إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله، فلا مُضلَّ له، ومن يُضللِ الله، فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله
(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا) [النساء: 1]
:أما بعد
Jama’ah kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Kita sekarang sama-sama berada di penghujung bulan yang mulia. Bulan yang diagungkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Bulan Dzulhijjah. Bulan yang termasuk ke dalam bulan-bulan haram.
Allah Ta’ala berfirman tentangnya:
إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu,” (QS. At Taubah 9:36)
Dalam hadits disebutkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ.
“Sesungguhnya zaman telah kembali seperti keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram: tiga bulan berturut-turut, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram; serta Rajab yang terletak antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR. Al-Bukhari, no.3197)
Dan tinggal menghitung hari lagi kita juga memasuki bulan haram yang ke 3 yaitu bulan Muharram 1448 H. Bulan-bulan haram maksudnya adalah bulan yang dimuliakan Allah. Dan termasuk bentuk ketakwaan kita kepada Allah, adalah memuliakan apa yang Allah muliakan.
وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ
“Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al Hajj 22:32)
Maka muliakanlah bulan ini dan bulan-bulan harom lainnya dengan ketakwaan, ketaatan dan menjauhi maksiat serta larangan-larangan syariat.
Jama’ah kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah.
dalam hadits, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat:
أَلَا أُنَبِّئُكم بِخَيْرِ أعمالِكُم ، وأَزْكاها عِندَ مَلِيكِكُم ، وأَرفعِها في دَرَجاتِكُم ، وخيرٌ لكم من إِنْفاقِ الذَّهَب والوَرِقِ ، وخيرٌ لكم من أن تَلْقَوا عَدُوَّكم ، فتَضْرِبوا أعناقَهُم ، ويَضْرِبوا أعْناقكُم ؟
“Maukah aku beritahukan kepada kalian amalan yang paling baik, paling suci di sisi Raja kalian (Allah), paling tinggi derajatnya bagi kalian, lebih baik daripada menginfakkan emas dan perak, dan lebih baik daripada kalian bertemu musuh lalu kalian memenggal leher mereka dan mereka memenggal leher kalian?”
قالوا : بَلَى
Para sahabat menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah.”
قال : ذِكْرُ اللهِ
Beliau bersabda: “Yaitu berdzikir kepada Allah.”
Hadis agung ini menunjukkan keutamaan berdzikir kepada Allah. Dan bahwasannya dzikir merupakan amal terbaik. Lebih utama daripada menginfakkan harta. Dan lebih utama daripada berjihad dijalan Allah.
Jama’ah kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Mungkin muncul pertanyaan, bagaimana mungkin amalan yang sederhana bahkan nyaris tanpa tenaga? Dapat melampaui amalan yang butuh pengorbanan yang besar. Pengorbanan harta, pengorbanan fisik, bahkan pengorbanan jiwa raga?
Pertanyaannya bukankah kita semua tau bahwasannya pahala tergantung pada besarnya kesulitan yang dihadapi?
Maka Syaikhul islam Ibnu taimiyah menyebutkan sebuah kaidah penting. Bahwasannya tidak mesti suatu amalan yang besar, berarti besar pula pahalanya. Tidak mesti demikian. Namun beliau mengatakan:
ولكن خير الأعمال ما كان لله أطوع، ولصاحبه أنفع
“Sebaik-baik amalan adalah yang paling taat kepada Allah dan paling bermanfaat bagi pelakunya.”
Dzikir memang merupakan amalan yang ringan dijalankan, namun memiliki manfaat dan faedah yang besar. Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya al-Wabil ash-Shayyib, mengatakan bahwa dzikir kepada Allah memiliki lebih dari 100 faedah.
Cukuplah kita mengambil satu faedah saja dari dzikir kepada Allah, dari hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dengan orang yang tidak berdzikir kepada Rabbnya adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR. Al-Bukhari, no.6407. Muslim, no.779).
Jama’ah kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Pertanyaannya bukankah orang-orang kafir, yang tidak bedzikir kepada Allah mereka hidup beraktifitas sama seperti kita? Dan bukankah orang-orang munafik, yang tidak mengingat Allah kecuali sedikit, mereka juga beraktifitas? mereka hidup?
Lantas apa maksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian?
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dengan orang yang tidak berdzikir kepada Rabbnya adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.”
Ya… Mereka masih hidup, tetapi hati mereka telah mati. Mereka masih bisa beraktivitas, tapi hati mereka sudah mengeras.
Oleh karenanya hati yang sakit, hati yang keras, hati yang mati, tidak akan sudi menerima nasehat. Tidak akan mau menerima hidayah, sebagaimana orang yang mati, maka dia tidak bisa diajak bicara dan beraktifitas.
Oleh karenanya, Ibnu taimiyah mengatakan:
“Kedudukan dzikir bagi hati adalah seperti kedudukan air bagi ikan.”
Apakah mungkin ikan hidup tanpa air?
Begitu pula hati, tanpa dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka hati akan sakit, mengeras, kemudian mati. Dan saat itu, nilai-nilai kebaikan tidak akan mudah diterima, nasehat-nasehat berharga sukar untuk didengar, dan hidayah Allah ‘Azza wa Jalla hanya akan lewat saja tidak berarti. Padahal, bekal yang paling kita butuhkan ketika berjumpa dengan Allah, adalah hati yang selamat hati yang suci.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi bermanfaat, kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat (bersih).” (QS. Asy-Syu’ara : 88-89)
Jama’ah kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Dan perlu diketahui pula bahwa hadis yang kita sebutkan diawal tadi, bahwasannya dzikir merupakan amal terbaik, amal paling suci, dan paling tinggi derajatnya, yang lebih utama dari berinfak dan lebih utama dari berjihad, bukan berarti menyepelekan infak dan jihad. Bukan pula merendahkan ibadah-ibadah selainnya.
Amalan tersebut tetap memiliki kedudukannya masing-masing. Hanya saja dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla memiliki kedudukan yang lebih tinggi. Karena sebaik-baik amalan yang dikerjakan adalah amalan yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla.
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh sahabatnya,
أَيُّ الْمُجَاهِدِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟
“Siapakah di antara orang-orang yang berjihad yang paling besar pahalanya?”
قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذِكْرًا
Beliau menjawab: “Yang paling banyak berdzikir kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.”
قَالَ: فَأَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟
Ia bertanya lagi: “Lalu siapakah di antara orang-orang yang berpuasa yang paling besar pahalanya?”
قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذِكْرًا
Beliau menjawab: “Yang paling banyak berdzikir kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.”
ثُمَّ ذَكَرَ الصَّلَاةَ وَالزَّكَاةَ وَالْحَجَّ وَالصَّدَقَةَ
“Kemudian ia menyebutkan shalat, zakat, haji, dan sedekah.”
كُلُّ ذَلِكَ وَرَسُولُ اللهِ ﷺ يَقُولُ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذِكْرًا
“Untuk semua itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Yang paling banyak berdzikir kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.'”
فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ لِعُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا
Maka Abu Bakr berkata kepada Umar ibn al-Khattab:
يَا أَبَا حَفْصٍ ذَهَبَ الذَّاكِرُونَ بِكُلِّ خَيْرٍ
“Wahai Abu Hafsh (kun-yah Umar), orang-orang yang banyak berdzikir telah membawa pergi seluruh kebaikan.”
فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: أَجَلْ
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Benar! memang demikian.”
Maka marilah kita mulai memperbanyak dzikir kita kepada Allah. Baik dalam ibadah akhirat kita maupun dalam pekerjaan duniawi kita. Karena dzikir kepada Allah, menghidupka hati-hati kita. Sebaliknya, melupakn dzikir kepada Allah akan mematikan hati kita.
Disebutkan dalam sebuah syair:
فَنِسْيَانُ ذِكْرِ اللَّهِ مَوْتُ قُلُوبِهِمْ
وَأَجْسَامُهُمْ قَبْلَ الْقُبُورِ قُبُورُ
“Lupa dari mengingat Allah adalah kematian hati-hati mereka.
Dan jasad-jasad mereka, sebelum masuk kubur, telah menjadi kuburan-kuburan.”
وَأَرْوَاحُهُمْ فِي وَحْشَةٍ مِنْ جُسُومِهِمْ
وَلَيْسَ لَهُمْ حَتَّى النُّشُورِ نُشُورُ
Ruh-ruh mereka berada dalam kesepian dan keterasingan dari jasad mereka.
Dan mereka tidak memiliki (kehidupan sejati), hingga datang hari kebangkitan.”
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم
Khutbah ke 2 :
الحمد لله الّذى أرسل رسوله بالهدى ودين الحقّ ليظهره على الدّين كلّه ولوكره المشركون. أشهد ان لا اله الاّ الله وحده لاشريك له وأشهد أنّ سيّدنا ونبيّـنا محمّدا عبده ورسوله.
:أما بعد
Jama’ah kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah.
Dzikir kepada Allah, memiliki banyak faedah dan manfaat. Dan apa yang telah disebutkan tadi. hanyalah sebagian kecil darinya. Maka hendaknya kita bersemangat untuk berdzikir dan mengingat Allah ﷻ. Dan berusaha menjadikannya rutinitas dikeseharian dan waktu-waktu kita.
Karena seperti itulah yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul, mereka adalah orang-orang yang senantiasa mengingat Allah. Terkhusus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau adalah seorang yang selalu mengingat Allah. selalu berpikir kepada Allah Ta’ala.
Mana buktinya? Bukankah diantara pengajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika kita keluar dari kamar mandi, maka kita berdo’a:
غفرانك
“Ya Allah ampunilah”.
Apakah Nabi / kita melakukan dosa ketika kita masuk kamar mandi? Sehingga kita perlu memohon ampun setelahnya?
Maka beberapa ulama menjelaskan alasan kenapa do’a keluar kamar mandi:
غفرانك
“Ya Allah ampunilah”.
Demikian adalah karena saat dikamar mandi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berdzikir kepada Allah. Karena kamar mandi bukan lah tempat untuk berdzikir kepada Allah Ta’ala.
Oleh karenanya, kita patut memohon ampun karena terlewatnya waktu tanpa dzikir kepada Allah saat dikamar mandi.
Maka ini menunjukkan bahwa waktu-waktu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu diisi dengan dzikir kepada Allah.
Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang selalu berdzikir kepada Allah, sehingga termasuk dalam firman-Nya:
وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Dan laki-laki yang banyak mengingat Allah serta perempuan yang banyak mengingat Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”
Al imam Ibn Sholah mengatakan dalam kitab Al Azkar linnawawi hal 10-11:
إِذَا وَاظَبَ عَلَى الْأَذْكَارِ الْمَأْثُورَةِ الْمُثْبَتَةِ صَبَاحًا وَمَسَاءً فِي الْأَوْقَاتِ وَالْأَحْوَالِ الْمُخْتَلِفَةِ لَيْلًا وَنَهَارًا -كَانَ مِنَ الذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ
‘Apabila seseorang senantiasa menjaga dzikir-dzikir yang (diajarkan dalam syariat) dan telah tetap riwayatnya, yang dibaca pada waktu pagi dan petang serta pada berbagai waktu dan keadaan di malam dan siang hari maka ia termasuk golongan orang-orang yang banyak mengingat Allah baik laki-laki maupun perempuan.”
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على ابراهيم و على آل ابراهيم إنك حميد مجيد
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا حَيَّةً بِذِكْرِكَ، وَطَهِّرْهَا مِنَ النِّفَاقِ وَالرِّيَاءِ وَالْغَفْلَةِ
اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا شَهْرَ الْمُحَرَّمِ، وَأَعِنَّا فِيهِ عَلَى طَاعَتِكَ، وَجَنِّبْنَا فِيهِ مَعَاصِيَكَ
اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَأَقِمِ الصَّلَاةَ
***
Gresik, 25 Dzulhijjah 1447 H / 12 Juni 2026 M
Penulis : Ustadz Lis Mujiono, S.Pd.I (ringkasan dari khutbah Al Ustadz Jisron, Lc)
Artikel : Meciangi.or.id






