Rabu, Agustus 5, 2026
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
NEWSLETTER
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
No Result
View All Result
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
No Result
View All Result

Muhasabah di Usia 60 Tahun (Seri 1)

Abu Dawud ad-Dombuwiyy by Abu Dawud ad-Dombuwiyy
21 Juli 2026
in TAZKIYATUN NUFUS
Reading Time: 6 mins read
0
Home TAZKIYATUN NUFUS

Bismillah, alhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in. Wa ba’du.

RELATED POST

Muhasabah di Usia 60 Tahun (Seri 2)

Terbatasnya Pengetahuan Manusia

Muhasabah atau mengintrospeksi diri merupakan kebiasaan orang-orang sholeh. Para salaf dahulu mereka selalu menghitung-hitung umurnya, lebih-lebih ketika umur mereka telah mencapai 60 tahun atau mendekati 60 tahun, atau telah melewati 60 tahun, agar dengan hal itu mereka bisa mengambil pelajaran dan bertaubat kepada Allah, kembali kepada-Nya dari dosa-dosa dan maksiat yang pernah mereka lakukan dimasa yang lampau dari usianya.

Asy-Syaikh Ali bin Sa’id bin Da’jam dalam kitab beliau Yaa Shoohibas Sittiin menceritakan kisah Taubah bin Summah :

وهذا توبة بن الصمة وكان بالرقة، وكان محاسبا لنفسه فحسب يوما فإذا هو ابن ستين سنة فحسب أيامها فإذا هي أحد وعشرين ألف يوم وخمسمائة يوم فصرخ وقال : يا وليتي، ألقي المليك بواحد وعشرين ألف وخمسمائة ذنب، كيف وفي كل يوم ذنب؟! ثم خر مغشيا عليه فإذا هو ميت، فسمعوا قائلا يقول : يا لك ركضة إلى الفردوس الأعلى. 

فهكذا ينبغي للمرء أن يحاسب نفسه على الأنفاس وعلى معصية بالقلب والجوارح في كل ساعة، ولو رمى العبد لكل معصية حجرا في داره لامتلأت داره في مدة يسيرة قريبة من عمره، ولكنه يتساهل في حفظ المعاصي والملكان يحفظان عليه ذلك «أَحْصَىٰهُ ٱللَّهُ وَنَسُوهُ ۚ»

قال إسماعيل بن عبيد الله : قال لي عمر بن عبد العزيز : يا إسماعيل كم أتت عليك من سنة؟ قلت : ستون سنة وشهور، قال : يا إسماعيل إياك والمزاح

:قال الشاعر

والشيب يقطع من ذي اللهوى شهوته

ويذهب المزح ممن كان مزاحا

“Berikut ini adalah Taubah bin Summah yang tinggal di Riqqoh. Ia mengintrospeksi dirinya, ternyata ia sudah berusia 60 tahun. Ia menghitung hari-harinya, ternyata jumlahnya 21.500 hari. Ia berteriak dan berkata, “Celaka! Aku menjumpai Rabb-ku dengan 21.500 dosa?! Lalu bagaimana jika setiap harinya aku melakukan banyak dosa?” Beliau langsung jatuh tersungkur, pingsan, ternyata ia telah meninggal dunia. Lalu mereka-pun mendengar orang berkata, “Sungguh engkau melakukan lompatan menuju surga Firdaus yang tertinggi.

Demikian pula semestinya bagi setiap orang agar ia mengintrospeksi dirinya atas segala desah nafasnya dan atas maksiat baik dengan hatinya maupun anggota badannya setiap hari. Kalau seandainya untuk setiap maksiat seorang hamba melempar batu di rumahnya, pasti rumahnya dalam jangka pendek sudah penuh dengan batu. Akan tetapi dia justru mempermudah (terlalu santai) dalam menjaga diri dari maksiat, sementara dua malaikat selalu memantaunya, (artinya) “Allah tetap menghitung (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya.

Berkata Isma’il bin ‘Ubaidillah : “‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pernah berkata kepadaku, ‘Wahai Isma’il! Sudah berapa tahun yang engkau lewati dalam hidupmu? ‘Aku menjawab, ’60 tahun ditambah beberapa bulan.’ Beliau berkata, ‘Wahai Isma’il, waspadalah!, jangan banyak bercanda lagi’.

Penyair mengatakan :

Uban di kepala dapat memutuskan senda gurau dan memperturutkan syahwat bagi orang yang memilikinya
Bahkan uban dapat melenyapkan canda tawa dari orang yang senang bersuka ria.” (Yaa Shoohibas Sittiin, hal.25).

Berkata Fudhail bin ‘Iyyaadh rahimahullah kepada seorang laki-laki :

كم أتى عليك؟  قال ستون سنة، قال : فأنت منذ ستين سنة تسير إلى ربك يوشك أن تبلغ، فقال الرجل : إنا لله وإنا إليه راجعون، قال له الفضيل : أتعرف تفسيره؟ قال الرجل : فسره لنا يا أبا علي، قال : فمن علم أنه عبد الله وأنه إليه راجع، فليعلم أنه موقوف، ومن علم أنه موقوف فليعلم أنه مسؤول، ومن علم أنه مسؤول فليعد للسؤال جوابا، فقال الرجل : فما الحيلة؟ قال : يسيرة، قال : ما هي؟ قال : تحسن فيما بقي يغفر لك ما مضى، فإنك إن أسأت فيما بقى أخذت بما مضى وما بقي.

“Berapa tahun usiamu?” Laki-laki itu menjawab, “Enam puluh tahun.” Beliau berkata, “Semenjak enam puluh tahun engkau berjalan menuju Rabb-mu, nyaris saja engkau sampai tujuan.” Laki-laki itu berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun.” Al-Fudhoil berkata kepadanya, “Apakah engkau mengetahui tafsir dari kalimat tersebut?” Laki-laki itu berkata, “Tolong tafsirkan kalimat itu untuk kami, Wahai Abu ‘Ali!” Beliau berkata, “Siapa saja yang menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah dan menyadari bahwasanya dia akan kembali kepada Rabb-nya, maka hendaknya ia menyadari bahwa ia pasti akan berdiri di hadapan Allah. Barangsiapa yang menyadari bahwa ia akan berdiri di hadapan-Nya, hendaknya ia menyadari bahwa ia harus bertanggung jawab. Siapa saja yang mengetahui bahwa ia harus bertanggung jawab, maka hendaknya ia menyediakan jawaban untuk pertanyaan kelak.” Laki-laki itu bertanya, “Lalu bagaimana jalan keluarnya?” Beliau menjawab, “Mudah saja.” Laki-laki itu berkata lagi, Apa itu?” Beliau menjawab, “Berbuat baiklah pada sisa usiamu, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu, karena jika engkau masih melakukan keburukan pada masa yang tersisa, maka segala perbuatanmu dimasa lampau dan yang akan datang akan diperhitungkan disisi-Nya.” (Shoohibas Sittiin, hal.28).

Subhanallah, betapa pekanya salafush sholeh dahulu dengan apa yang seharusnya mereka lakukan di sisa-sisa usia mereka. Mereka berusaha untuk terus memuhasabah diri, mengingatkan sahabat-sahabatnya tentang datangnya kematian, sehingga dengan itu mereka-pun berusaha untuk memperbaiki diri, bertaubat dan berusaha menjadi yang lebih baik dari hari sebelumnya.

Faedah yang bisa di ambil :

1. Keutamaan muhasabah (mengintrospeksi) diri

2. Mengintrospeksi diri termasuk kebiasaan orang-orang sholeh

3. Para salaf dahulu mereka senantiasa memuhasabah diri mereka dengan berbagai macam cara, terlebih bila mereka telah mencapai umur 60 tahun atau mendekati 60 tahun atau telah melewati 60 tahun

4. Kematian itu merupakan suatu kepastian yang akan menimpa siapapun, tidak hanya yang berusia 60 tahun, yang mendekati 60 tahun atau yang sudah melewati 60 tahun, tapi juga menimpa mereka yang lebih muda dari itu, baik yang berumur 50 tahun, 40 tahun, 30 tahun, 20 tahun, belasan tahun bahkan menimpa bayi-bayi yang baru di lahirkan oleh ibunya

5. Seandainya manusia telah mencapai umur 60 tahun dan dia melakukan satu dosa setiap hari, menurut Taubah bin Summah berarti dalam 60 tahun  dosa orang tersebut sudah mencapai 21.500 dosa. Lalu bagaimana lagi jika mereka dalam satu hari melakukan banyak dosa?

6. Kewajiban bagi orang-orang yang berumur 60 tahun, yang akan memasuki umur 60 tahun atau yang sudah melewati 60 tahun adalah bertakwa kepada Allah, bertaubat dari setiap dosa dan maksiat, serta memperbanyak bekal untuk menghadapi kematian dan perjalanan panjang, karena kebanyakan kematian itu berputar pada usia-usia tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

((أعمار أمتي ما بين الستين إلى سبعين وأقلهم من يجوز ذلك)) رواه الترمذي وابن ماجة.

“Umur umatku berkisar antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun. Sangat sedikit yang bisa melewatinya.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah) [Yaa Shoohibas Sittiin, hal.11].

7. Besarnya perhatian para ulama salaf terhadap usia 60 tahun

8. Takutnya para ulama salaf kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman :

«إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَـٰٓؤُا۟ ۗ »

Artinya : “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, adalah para ulama.” (QS. Fathir : 28)

9. Uban atau rambut putih yang tumbuh di kepala termasuk utusan Allah yang mengingatkan kepada kita bahwa kematian telah dekat waktunya

10. Rambut yang beruban bisa memutuskan senda gurau, canda tawa,  keinginan syahwat serta rasa cinta terhadap dunia bagi orang-orang yang takut kepada Allah

11. Apapun yang manusia lakukan sesungguhnya ada di dekat mereka malaikat pengawas yang selalu hadir mencatat amal perbuatan manusia. Allah Ta’ala berfirman :

«مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌۭ»

Artinya : “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf : 18)

12. Manusia mungkin lupa dengan dosa dan kesalahannya dimasa lampau tapi Allah tidak pernah lupa dan akan mencatatnya. Allah Ta’ala berfirman :

«يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًۭا فَيُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوٓا۟ ۚ أَحْصَىٰهُ ٱللَّهُ وَنَسُوهُ ۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ شَهِيدٌ»

Artinya : “Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Mujaadilah : 6)

13. Bolehnya kita bertanya tentang umur seseorang dalam rangka mengingatkannya tentang kematian

14. Pentingnya saling mengingatkan tentang akhirat terutama tentang penghancur kelezatan yaitu kematian

15. Tafsir dari kalimat _inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun_ menurut Fudhail bin ‘Iyyaadh yaitu, “Siapa saja yang menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah dan menyadari bahwasanya dia akan kembali kepada Rabb-nya, maka hendaknya ia menyadari bahwa ia pasti akan berdiri di hadapan Allah. Barangsiapa yang menyadari bahwa ia akan berdiri di hadapan-Nya, hendaknya ia menyadari bahwa ia harus bertanggung jawab. Siapa saja yang mengetahui bahwa ia harus bertanggung jawab, maka hendaknya ia menyediakan jawaban untuk pertanyaan kelak”.

16. Kunci kebaikan bagi orang yang telah berumur 60 tahun atau yang sudah mendekati 60 tahun atau yang telah melewati 60 tahun adalah bertaubat kepada Allah dari dosa dan maksiat, menjauhi kecondongan terhadap dunia, mengisi sisa-sisa umurnya dengan kebaikan, ketaatan dan ketakwaan. Dengan hal-hal tersebut, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.

Dan masih banyak faedah-faedah lain yang tidak bisa kita rangkum, dan semoga yang sedikit ini bermanfaat untuk kita semua. Baarakallahu fiikum.

***

Repost, Grand Sahara, Purwodadi – Sidayu – Gresik, 6 Shofar 1448 H / 21 Juli 2026 M

Penulis : Abu Dawud ad-Dumbuwiyy 

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com

ShareTweetPin
Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Penuntut ilmu dengan nama Erwin Gunawan, S.T. Pernah belajar kepada para asatidzah di Yogyakarta, diantaranya Ustadz Ahmad Halim, Ustadz Sa'id Abu Ukkasyah, Ustadz Ahmad MZ, Ustadz Ari Wahyudi, Ustadz Abu Isa, Ustadz Aris Munandar dan Ustadz Afifi Abdul Wadud dan para asatidzah lainnya. Alumni Ma'had al-Furqon al-Islamiy Srowo Sidayu Gresik. Alumni S1 Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Related Posts

Muhasabah di Usia 60 Tahun (Seri 2)
TAZKIYATUN NUFUS

Muhasabah di Usia 60 Tahun (Seri 2)

29 Juli 2026
Terbatasnya Pengetahuan Manusia
TAZKIYATUN NUFUS

Terbatasnya Pengetahuan Manusia

27 Juli 2026
Dua Nikmat yang Wajib Disyukuri
TAZKIYATUN NUFUS

Dua Nikmat yang Wajib Disyukuri

23 November 2025
Tatkala Futur dan Rasa Malas Melanda
TAZKIYATUN NUFUS

Tatkala Futur dan Rasa Malas Melanda

22 November 2025
Kesuksesan yang Sejati
TAZKIYATUN NUFUS

Kesuksesan yang Sejati

18 Desember 2025
TAZKIYATUN NUFUS

Tiada Puncak pada Kesabaran

9 November 2025
Next Post
Sholat Bershaf di Antara Dua Tiang

Sholat Bershaf di Antara Dua Tiang

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TENTANG KAMI

Website meciangi.or.id adalah situs dakwah Islam yang dikelola oleh Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi. Diantara kegiatan utama dakwah kami adalah Ma'had Meci Angi. Ma'had Meci Angi merupakan tempat menimba ilmu para penuntut ilmu yang berpijak pada pemahaman shalafus sholeh. Diantara kegiatan utamanya adalah pembelajaran bahasa arab seperti nahwu, shorof, belajar baca kitab, mengadakan daurah syar'iyyah, menerbitkan buletin serta kegiatan kegiatan dakwah lainnya.

Alamat sekretariat Website: Jln. Lintas Sumbawa, Gg. Potlot no.14. Lingkungan Rasa Bou - Kelurahan Kandai Dua - Kecamatan Woja - Kabupaten Dompu - NTB 84218.

Follow us

Terbaru

  • Pemimpin yang Dzolim Buah dari Rakyatnya yang Dzolim
  • Sunnah Memakai Peci
  • Kita Kaum Muslimin
  • Dzikir Memiliki Kedudukan yang Tinggi

Kategori

  • ADAB DAN AKHLAQ
  • AL-QUR'AN
  • AQIDAH
  • BAHASA ARAB
  • BANTAHAN
  • BIOGRAFI
  • BULETIN MECI ANGI
  • E-BOOK
  • FATWA ULAMA
  • FIQH
  • KHUTBAH JUM'AT
  • KITAB ULAMA
  • MANHAJ
  • MUTIARA SALAF
  • QOIDAH FIQH
  • SIROH
  • SYAIR
  • TAFSIR
  • TANYA JAWAB
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • USHUL FIQH
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
  • FIQH DAN MUAMALAH
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
  • LAINNYA

© 2024 by mantapp

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI

© 2024 by mantapp