiruun. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’iin, wa ba’du.
Bersihnya hati adalah perkara yang diinginkan oleh syariat kita.
Kenapa sucinya hati merupakan hal yang urgen dalam kehidupan kita?
Karena hati tempatnya keimanan,
Tempatnya ilmu, tempatnya khosyatullah.
Dengan bersihnya hati ia akan mudah menerima petunjuk, ia akan mudah menyerap ilmu, ia akan membawa pemiliknya datang kepada Allah Ta’ala dengan kemenangan dan kegembiraan. Allah Ta’ala berfirman :
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (٨٨) إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (٨٩)
Artinya : “(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,
kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy Syu’araa’ 26:88-89)
Namun hati kita sekarang dihadapkan oleh berbagai macam fitnah dan gelombang ujian yang silih berganti.
Cobaan dunia yang begitu masif yang menjadikannya kering dari mengingat Arrahman.
Cobaan wanita yang menodainya dan menyobek khosyah kepada Dzat Yang Maha Melihat.
Cobaan syubhat yang menyelimutinya hingga menjadikannya ringkih dari kembali kepada kemurnian agama.
Hati yang kering butuh siraman-siraman air. Hati yang sakit butuh obat. Begitu pula hati yang mati butuh ruh untuk menghidupinya.
Oleh karenanya hati adalah pemimpin dan penggerak bagi raga menuju kebaikan, keburukan atau kebiasaan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Dan ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati”. (HR. Bukhari 50)
Tanda bahwasanya hati itu baik adalah ia mudah terenyuh dengan ayat-ayat Allah Ta’ala . Ia tenang saat beramal shalih. Selalu berlabuh ke dermaga kebenaran. Selalu rindu untuk bertemu Rabbnya. Hidup bersinar dengan bimbingan Al-Qur’an dan Sunnah. Itu lah hati sejati seorang mukmin.
Sebaliknya hati yang sombong lagi angkuh. Terombang-ambing dalam kebingungan dan kehampaan. Tenggelam dalam dosa dan kemaksiatan. Itulah hati yang sakit, yang bisa jadi perlahan-lahan akan menuju pada kematiannya. Dan sangat layak bagi Sang Penguasa hati mengumpulkan pemiliknya kelak dan dilempar kedalam api. Supaya hati itu bersih kembali kemudian dikeluarkan dari neraka yang masih tersimpan cahaya keimanan dihatinya. Kemudian Sang Khalik memasukkannya ke dalam tempat kenikmatllĺ yaitu Surga-Nya ‘Azza wa Jalla. Sehingga hati yang gelap tadi akan mampu bersinar kembali dengan bimbingan iman, yang tentunya tidak lepas dari taaufik Sang Maha Kuasa jagat raya yaitu Arrahmaanir Rohim Maliki yaumiddin.
Wallahu a’lam.
***
Sidayu-Gresik, 14 Sya’ban 1444 H/7 Maret 2023
Penulis : Ustadz Lis Mujiono, S.Pd.I
Artikel : Meciangi.or.id






