Pertanyaan :
Apakah ucapan “Radhiyallahu ‘anhu” dikhususkan untuk para sahabat Nabi saja?
Jawaban :
Syaikh Muhammad Ibnu Sholih Al ‘Utsaimin Rahimahullah menjawab :
Kita mengatakan “Radhiyallah” kepada setiap mukmin, sebagaimana firman Allah Ta’ala :
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)
Namun yang sudah terkenal dikalangan ahlul ilmi adalah mengkhususkan “Radhiyallahu” kepada para Sahabat Nabi dan “Rahimahullah” kepada orang shalih yang datang setelah mereka, meskipun sebagian ulama menyebutkan “radhiyallah” kepada empat imam madzhab.
Dan keumuman yang tersebar pada manusia secara global bahwa permintaan agar diridhoi dikhususkan kepada Sahabat Nabi, Dan permintaan rahmat diperuntukkan kepada siapa saja yang datang setelah mereka agar tidak menimbulkan kesalahpahaman bagi yang mendengar jika “Radhiyallah” diucapkan kepada seorang Tabi’in misalnya dapat menimbulkan sangkaan bahwa Tabi’in tersebut adalah Sahabat Nabi Shallalahu ‘alaihi wa Sallam
Sumber: Fatawa Nur ‘Ala Dhorb, jilid 1, hal. 676
__________
Bandung, 12 Rabiul Awal 1446/ 16 September 2024
Alih Bahasa : Muhammad Dimas Prasetyo
Artikel : meciangi.or.id






