Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘ala Nabiyihi wa ‘ala alihi wa ashabihi wamanistaqomu bisunnatihi ..
Melaksanakan ketaatan, baik mengerjakan perintah dan menjauhi larangan adalah hakikat dari pada ketaqwaan. Berjuang untuk senantiasa bertaqwa merupakan bukti adanya keimanan, ikrar iman akan redup lagi tak bersinar tanpa pancaran cahaya ketaqwaan. Siapa yang teguh di atas ketaqwaan juga disanding dengan kesabaran maka Allah Ta’ala menjamin baginya pertolongan serta kemudahan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
إنه ليسير على من يسر الله عليه
“Sesungguhnya perkara (amal kebaikan) tersebut sungguh sangat mudah atas siapa yang Allah mudahkan baginya” (HR. At-Tirmidzi)
Sejatinya segala perkara dalam kehidupan yang terus bergulir merupakan ketetapan terulis di atas lembaran-lembaran takdir. Lembaran itu terjaga di tempat tertinggi lagi mulia yang keberadaanya ada di sisi Rabb Pengatur alam semesta. Catatan tersebut amatlah rapat lagi rahasia yang tertulis penuh hikmah di dalamnya berbagai macam perkara. Salah satu di antaranya adalah catatan takdir dari pada akhir kehidupan seorang hamba. Apakah dia termaksud golongan yang selamat atau justru celaka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
ويؤمر بأربع كلمات : بكتب رزقه، وأجله، وعمله، وشقي أو سعيد
“Malaikat tersebut diperintahkan untuk mencatatkan 4 perkara bagi seseorang : rizkinya, ajalnya, bagaimana amalnya dan apakah dia termaksud seorang yang celaka atau selamat” (HR. Bukhari & Muslim)
Sebagian perkara ditetapkan secara jelas lagi diketahui. Yang kemudian Allah jadikanya berupa ilmu yang terus dipelajari. Sebagian lagi terhalangi serta mustahil diketahui. Tidak ada satupun makhluk baik dari yang paling hina hingga paling mulia mampu menembus lagi melewati batasan dari segala bentuk ketetapanNya.
وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Israa 17:85)
Begitu sempurna segala yang terjadi di alam semesta ini, semuanya teratur lagi terukur di sisi Rabb Yang Tinggi. Bukan urusan makhluk bertanya tentang apa yang terjadi tapi justru pertanyaan itu akan tertuju untuk makhluk itu nanti. “Apa yang telah engkau pelajari? Adakah nikmat yang telah kau syukuri?! Ataukah engkau sibuk dengan kesia-siaan hingga harimu berlalu tanpa satu kebaikan yang dikerjakan”. Maka bersegeralah kita menuju penghambaan, kita curahkan harta dan jiwa kita dalam perniagaan tanpa kerugian, dan biarkanlah jasad ini tenggelam di dalam samudra ketaatan.
إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَٰرَةً لَّن تَبُورَ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS. Fathir 35:29)
Berhentilah bersoal dan teruslah beramal, terkadang ketundukan itu jauh lebih dikedepankan dari pada sekedar terus bertanya pada perkara yang mustahil dipikirkan. Kita tidak dituntut untuk tahu semua hal yang terjadi, sehingga hati yakin kemudian mau bersungguh sungguh berserah diri. Jadikan setiap keterbatasan sebagai kenikmatan serta bukti ketulusan yang menumbuhkan keimanan dalam wujud penghambaan.
وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ
“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman 31:34)
Sudahkah kita beramal hari ini? Jangan tunggu semuanya diganti, karena yang berlalu tidak akan didapati kembali.
***
Dompu, 16 Muharrom 1448 H / 1 Juli 2026 M
Penulis : Muhammad Hidayatullah, S.Psi.
Artikel : Meciangi.or.id






