Apakah hukumnya profesi sulam alis? (Azula)
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى اله وصحبه أجمعين وبعد
Sulam alis ada dua jenis :
Yang pertama : adalah dengan mencabutnya, maka ini masuk kategori namsh yang diharamkan dalam hadits Nabi ﷺ :
لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ
“Semoga Allah melaknat pemilik tato dan yang meminta tato, dan yang menyulam alis dan yang meminta sulam alis, dan behel gigi untuk keindahan yang merubah ciptaan Allah.” (HR. Bukhari 4886 dan Muslim 2125).
Yang kedua : adalah dengan mencukur bulunya bukan dengan mencabutnya, maka yang seperti ini diperselisihkan antara ulama antara yang membolehkan dan melarangnya.
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata :
فأما النامصة: فهي التي تنتف الشعر من الوجه، والمتنمصة: المنتوف شعرها بأمرها؛ فلا يجوز، للخبر. وإن حلق الشعر: فلا بأس؛ لأن الخبر إنما ورد في النتف.
“Adapun Namishoh dialah yang mencabut bulu di wajahnya dan yang minta dicabut bulunya maka ini tidak boleh berdasarkan hadits, dan jika mencukur bulunya maka tidak mengapa; karena haditsnya terkait dengan mencabut.” (Lihat al Mughni 1/107).
Dalam ensklopedia Kuwaitiyah disebutkan:
وَاخْتَلَفُوا فِي الْحَفِّ وَالْحَلْقِ : فَذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إلَى أَنَّ الْحَفَّ فِي مَعْنَى النَّتْفِ ، وَذَهَبَ الْحَنَابِلَةُ إلَى جَوَازِ الْحَفِّ وَالْحَلْقِ , وَأَنَّ الْمَنْهِيَّ عَنْهُ هُوَ النَّتْفُ فَقَطْ
“Dan mereka berbeda pendapat terkait mencukur atau memendekkan. Maka malikiyah dan Syafi’iyah menganggap memendakkan masuk kategori mencabut, dan para Hambali membolehkan memendekkan dan mencukurnya, dan larangan hanya pada mencabut saja.” (Lihat Mausuah Kuwaitiyah 14/82).
Dan Syeikh Utsaimin rahimahullah menambahkan jika ada hajat maka tidak mengapa menyulamnya dimana beliau berkata:
ولكن الذي نرى أنه ينبغي للمرأة – حتى وإن قلنا بجواز أو كراهة تخفيفه بطريق القص أو الحلق – أن لا تفعل ذلك إلا إذا كان الشعر كثيراً على الحواجب ، بحيث ينزل إلى العين ، فيؤثر على النظر فلا بأس بإزالة ما يؤذي منه
“Dan akan tetapi kami memandang bahwa seharusnya bagi wanita walaupun seandainya kami mengatakan boleh atau makruh memendekkan alis dan mencukurnya, hendaknya tidak melakukannya kecuali jika rambutnya sangat tebal sampai menutupi mata sehingga mengganggu pandangan maka tidak mengapa untuk menghilangkannya.” (Lihat Fatawa Syeikh Utsaimin 11/133).
Dan Syeikh bin Baz rahimahullah termasuk yang melarang kedua jenisnya, beliau berkata:
فشعر الحاجبين لا يجوز أخذه ولا قصه ولا نتفه
“Maka bulu alis tidak boleh diambil maupun memotongnya dan mencabutnya.” (Lihat Fatawa bin Baz 16514).
Dari sini bisa disimpulkan bahwa profesi sulam alis diperbolehkan jika untuk hajat atau mengobati penyakit atau menutupi aib dan yang semisalnya. Adapun profesi sulam alis untuk kecantikan maka tidak diperbolehkan.
Begitu pula dengan profesi kecantikan yang lainnya selama itu sifatnya non permanen seperti make up, celak mata dll maka diperbolehkan, adapun yang sifatnya permanen maka tidak diperbolehkan karena termasuk merubah ciptaan Allah Ta’ala.
***
Mekkah, Selasa 16 Shofar 1446 H / 20 Agustus 2024 M
Jijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A
Artikel : Meciangi.or.id






