Apa hukum menghilangkan rasa syukur seorang muslim?
Contoh kasus : Ada seorang fulan A menjual motor seharga 5 juta, fulan A tersebut merasa sangat bersyukur karena mendapat untung 200 ribu, hingga ingin mensodaqohkan sebagiannya.
Kemudian datang si fulan B, dia memanas-manasi fulan A bahwa motor yang laku dengan harga 5 juta bisa laku diharga 7 juta karena memang sebenarnya harga pasaran memang 7 juta. Akan tetapi fulan A tidak mengetahuinya.
Karna ucapan fulan B tersebut, akhirnya fulan A merasa menyesal dan hilang rasa syukurnya, karena seharusnya fulan A bisa mendapatkan untung yang lebih banyak.
Apakah omongan Fulan B itu buruk dan berdosa ustadz, karena menghilangkan rasa syukur dan keinginan sadaqoh fulan A?
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد
Rasulullah ﷺ bersabda :
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh aneh perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua perkaranya baik, dan itu tidak terjadi kecuali hanya untuk seorang mukmin; jika dia senang maka dia bersyukur maka itu baik untuknya, jika dia mendapat keburukan maka dia bersabar maka itu baik untuknya.” (HR. Muslim 2999).
Keuntungan yang didapat seseorang adalah sebuah nikmat yang wajib disyukuri, adapun kurang banyak keuntungan yang didapatkan sehingga dia menyesal dan tidak jadi bersyukur maka ini bisa merusak hati seseorang kepada Allah Ta’ala, padahal kita butuh kepada-Nya.
Bahkan mensyukuri nikmat yang dianggap sedikit bisa melapangkan hati seseorang, sehingga dia bisa menikmati hidup dan berbahagia terhadap apa yang telah Allah berikan kepadanya.
Dan perbuatan menghalangi manusia dari kebaikan dengan membuatnya menyesali rasa syukurnya kepada Allah Ta’ala termasuk akhlak yang tercela, ini adalah sifat orang orang yang menjadi musuh Allah Ta’ala.
ٱلَّذِینَ یَصُدُّونَ عَن سَبِیلِ ٱللَّهِ وَیَبۡغُونَهَا عِوَجࣰا وَهُم بِٱلۡـَٔاخِرَةِ كَـٰفِرُونَ
Artinya : “(yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah dan ingin membelokkannya. Mereka itulah yang mengingkari kehidupan akhirat.” [Surat Al-A’raf: 45]
Adapun jika itu adalah bentuk nasehat kepada kawannya supaya jangan tergesa-gesa lagi dalam bertindak supaya tidak menyesal maka tentunya ini adalah kawan yang baik.
Kemudian seorang muslim harus paham kaedah dalam berkawan dengan seseorang. Seseorang berkawan dengan kawan karena fadhilahnya dalam akhlak dan agamanya; karena inilah yang bisa memompa semangat seseorang untuk menuju kepada akhirat dan kebaikan.
Syeikh Sholeh Al Ushoimi dalam kitab Ta’dhimul Ilm berkata :
إنما يختار للصحبة من يعاشر للفضيلة لا للمنفعة ولا للذة.
“Memilih sahabat itu karena fadhilahnya, bukan mencari manfaat duniawi dan kelezatannya.”
Jika perkawanan hanya menghasilkan dunia saja maka batasi perkawanan seperti ini, karena tidak akan membawa seseorang untuk bersemangat mengejar akhirat, yang ada hanya akan membuatnya futur dari mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Semoga bermanfaat.
***
Jember, Malam Sabtu 17 Dzulqo’dah 1445 H / 24 Mei 2024 M
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A.
Artikel : Meciangi.or.id






