Assalamualaikum mau tanya pak bagaimana kalau kita sudah beribadah dengan baik tapi ujian kita juga semakin banyak Pak?
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد
Dunia adalah darul bala’, tempatnya ujian bagi manusia, baik yang mukmin maupun yang kafir, yang taat maupun yang bergelimang maksiat.
Tidak ada satupun manusia yang luput dari ujian di dunia ini.
Allah ta’ala berfirman :
{ ٱلَّذِی خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَیَوٰةَ لِیَبۡلُوَكُمۡ أَیُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلࣰاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِیزُ ٱلۡغَفُورُ }
Artinya : “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang terbaik amal perbuatannya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (Surat Al-Mulk: 2)
Orang beriman diuji oleh Allah ta’ala dan itu sebuah kepastian.
{ أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن یُتۡرَكُوۤا۟ أَن یَقُولُوۤا۟ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا یُفۡتَنُونَ }
Artinya : “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji?. (Surat Al-Ankabut: 2)
Orang kafir dan pelaku dosa pun pasti diuji oleh Allah ta’ala
{ أَوَلَا یَرَوۡنَ أَنَّهُمۡ یُفۡتَنُونَ فِی كُلِّ عَامࣲ مَّرَّةً أَوۡ مَرَّتَیۡنِ ثُمَّ لَا یَتُوبُونَ وَلَا هُمۡ یَذَّكَّرُونَ }
Artinya : “Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) melihat bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, namun mereka tidak (juga) bertobat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?”. (Surat At-Taubah: 126).
Fir’aun manusia terlaknat yang memiliki kekuasaan tanpa batas bergelimang harta dan kenikmatan pun tidak luput dari berbagai ujian.
{ وَلَقَدۡ أَخَذۡنَاۤ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ بِٱلسِّنِینَ وَنَقۡصࣲ مِّنَ ٱلثَّمَرَ ٰتِ لَعَلَّهُمۡ یَذَّكَّرُونَ }
Artinya : “Dan sungguh, Kami telah menghukum Fir‘aun dan kaumnya dengan kemarau bertahun-tahun dan kekurangan buah-buahan, semoga mereka mengambil pelajaran.” (Surat Al-A’raf: 130).
Di sini lah letak perbedaan ujian mukmin dan kafir, di mana orang beriman berharap pahala dari Allah ta’ala atas ujian yang menimpa mereka, sedangkan orang kafir mereka tidak memiliki harapan akhirat sama sekali.
{ إِن تَكُونُوا۟ تَأۡلَمُونَ فَإِنَّهُمۡ یَأۡلَمُونَ كَمَا تَأۡلَمُونَۖ وَتَرۡجُونَ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا یَرۡجُونَۗ }
Artinya : “Jika kalian kesakitan, maka mereka pun juga merasakan kesakitan sebagaimana yang kalian rasakan, sedangkan kalian berharap dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan.” (Surat An-Nisa’: 104)
Dan semakin tinggi derajat iman seseorang maka ujian yang menimpanya pun akan semakin berat.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah ditanya:
أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً ؟ ، قَالَ: ( الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ ، فَمَا يَبْرَحُ البَلَاءُ بِالعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
Siapakah yang paling berat cobaannya? Beliau menjawab : para Nabi, kemudian yang terbaik dan yang terbaik setelahnya. Seseorang diuji sesuai kadar agamanya, jika agamanya kokoh maka akan semakin kuat cobaannya, dan jika agamanya tipis maka dia akan diuji sesuai kadar agamanya. Maka dia masih saja diuji sampai dia benar benar berjalan di muka bumi ini tanpa dosa apapun. (HR Tirmidzi 2398, Ibnu Majah 4023 dan di Shahih kan Syeikh Albani)
Syeikh Utsaimiin rahimahullah berkata :
(أشد الناس بلاءً الأنبياء) لأن الله سبحانه وتعالى ابتلاهم بالنبوة ، وابتلاهم بالدعوة إلى الله ، وابتلاهم بقوم ينكرون ويصفونهم بصفات القدح والذم ، ولكن هذا الابتلاء هو في الواقع ؛ لأن كل ما أصابهم من جرائها فهو رفعة في درجاتهم .
Para Nabi adalah manusia yang paling berat ujiannya.
Karena Allah ta’ala menguji mereka dengan kenabian, dakwah, menguji mereka dengan kaum yang melawan mereka, mensifati mereka dengan sifat sifat yang menyakitkan dan cacian, inilah realitanya. Akan tetapi hakikat nya ini semua adalah ketinggian derajat. Lihat Liqo Bab Maftuh, Utsaimiin 13/94.
Jadi intinya tidak ada manusia yang bisa berlepas diri dari ujian sampai ajal menjemputnya, maka tidak ada pilihan bagi kita kecuali sabar, kembali kepada Allah ta’ala dan berharap pahala darinya.
Semoga bermanfaat.
***
Sumberejo, Kamis 8 Dzulqodah 1445 H/16 Mei 2024 M
Oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A
Artikel : Meciangi.or.id






