Para ulama berbeda pendapat terkait hukum alkohol pada parfum apakah dia najis atau tidak setelah sepakat akan keharamannya karena statusnya sebagai miras/khomr.
Imam Qurtuby ulama ahli tafsir rahimahullah berkata:
فهم الجمهور من تحريم الخمر، واستخباث الشرع لها، وإطلاق الرجس عليها، والأمر باجتنابها، الحكم بنجاستها
“Jumhur ulama memahami dari pengharaman khomr, anggapan buruk terhadap nya, cap akan statusnya sebagai rijs dan perintah untuk menjauhinya adalah hukum akan kenajisannya”. (Lihat Tafsir Qurtuby 6/288).
Dan Lajnah daimah juga berpendapat akan najisnya alkohol.
ما أسكر شرب كثيره فهو خمر ، وقليله وكثيره سواء ، سواء سمي كحولا أم سمي باسم آخر
“Jika meminumnya membuat mabuk maka dia adalah khomr, baik sedikit ataupun banyak, dinamakan alkohol ataupun yang lainnya.
والواجب إراقته وتحريم الإبقاء عليه لاستخدامه والانتفاع به، في تنظيف أو تطهير أو وقود أو تعطير أو تحويله خلا أم غير ذلك من أنواع الانتفاع
Dan yang wajib adalah menumpahkan nya, haram menyimpan nya untuk dimanfaatkan, baik untuk membersihkan, bahan bakar, parfum atau dibuat cuka ataupun pemanfaatan yang lainnya.” (Lihat Fatawa Lajnah Daimah 22/106).
Syeikh Utsaimin rahimahullah membedakan penggunaan alkohol pada pengobatan dan parfum.
استعمال الكحول في تعقيم الجروح: لا بأس به للحاجة لذلك
“Penggunaan alkohol untuk membunuh bakteri pada luka tidak mengapa karena adanya hajat untuk itu.
وأما استعمالها في غير الشرب، فمحل نظر
Adapun penggunaan nya untuk selain minuman maka ini butuh dilihat lagi.
نرى أن الاحتياط عدم استعمالها في الروائح
Kami melihat kehati hatian dengan tidak menggunakannya dalam bau/parfum.
فقد فرق شيخ الإسلام ـ رحمه الله تعالى ـ بين الأكل وغيره، في ممارسة الشيء النجس، فكيف بالكحول التي ليست بنجسة؟ لأنها إن لم تكن خمرا فطهارتها ظاهرة، وإن كانت خمرا فالصواب عدم نجاسة الخمر
Syeikhul Islam telah membedakan antara makanan dan yang lainnya terkait pengggunaan sesuatu yang najis (boleh di luar makanan), lantas bagaimana dengan alkohol yang tidak najis, jika dia bukan khomr maka kesuciannya jelas, dan jika dia khomr maka yang benar khomr tidak najis.” (Lihat Majmu Fatawa Utsaimin 11/256).
Jadi kesimpulannya para ulama berbeda dalam hal ini, dan bagi yang ingin selamat maka mencari solusi yang lain lebih nyaman dan tenang di hati untuk mempertanggungjawabkanya di hadapan Allah Ta’ala.
Dan jika tetap menggunakan alkohol pada parfum maka pendapat ini juga kuat.
***
Jember, 27 Dzulqodah 1446 H/25 Mei 2025 M
Penulis : Muhammad Yusuf Rustam, Lc., MA.
Artikel : Meciangi.or.id






