Bismillah.
Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah menyimpan banyak sekali faidah dalam ilmu aqidah. Diantaranya adalah beliau banyak membawakan ayat-ayat yang menjelaskan hakikat tauhid secara terperinci dan juga lawannya yaitu syirik.
Pada kesempatan ini kami memohon taufik kepada Allah untuk memulai mengumpulkan ayat-ayat seputar tauhid dan syirik yang beliau bawakan dan menyajikan keterangan secukupnya untuk menggali faidah darinya. Semoga bisa menjadi penambah iman dan penguat ketaatan kita kepada Allah.
Ayat Pertama
Firman Allah :
وََمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالأِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Kami ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat : 56)
Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah menjelaskan, bahwa makna ayat ini adalah bahwa Allah menciptakan mereka untuk diperintah agar beribadah kepada-Nya dan dilarang dari bermaksiat kepada-Nya (lihat Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin, 6/189)
Ali bin Abi Thalib menafsirkan ayat itu, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk Aku perintahkan mereka beribadah kepada-Ku dan Aku seru mereka untuk beribadah kepada-Ku.” Mujahid berkata, “Melainkan untuk Aku perintah dan larang mereka.” Inilah penafsiran yang dipilih oleh az-Zajaj dan Syaikhul Islam (lihat ad-Durr an-Nadhidh, hal. 10)
Ayat tersebut berisi penjelasan tentang tauhid. Sisi pemahamannya adalah karena para ulama salaf terdahulu menafsirkan firman Allah (yang artinya), “Kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” dengan makna, “Supaya mereka mentauhidkan-Ku.” (lihat at-Tam-hid, hal. 11)
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan :
والعبادة بمفهومها العام هي “التذلل لله محبة وتعظيماً بفعل أوامره واجتناب نواهيه على الوجه الذي جاءت به شرائعه”
“Ibadah dalam konsep yang umum adalah perendahan diri kepada Allah dengan penuh kecintaan dan pengagungan dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya sebagaimana yang telah diatur di dalam syariat-syariat-Nya.” (lihat Syarh Tsalatsah al-Ushul [klik])
Hakikat ibadah itu adalah ketundukan dan perendahan diri. Apabila disertakan bersamanya kecintaan dan kepatuhan maka jadilah ia ibadah secara syar’i. Dalam tinjauan syari’at, ibadah itu adalah melaksanakan perintah dan menjauhi larangan dengan dilandasi rasa cinta, harap, dan takut (lihat at-Tam-hiid, cet. Dar al-Minhaj, hal. 22)
Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “… ibadah adalah segala sesuatu yang disyari’atkan oleh Allah berupa ucapan dan perbuatan, yang tampak/lahir maupun yang tersembunyi/batin.” (lihat I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitab at-Tauhid, 1/40)
al-Baghawi rahimahullah berkata, “Ibadah adalah ketaatan yang disertai perendahan diri dan ketundukan. Seorang hamba disebut sebagai abdi (hamba) karena perendahan diri dan ketundukannya.” (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 10)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ibadah dalam terminologi syari’at adalah ungkapan mengenai satu kesatuan perbuatan yang memadukan kesempurnaan rasa cinta, ketundukan, dan rasa takut.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 1/134 cet. Dar Thaibah)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak hafizhahullah menjelaskan :
فإنَّ العبادةَ لا تكونُ عبادةً صحيحةً مقبولةً إلَّا إذا توفَّرَ فيها أمرانِ: أنْ تكونَ خالصةً للهِ وحدَه، والثَّانية: أنْ تكونَ على الطَّريق الَّذي بيَّنَه الرَّسولُ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-، فلا يُعبَدُ اللهُ إلَّا بما شرعَ وبيَّنَهُ على ألسنِ رسلِهِ
“Sesungguhnya ibadah tidaklah disebut sebagai ibadah yang benar dan diterima kecuali apabila memenuhi dua kriteria; harus ikhlas untuk Allah semata dan yang kedua adalah harus sesuai dengan jalan/petunjuk yang diterangkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu Allah tidak diibadahi kecuali dengan syari’at dan mengikuti penjelasan para rasul-Nya.” (Tafsir Surat adz-Dzariyat ayat 56)
Syaikh as-Si’di rahimahullah berkata :
فإن تمام العبادة، متوقف على المعرفة بالله، بل كلما ازداد العبد معرفة لربه، كانت عبادته أكمل
“Sesungguhnya kesempurnaan ibadah itu sangat bergantung pada ma’rifat/pengenalan dirinya kepada Allah, bahkan semakin bertambah pengenalan hamba kepada Allah niscaya ibadah yang dia lakukan pun akan semakin bertambah sempurna.” (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, Tafsir Surat adz-Dzariyat)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Apabila engkau telah mengetahui bahwasanya Allah menciptakan dirimu supaya beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwasanya ibadah tidaklah disebut ibadah kecuali apabila disertai tauhid. Sebagaimana halnya sholat tidak dinamakan sholat tanpa thaharah/bersuci. Apabila syirik mencampuri ibadah niscaya ibadah itu rusak (tidak sah) sebagaimana halnya apabila hadats menimpa kepada thaharah.” (lihat Mu’allafat asy-Syaikh al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, hal. 199)
Semoga bermanfaat.
***
Repost : Grand Sahara – Sidayu – Gresik : 23 Shofar 1446 H / 17 Agustus 2025
Penulis : Ustadz Ari Wahyudi, S.Si
Artikel : Al-Mubarok.com






