Sabtu, September 19, 2026
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
NEWSLETTER
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
No Result
View All Result
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
No Result
View All Result

Kisah Seorang Penuntut Ilmu bersama Gurunya

Abu Dawud ad-Dumbuwiyy by Abu Dawud ad-Dumbuwiyy
30 Agustus 2026
in TAZKIYATUN NUFUS
Reading Time: 6 mins read
0
Home TAZKIYATUN NUFUS
Bismillah…

Ketika dia mulai memancangkan kakinya untuk menuntut ilmu, dia merasa putus asa adakah cahaya? Gelapnya kejahilan dan kebodohan masa silam membuatnya berpikir, apa bisa saya belajar agama? Lalu mulailah dia menjelajahi majelis ilmu di Kota Yogyakarta, dan yang pertama dia pelajari adalah pelajaran Nahwu, yaitu cabang dari ilmu bahasa arab.

RELATED POST

Aku Ingin Terus Semangat dalam Ibadah

Do’a Hadiah Terindah untuk Keluarga

Hari pertama dia membuka kitabnya, muncullah istilah dommah, fathah, kasroh, dia bergumam apa ini? Kemudian muncul lagi istilah baru yaitu marfu, mansub, majrur, membuat dia semakin bingung apa pula itu? Lantas disusul pula oleh istilah rofa, nashob, jar, semakin membuatnya tak mengerti, betapa gelapnya bahasa arab itu, seolah hutan yang gelap dan lebat baginya. Akhirnya dia terombang ambing dalam keraguan dan kebimbangan antara dua pilihan, lari atau terus bertahan. Maka diapun memilih bertahan.

Sejak pilihan itu diambil, diapun mulai mempelajarinya, mencoba memahaminya, namun ia merasa belajar bahasa arab seolah dibawa masuk ke sebuah hutan yang gelap, kebingungan tapi terarah karena dia dibimbing dengan sabar oleh seorang guru.

Sang guru memandangnya penuh rahmat, dan berkata, “Baarakallahu fiik“. Ucapan itu membuatnya tenang dan membuatnya seolah  didoakan kebaikan. Lalu kemudian, untuk memperkokoh perjalanannya menuju hutan Nahwu, dia mematahkan setiap ranting pohon yang dilewati, agar jika sang guru melepaskannya seorang diri di tengah hutan dia bisa mencari jalan pulang.

Hari demi hari, cahaya mulai menerangi hatinya, apa itu marfu, mansub, majrur bukan hal yang asing lagi baginya. Apalagi istilah rofa, nasob, jar bahkan sudah menjadi teman setia. Hingga muncullah istilah mubtada khobar, fiil fail, fiil naibul fail semua menambah runyam. Dia berpikir, lari atau bertahan? Lalu mengulangi pertanyaan itu dalam dirinya. Kemudian dia mencoba memilih bertahan. Sang guru menatapnya dengan rahmat dan cinta, kemudian dia berkata, “Baarakallahu fiik“, doa yang senantiasa membuatnya bertahan meskipun berat, karena diruangan itu ; tujuh belas teman-temannya tidak henti-hentinya mentertawakannya. Hingga sang guru-pun marah lalu memukul papan tulis dengan keras dan berkata: “Jangan kalian mentertawakannya, saya berharap semoga Allah menjadikan dia orang yang paling berilmu diantara kalian suatu saat nanti”. Sebuah doa yang indah, yang membuat teman-temannya terdiam dari tawa candanya.

Hari berlalu berganti bulan dan tahun, delapan belas orang yang belajar satu persatu mulai tumbang dan berguguran. Ibarat dedaunan di musim gugur, sebatang pohon yang tertiup angin, dia akan menggugurkan daun-daunnya dan menyisakan yang paling kokoh dan paling sabar. Dari delapan belas penuntut ilmu yang belajar, tersisa hanya tiga orang singa disamping sang guru hingga selesai tiga jilid kitab itu. Diantara tiga orang itu, ia salah satu di antaranya.

Kemudian mubtada khobar, fiil fail, fiil naibul fail dan sebagainya menjadi kekasih yang senantiasa disebut-sebutnya. Dhoroba al-fi’lul madhi mabniyyun ‘alal fathi. Wa Zaidun fa’ilun marfuu’un wa ‘alaamatu raf’ihi ad-dhommatu adzhohiratu liannahu ismul mufrod.

Satu jenjang kecil dia lewati, doa demi doa dari sang guru terkumpul menjadi sebuah kekuatan, menjadi sebuah tekad, menjadi sebuah kecerdasan. Hingga akhirnya sang guru membawanya ke puncak pegunungan, bukan lagi di lembah yang curam. Lalu  kemudian sang guru meninggalkannya dengan memberinya sebuah peta, yang dengan peta tersebut dia tidak akan tersesat. Peta itulah kitab yang dia pelajari.

Hari demi hari berlalu tanpa sia-sia, dia semakin semangat dan semakin mencintai bahasa arab itu, khususnya ilmu Nahwu. Hingga tiba saatnya sang guru harus pergi untuk selamanya. Sang guru berkata : “Belajarlah lebih giat, aku berharap Allah akan memberikanmu pemahaman yang dalam tentang ilmu ini.”

Guru-nya pun pergi dan takkan pernah kembali, tertinggal bersamanya doa-doa yang masih terngiang-ngiang di telinganya.

Dalam sebuah perjalanan, dia menempuh rute perjalanan menuju tempat tinggal sang guru, dan baru hari itu dia menapaki jalan tersebut. Air matanya mulai menetes. Betapa jauhnya jarak yang harus tempuh gurunya untuk mengajarkannya. Air matanya terus menetes, lalu dia berkata dalam hatinya: “Engkau bersungguh-sungguh mengajariku wahai guru, sedangkan  aku selalu bermain-main dan bahkan mengabaikan.” Demi Allah dia baru menyadari betapa semangat dan bersungguh-sungguhnya sang guru sedangkan dia di majelisnya selalu bermain-main dan mengabaikan. Sungguh diapun mulai mengerti betapa jalan-jalan itu menjadi saksi betapa besar rahmah dan kesungguhan gurunya dalam mengajarinya serta doa-doanya.

Demi mengingat jejak-jejak peninggalan gurunya dan doa-doanya, dia lalu membuka lembaran-lembaran kitab yang ditinggalkan gurunya, didalamnya terdapat coretan-coretan indah penuh makna. Dimana tertulis, marfu = rofa =, mansub = nashob, majrur = jar. Lalu disudut-sudutnya tertulis, mubtada khobar, fiil dan fail, fiil naibul fail bahkan tertulis badal dan lain sebagainya, lalu coretan-coretan itu menjadi kenangan terindah bahkan lebih indah baginya dari risalah cinta sang kekasih. Kemudian dia bertekad dan berkata : “Aku harus menjadi ahli nahwu dan aku harus membanggakan guruku, meskipun beliau telah tiada.”

Beberapa tahun-pun berlalu, datanglah salah seorang dari delapan belas orang yang bermajelis dengannya ketika itu dan meminta kepadanya untuk mengajarkannya ilmu nahwu.  Ia terdiam, ia teringat dengan doa-doa gurunya, ternyata Allah telah mengabulkan doanya. Hingga akhirnya, ia menjadi pengajar bahasa arab di salah satu pondok pesantren ternama di Indonesia.

Faedah yang bisa diambil :

1. Jangan mudah menganggap remeh teman kita yang baru belajar dan belum faham tentang satu cabang ilmu di kelas, karena Allah akan melihat pada banyak sisi ; pada niat, tekad serta kesungguhannya, dll.

2. Cerdas tapi tidak punya tekad, yang seperti ini akan berjalan di tempat, akan tetapi “bodoh” tapi punya tekad membara, kesungguhan dan niat yang ikhlas, maka dia akan keluar dari kejahilan, menjadi yang paling cerdas dan mengalahkan yang lainnya.

3. Ilmu tidak hanya didapatkan dari modal kecerdasan semata, banyak sisi yang akan menentukan suksesnya penuntut ilmu, sebagaimana ucapan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah :

أخي لن تنال العلم إلا بستة سأنبيك عن تفاصيلها ببيان : ذكاء، وحرص، واجتهاد، وبلغة، وصحبة أستاذ، وطول زمان

“Saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara yang akan saya ceritakan dengan jelas perinciannya : (1) kecerdasan, (2) semangat, (3) sungguh-sungguh, (4) kecukupan (harta), (5) dengan bimbingan guru, (6) lama waktunya.” (Diwan Asy-Syafi’i, hal.116)

4. Guru adalah teladan, yang mendoakan kebaikan bagi murid-muridnya bukan mencela dan meremehkannya

5. Perjuangan seorang guru dalam mengajarkan murid-muridnya sangat besar, terkadang hal seperti ini jarang disadari oleh para penuntut ilmu, sehingga hal seperti ini sering menjadikan para penuntut ilmu tidak pandai menghormati gurunya

6. Kecerdasan milik Allah, dan Allah bisa menyelipkan kecerdasan itu dihati siapapun jika dia bersungguh-sungguh dalam belajar, bersabar ; sebagaimana kisah Imam al-Kisa’i dengan seekor semut.

7. Pentingnya kesabaran dalam menuntut ilmu

8. Berkahnya doa seorang guru

***

Repost, Sidayu Gresik, 17 Rabiul Awwal 1448 H / 30 Agustus 2026

Penulis : Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com
ShareTweetPin
Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Penuntut ilmu dengan nama Erwin Gunawan, S.T. Pernah belajar kepada para asatidzah di Yogyakarta, diantaranya Ustadz Ahmad Halim, Ustadz Sa'id Abu Ukkasyah, Ustadz Ahmad MZ, Ustadz Ari Wahyudi, Ustadz Abu Isa, Ustadz Aris Munandar dan Ustadz Afifi Abdul Wadud dan para asatidzah lainnya. Alumni Ma'had Aly Al Furqon Al Islamiy Srowo Sidayu Gresik. Alumni S1 Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Related Posts

Aku Ingin Terus Semangat dalam Ibadah
TAZKIYATUN NUFUS

Aku Ingin Terus Semangat dalam Ibadah

15 September 2026
Do’a Hadiah Terindah untuk Keluarga
TAZKIYATUN NUFUS

Do’a Hadiah Terindah untuk Keluarga

25 Agustus 2026
Kumpulan 15 Pertanyaan Indah dalam Kehidupan
TAZKIYATUN NUFUS

Kumpulan 15 Pertanyaan Indah dalam Kehidupan

24 Agustus 2026
Penghalang Hidayah
TAZKIYATUN NUFUS

Penghalang Hidayah

18 Agustus 2026
Empat Modal Berharga Menyongsong Masa Tua
TAZKIYATUN NUFUS

Empat Modal Berharga Menyongsong Masa Tua

14 Agustus 2026
Cadar Narsis
TAZKIYATUN NUFUS

Cadar Narsis

14 Agustus 2026
Next Post
Wali Santri Takziyah ke Salah Satu Ustadz di Pondok dengan Membawa Hadiah

Wali Santri Takziyah ke Salah Satu Ustadz di Pondok dengan Membawa Hadiah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TENTANG KAMI

Website meciangi.or.id adalah situs dakwah Islam yang dikelola oleh Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi. Diantara kegiatan utama dakwah kami adalah Ma'had Meci Angi. Ma'had Meci Angi merupakan tempat menimba ilmu para penuntut ilmu yang berpijak pada pemahaman shalafus sholeh. Diantara kegiatan utamanya adalah pembelajaran bahasa arab seperti nahwu, shorof, belajar baca kitab, mengadakan daurah syar'iyyah, menerbitkan buletin serta kegiatan kegiatan dakwah lainnya.

Alamat sekretariat Website: Jln. Lintas Sumbawa, Gg. Potlot no.14. Lingkungan Rasa Bou - Kelurahan Kandai Dua - Kecamatan Woja - Kabupaten Dompu - NTB 84218.

Follow us

Terbaru

  • Hikmah dalam Berdakwah (seri 2)
  • Hikmah dalam Berdakwah (Seri 1)
  • Aku Ingin Terus Semangat dalam Ibadah
  • Bolehnya Sholat di Belakang Pemimpin yang Dzolim

Kategori

  • ADAB DAN AKHLAQ
  • AL-QUR'AN
  • AQIDAH
  • BAHASA ARAB
  • BANTAHAN
  • BIOGRAFI
  • BULETIN MECI ANGI
  • E-BOOK
  • FATWA ULAMA
  • FIQH
  • KHUTBAH JUM'AT
  • KITAB ULAMA
  • MANHAJ
  • MUTIARA SALAF
  • QOIDAH FIQH
  • SIROH
  • SYAIR
  • TAFSIR
  • TANYA JAWAB
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • USHUL FIQH
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
  • FIQH DAN MUAMALAH
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
  • LAINNYA

© 2024 by mantapp

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI

© 2024 by mantapp