Rabu, Agustus 5, 2026
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
NEWSLETTER
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
No Result
View All Result
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
No Result
View All Result

Kapal DLN Batu Layar dan Kisah Seorang Nelayan dan Kisah Lainnya

Abu Dawud ad-Dombuwiyy by Abu Dawud ad-Dombuwiyy
23 Mei 2025
in TAZKIYATUN NUFUS
Reading Time: 11 mins read
0
Home TAZKIYATUN NUFUS

Bermula dari seorang kapten kapal. Ia meneropong lautan. Ia mendapati seorang laki-laki terdampar di lautan, yakni seorang nelayan yang terhempas badai dari Jum’at pagi kemarin tanggal 18 April 2025 hingga ditemukan oleh kapal DLN Batu Layar pada sore hari menjelang maghrib.

RELATED POST

Muhasabah di Usia 60 Tahun (Seri 2)

Muhasabah di Usia 60 Tahun (Seri 1)

Badai dan hujan saat itu terjadi sekitar pukul 7-8 pagi. Saat itu kapal DLN Batu Layar baru meninggalkan pelabuhan Lembar dan sudah sampai di bawah kaki Gunung Agung Bali.

Sebelum kejadian, saya sedang duduk-duduk santai di dek kapal bersama seorang mahasiswa dari Jakarta yang baru selesai dari mendaki gunung Rinjani NTB bernama Mas Alvin. Disela-sela pembicaraan, saya berkata kepada Mas Alvin menanyakan tentang gunung dihadapan kami, saya mengatakan : “Ini gunung apa Mas, apa ini gunung Agung?” Sesaat Mas Alvin mencoba searching lokasi, Mas Alvin mengatakan : “Benar Mas ini gunung Agung Bali.” Dan ternyata kami saat itu sedang berada di depan gunung Agung Bali yang terlihat sangat kokoh dan indah.

Setelah satu jam lebih pembicaraan, tiba-tiba terjadi badai dan kami pun berpisah. Saya masuk ke ruangan B, Mas Alvin mungkin ke lantai 4 kapal DLN Batu Layar.

Sebelum kami berpisah, hujan turun disertai angin kencang. Laut tiba-tiba berubah, dari yang awalnya tenang menjadi bergelombang. Saya merasakan kapal DLN Batu Layar mulai goyang ke kiri dan ke kanan. Sebagian ibu-ibu di ruangan saya mulai merasakan pusing dan ingin muntah. Angin semakin kencang dan menerbangkan butiran air yang menghempas lambung kapal hingga menimbulkan percikan hingga ke lantai tiga kapal. Hujan terus turun, awan semakin gelap, hati saya sedikit cemas jangan-jangan akan terjadi badai besar.

Badai kemarin memang tidak sedahsyat Tornado di California atau badai di lautan Atlantik, tapi badai itu cukup untuk menerbangkan manusia dan menggulingkan perahu nelayan yang berlayar mencari ikan di tengah lautan.

Semakin lama, saya merasakan hembusan angin semakin kencang. Saya mencoba untuk keluar dan berjalan menembus angin di depan kapal, tapi hasilnya nihil, saya tidak bisa bergerak maju sedikitpun.

Saat itu angin yang berhembus mulai mengacaukan lautan yang awalnya tenang, lalu membuat lautan menjadi sedikit bergelombang. Kapal berguncang, bahkan terdengar suara ledakan keras di lambung kapal akibat hantaman ombak yang membuat kapal sedikit bergetar dan terjadi vibrasi yang cukup untuk dirasakan oleh semua penumpang. Angin terus berhembus, hempasan gelombang lautan terus masuk ke lantai tiga kapal di dekat area sekoci hingga membuat area itu dipenuhi air.

Seorang musafir mengatakan :

“Tatkala bahtera ini mulai berlayar meninggalkan pagi.

Udara yang cerah itu menjadi hujan bercampur badai.

Aku merasakan hembusan angin seperti Taifun.

Mengacaukan lautan tenang menciutkan nyali para jagoan.

Ledakan dahsyat itu terdengar jelas menghantam buritan.

Memaksa hamba-hamba Allah mengucapkan lafadz-lafadz perlindungan.

Angin yang berhembus kencang menimbulkan gelombang yang menari-nari.

Seolah gunung menjulang bagaikan Tambora di bumi pertiwi.

Itulah Rabbku jika menginginkan sesuatu terjadi.

Menjadikan lautan tenang menjadi berombak kemudian indah di sore hari.

Maha suci Allah Jalla wa ‘Alaa Rabbukum wa Rabbi.”

Disisi lain lautan yang membentang luas, ada seorang nelayan yang sedang mencari ikan. Dari kesaksiannya setelah diselamatkan oleh kapal DLN Batu Layar, bahwa dia mengaku terhempas oleh badai ke udara hingga beberapa meter lalu terjatuh ke lautan, sementara lautan saat itu sedang berombak ganas dan menggulung apa saja yang ada di depannya, termasuk perahu kecil bapak nelayan tersebut.

Tepat pada sore hari menjelang magrib, saat saya sedang menikmati matahari yang terbenam bersama Abang TNI yang 25 tahun lalu sempat bertugas di kompi B Sumbawa bernama Bapak Pujairi dari Madura. Beliau hafidzahullah merupakan teman lama saya yang baru bertemu lagi di kapal ini setelah berpisah selama 25 tahun. Saya dengan beliau saat itu sedang berfoto diatas kapal, tiba-tiba ada suara pengumuman dari dalam kapal tentang sesuatu. Saya tidak mendengarnya dengan jelas, tapi para penumpang kapal mulai berhamburan keluar dan menuju sisi depan dan samping kapal dekat sekoci. Mereka mengatakan: “Ada orang yang terjatuh dari laut.”

Sayapun berlari, saya khawatir itu anak saya. Beberapa saat sebelum ada pengumuman itu anak saya masih berada di depan saya, namun tiba-tiba dia menghilang di tengah kerumunan manusia dan sulit untuk saya cari. Saya berlari memasuki kapal dan menghitung jumlah anak saya, 1, 2, 3, 4 ternyata kurang satu. Saya panik dan berlari keluar, tapi alhamdulillah saat mencari diluar di area dekat sekoci, saya menemukan anak saya sedang berdiri di pagar pembatas kapal sambil melihat bapak nelayan yang melambai-lambaikan tangan seraya berteriak meminta tolong. Saya lalu membawa anak saya ke dalam ruangan dan mewanti-wantinya dan mewanti-wanti istri saya untuk tidak keluar, karena diluar sedang ada kejadian genting.

Saya berlari keluar, penumpang semakin ramai memadati pembatas kapal di area dekat sekoci, bahkan di tangga menuju ruangan kemudi kapal pun dipadati oleh manusia, hingga saya diusir oleh salah seorang petugas karena menghalangi jalan.

Karena rasa penasaran yang tinggi, saya turun dari tangga itu dan mencari tempat yang lebih jelas untuk menyaksikan kejadian penting ini. Simpang siur berita pun beredar, bahwa yang terjatuh dari kapal DLN Batu Layar adalah petugas yang melakukan pekerjaan las kapal di dek 4 yang patah, mungkin karena efek badai pagi itu. Wallahu a’lam.

Setelah saya mengumpulkan informasi, saya bisa memastikan bahwa laki-laki yang mengapung diatas lautan itu adalah nelayan yang terhempas badai tadi pagi. Kapten kapal secara kebetulan menemukannya saat sedang meneropong lautan dihadapannya, kemudian beliau melihat ada manusia yang melambaikan tangan di tengah lautan sambil berteriak minta tolong.

Akhirnya kapal berputar menyelamatkan pria nelayan tersebut. Pria nelayan itu ternyata mengapung diatas lautan selama berjam-jam dalam keadaan telanjang. Dia memilih melepaskan semua pakaiannya agar tidak membebaninya selama di dalam air.

Saat tim penyelamat melemparkan tangga dan pelampung, dia merapat ke arah kapal DLN Batu Layar dalam kondisi kritis. Badannya kedinginan, matanya merah, jari-jarinya keriput, dia kelelahan mengapung diatas lautan yang dingin, dan jika tidak ditemukan di sore hari, kemungkinan dia akan mengalami hipotermia atau dimakan oleh ikan buas di kegelapan malam di tengah lautan yang begitu gelap gulita.

Keesokan harinya, kondisinya mulai membaik. Saya melihat bapak nelayan itu duduk mengenakan baju putih, celana pendek dan mengenakan sebuah sarung. Dia duduk di lantai tiga kapal dekat sekoci sembari menatap lautan sambil menelepon keluarganya. Saya melihat beliau sudah hitam legam tersengat matahari selama mengapung di lautan, matanya masih sangat merah akibat terkontaminasi air asin selama berjam-jam di dalam air.

Kru kapal DLN Batu Layar memberinya pakaian, sarung, makanan, perawatan medis, minuman hangat dll. Para penumpang kapal pun ikut memberinya uang untuk perbekalan pulang keesokan harinya.

Rizki Itu Mengejar Kita Seperti Kematian Mengejar Seorang Hamba

Pada hakikatnya kita semua dikejar oleh rizki kita yang telah Allah tetapkan untuk kita. Dan suatu musibah, terkadang menjadi jalan lain yang mengantarkan kita untuk mengambil rizki kita yang Allah tetapkan berada pada tangan orang lain, baik berupa makanan, minuman, pakaian, uang dan lain sebagainya. Dan inilah jalan hidup yang tidak bisa di tebak.

Seandainya Allah mentakdirkan rizki kita ada di tangan seorang muslim, Allah akan takdirkan kita bertemu dengannya walaupun hanya untuk meneguk seteguk air darinya, karena tidak mungkin seseorang akan mengambil jatah rizki kita meskipun itu ada di tangannya, karena rizki adalah jatah umur kita.

Seandainya rizki kita ada di atas puncak gunung Everest, maka Allah akan memaksa kita menuju ke tempat tersebut dengan cara apapun, baik dengan cara ekspedisi ke puncak Everest atau dengan cara lain yang Allah kehendaki sesuai dengan keagungan nama dan sifat-sifat-Nya, tugas kita adalah mengambil Ibrah dan mengimaninya.

Demikian pula kisah seorang nelayan yang terombang ambang di tengah lautan dan di temukan oleh kapal DLN Batu Layar diatas, adalah sekelumit kisah bagaimana seorang hamba itu akan mengejar rizkinya sebagaimana kematian mengejar hamba tersebut, karena tidak mungkin seorang hamba akan meninggal dunia kecuali setelah terpenuhi semua rizkinya. Jika masih ada satu rizki saja yang belum diambil oleh hamba tersebut dan rizki itu katakan saja terletak di tengah pulau terpencil tanpa penghuni, maka Allah dengan segala keagungan dan keperkasaan-Nya akan memaksa hamba tersebut mengambilnya dengan cara apapun, baik dengan cara ia didamparkan di pulau tersebut atau dengan cara orang lain akan didamparkan di pulau tersebut lalu membawakan untuknya buah-buahan dari pulau terpencil tersebut kepadanya, dan itu mudah bagi Allah ‘Azza wa Jalla dan itulah jalan rizki baginya.

KISAH TIGA ORANG PEMUDA

Sebuah kisah nyata lain yang saya dengar langsung dari tiga orang pemuda yang berasal dari kota Bima. Awal cerita ini adalah saat saya safar dari kota Makassar menuju kota Bima tujuh atau delapan tahun lalu. Diantara tiga orang pemuda ini, dua diantaranya remaja berusia 19 tahun, mereka berdua baru satu tahun tamat STM, sedangkan satu orang lagi adalah seorang laki-laki berkulit gelap, berparas sangar dan sepintas terlihat menakutkan bagi yang pertama memandangnya. Dia seorang lelaki yang dituakan diantara mereka, sudah menikah dan memiliki anak dan umurnya kurang lebih saat itu 35 tahun-an.

Awal mula saya bertemu mereka yaitu saat saya mencari tempat tidur di dalam kapal, karena semua tempat tidur sudah penuh sesak, tidak ada yang kosong, sehingga saya harus mencari tempat untuk beristirahat malam meskipun harus dibawah tangga sekalipun. Saat saya melintas di dek kapal disekitar tangga naik, dibawah tangga terlihat ada tiga orang laki-laki. Melihat saya sedang mencari tempat untuk beristirahat, mereka menyapa saya dan mengajak untuk duduk dan tidur di tempat kosong di sekitar mereka. Awalnya saya ragu, tapi setelah mengobrol singkat ternyata mereka satu daerah dengan saya.

Setelah perkenalan singkat itu dan terjadilah obrolan, mereka menawarkan makanan. Ternyata mereka bukan orang jahat, tampilan luar yang sangar tak menunjukkan isi dalamnya pun sangar. Saya pun bertanya dari mana mereka sebelum naik kapal ini. Mereka pun mulai bercerita bahwa mereka sebelum ini bekerja di perkebunan sawit milik orang dayak di hutan Kalimantan berbatasan dengan negara tetangga. Mereka mengadu nasip ke tempat tersebut karena tuntutan kebutuhan ekonomi yang mendesak, yang memaksa mereka untuk bekerja jauh dari sanak famili diperkebunan sawit itu.

Harapan mereka cuma satu, ingin membahagiakan istri, anak dan orang tua di kampung halaman. Ternyata impian mereka yang mulia tak sesuai dengan harapan mereka. Mereka di rantauan ternyata tidak sedang baik-baik saja kondisinya. Mereka selama bekerja tidak mendapatkan gaji seperti yang dijanjikan, justru yang mereka dapatkan adalah perlakuan yang kurang baik di tempat mereka bekerja.

Mereka bercerita, selama 3 bulan awal mereka bekerja, mereka tidak digaji sama sekali. Setiap kali mereka meminta gaji, sang mandor beralasan akan memberikannya bulan depan. Setiap bulan berlalu, harapan mulai pupus dan mereka mulai mengerti kondisi yang sebenarnya terjadi. Tapi karena ingin membahagiakan keluarga, mereka terus bekerja dan berharap bisa mendapatkan hak mereka dari gaji yang dijanjikan selama ini.

Hari terus berlalu hingga hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan, dan bulan berganti bulan berikutnya, tapi kelakuan sang mandor justru tidak berubah, malah semakin menjadi-jadi.

Setiap bulan berlalu  gaji mereka justru tidak pernah diberikan, yang mereka dapatkan hanya janji-janji manis sang mandor.

Kejadian Naas

Tibalah hari dimana kejadian naas itu terjadi. Saat mereka meminta gaji untuk bulan baru saat itu, sang mandor merasa tersinggung dan mendorong salah satu dari 2 orang anak muda diantara mereka dengan diiringi kata-kata kasar. Dalam kondisi mereka sedang letih bekerja, tanpa berpikir panjang, yang paling dituakan diantara mereka langsung mencabut benda tajam dan menebas bahu sang mandor hingga hampir terputus. Sang mandor berteriak lalu rubuh bersimbah darah.

Sang mandor mencoba terus berteriak sekeras-kerasnya sambil sesekali memegang bahunya yang hampir terputus. Suara teriakan sang mandor mengundang perhatian teman-temannya lalu berdatangan ke lokasi.

Tiga orang pemuda itu tanpa pikir panjang berlari sekencang-kencangnya menuju hutan belantara Kalimantan. Mereka meninggalkan pakaian, tas dan lain sebagainya. Yang mereka pikirkan adalah nyawa mereka sendiri. Mereka menoleh ke belakang, dari belakang ternyata telah berkumpul sekelompok suku dayak yang mengejarnya dengan parang, tombak dan sumpit. Mereka bersiul-siulan dan mengeluarkan suara-suara khas layaknya memberikan kode untuk teman-temannya yang lain untuk terus mengejar.

Yang mengejar mereka pun semakin banyak, ada yang menggunakan sumpit, panah, tombak dan senjata tajam lain, bahkan beberapa kali anak panah dan tombak melintas di samping kiri dan kanan mereka.

Mereka terus berlari ke tengah hutan tanpa alas kaki dengan tenaga yang dipaksakan sekencang-kencangnya. Hingga mereka bertemu sebuah anak sungai yang airnya cukup dalam dan melompat lalu muncul di tengah sungai lalu berenang hingga ke seberang sungai.

Setelah tiba diseberang sungai. Mereka mulai terpisah dari kerumunan suku dayak yang mengejar. Suku dayak terus mengejar dan melompat ke dalam sungai, tapi mereka kehilangan jejak. Tiga orang pemuda ini terus berlari tanpa henti, menerobos hutan belantara hingga ke kedalaman hutan Kalimantan yang paling dalam. Mereka terus berlari tanpa memperdulikan letih yang mereka rasakan. Mereka terus berlari menjauh dari perkampungan dayak sejauh-jauhnya hingga hutan itu begitu gelap dipadati pepohonan, dedaunan, akar-akar pohon padahal kondisinya belum sore hari. Akhirnya setelah berlari seharian tanpa letih, mereka memutuskan untuk bermalam di tengah hutan dalam keadaan takut, gelisah, waspada dan tekad bulat bahwa jika mereka menemukan kita, kita akan bertempur sampai titik darah penghabisan. Kita yang mati atau mereka yang mati.

Malam yang mencekam, gelap gulita tanpa cahaya, tidak ada bintang-gemintang, tidak ada cahaya rembulan, suasananya gelap total, bahkan kawan disampingnya pun tidak bisa dilihat, mencekam dan mengerikan. Sesekali mereka terdengar suara-suara binatang malam, sehingga semakin menambah kesunyian dan kepiluan dan rasa takut. Ketika subuh mulai menjelang, mereka segera bangkit meskipun mata masih mengatuk berat, untuk melanjutkan misi menyelamatkan diri menjauhi pemukiman suku-suku dayak. Dan terdengar dari kejauhan suara kokok ayam kampung, yang menandakan bahwa di sekitar hutan itu ada perkampungan suku dayak lainnya.

Mereka terus berjalan memanfaatkan waktu pagi, siang dan sore hari di hutan belantara Kalimantan siang dan malam selama 14 hari. Tak terasa mereka sudah semakin melemah, mereka memakan dedaunan dan buah-buah hutan yang sekiranya bisa untuk dimakan, hingga disudut-sudut mulut mereka ada luka akibat dedaunan yang dimakan selama 14 hari itu.

Adapun minuman, jika mereka menemukan air genangan hujan, atau air sungai atau segala apapun yang bisa di minum, mereka akan minum untuk bertahan hidup di tengah kerasnya hutan belantara Kalimantan.

Hutan Kalimantan menjadi cerita kelam tiga pemuda ini. Bahkan mereka sempat bertemu dengan binatang buas sebanyak 3 kali. Karena itu, selain khawatir bertemu dengan suku dayak, mereka juga dihantui rasa takut, cemas jika harus bertemu dengan binatang-binatang buas hutan Kalimantan.

Mereka menceritakan bahwa setiap subuh, mereka selalu mendengar suara kokok ayam dari perkampungan dayak selama 14 hari mereka di dalam hutan, hingga akhirnya Allah selamatkan mereka dan keluar dari hutan Kalimantan.

Tidak berhenti disitu, mereka bahkan dicari oleh suku dayak hingga ke Pelabuhan Kalimantan. Tapi dengan izin Allah, mereka diselamatkan oleh Allah dengan pura-pura menjadi buruh yang mengangkat barang diatas kapal dan bersembunyi di sekoci dan menjadi penumpang gelap. Hingga akhirnya mereka bisa sampai di kota Makassar dengan selamat.

Setelah tiba di Makassar, mereka ditanya oleh seseorang yang baik kenapa mereka begitu kurus, pucat dan lemas. Mereka-pun menceritakan kisahnya kepada orang tersebut, karena mereka merasa di kota Makassar sudah tidak ada lagi orang-orang dayak. Setelah itu orang yang baik hati ini pun mengundang mereka makan di rumahnya. Mereka makan dengan lahap. Ditawarkan kepada mereka untuk di rawat di rumah sakit, tapi mereka menolak dan ingin segera kembali ke kota Bima. Orang inipun membelikan mereka tiket dan memberikan uang saku selama perjalanan.

Setelah mendengar kisah mereka, saya bisa melihat wajah kurus penuh bahagia karena akan kembali pulang ke kampung halamannya yang tercinta.

Mereka tidak henti-hentinya memuji Allah dan bersyukur. Salah satu dari mereka sampai mengatakan’ “Saya sangat bersyukur bisa berada diatas kapal ini menuju kampung halaman saya. Saya tidak menyangka bisa selamat selama 14 hari di tengah hutan Kalimantan. Dari kejadian ini, saya menjadi semakin rindu dengan kampung halaman. Meskipun hidup susah disana, saya tidak akan mau merantau lagi dan bekerja apa adanya di kampung halaman saya.”

Dua orang yang umurnya 19 tahun itu baru tamat STM, belum pernah merantau. Berharap dapat kebahagiaan dan uang banyak, justru pengalaman pahit yang mungkin akan selalu mereka kenang dalam hidupnya sepanjang zaman dan anak keturunannya.

Rizki Mengejar Kita Seperti Kematian Mengejar Setiap Hamba

Faedah dari kisah mereka yang bisa saya ambil bahwa, jalan rizki dari Allah itu pasti. Seseorang tidak akan mati sebelum mengambil rizki yang Allah takdirkan untuk mereka, baik rizki itu berada di tangan orang lain yang berada di ujung bumi yang paling jauh sekalipun atau di pulau tak berpenghuni, di hutan belantara yang penuh dengan binatang buas, yang siap menerkam siapa saja.

Daun-daunan hutan Kalimantan yang mereka makan selama 14 hari, adalah rizki dari Allah yang telah Allah tuliskan sejak ditiupkannya ruh dalam perut ibunya. Seandainya mereka tahu bahwa rizki mereka adalah daun-daunan di hutan Kalimantan, niscaya mereka tidak akan mau mengambilnya, namun Allah punya cara agar mereka mau mengambil rizki itu, yakni dengan cara dikejar oleh orang-orang suku dayak. Dan musibah itu sejatinya jalan takdir yang berjalan sesuai dengan ketetapan-Nya. Jika rizki kita Allah takdirkan ada di hutan Amazon, niscaya Allah akan mengirim kita ke hutan Amazon bagaimanapun caranya. Mungkin dengan menikah dengan orang-orang suku hutan Amazon diantaranya suku Kanibal, atau mungkin juga Allah akan menjatuhkan pesawat dan mendamparkan kita dengan selamat lalu memakan daun-daunan hutan Amazon dan meminum airnya atau memakan ikan piranhanya atau dengan cara lain yang Allah kehendaki. Yang pasti, rizki itu akan mengejar kita seperti kematian mengejar kita. Seandainya kita lari menjauh dari rizki sejauh barat dan timur, Allah akan paksa kita untuk mengambilnya meskipun dengan suka atau terpaksa. Inilah makna hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : حدثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو الصادق المصدوق : إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما نطفة ، ثم يكون علقة مثل ذلك ، ثم يكون مضغة مثل ذلك ، ثم يرسل الله إليه الملك ، فينفخ فيه الروح ويؤمر بأربع كلمات : بكتب رزقه وعمله وأجله وشقي أو سعيد ، فوالله الذي لا إله غيره إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع ، فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار فيدخلها ، وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع ، فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة فيدخلها

“Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa wallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang jujur dan terpercaya: Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya diperut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا مِن دَآبَّةٍۢ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّۭ فِى كِتَـٰبٍۢ مُّبِينٍۢ

Artinya : “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS.Hud : 6).

Semoga kisah ini bermanfaat dan menjadi ibroh dalam setiap kehidupan kita sebagai seorang muslim.

***

Gresik Kota, Rumah Sakit Ibnu Sina : 29 Syawwal 1446 H / 28 April 2025

Penulis : Abu Dawud ad-Dombuwiyy 

Artikel : Meciangi.or.id

ShareTweetPin
Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Penuntut ilmu dengan nama Erwin Gunawan, S.T. Pernah belajar kepada para asatidzah di Yogyakarta, diantaranya Ustadz Ahmad Halim, Ustadz Sa'id Abu Ukkasyah, Ustadz Ahmad MZ, Ustadz Ari Wahyudi, Ustadz Abu Isa, Ustadz Aris Munandar dan Ustadz Afifi Abdul Wadud dan para asatidzah lainnya. Alumni Ma'had al-Furqon al-Islamiy Srowo Sidayu Gresik. Alumni S1 Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Related Posts

Muhasabah di Usia 60 Tahun (Seri 2)
TAZKIYATUN NUFUS

Muhasabah di Usia 60 Tahun (Seri 2)

29 Juli 2026
Muhasabah di Usia 60 Tahun (Seri 1)
TAZKIYATUN NUFUS

Muhasabah di Usia 60 Tahun (Seri 1)

21 Juli 2026
Terbatasnya Pengetahuan Manusia
TAZKIYATUN NUFUS

Terbatasnya Pengetahuan Manusia

27 Juli 2026
Dua Nikmat yang Wajib Disyukuri
TAZKIYATUN NUFUS

Dua Nikmat yang Wajib Disyukuri

23 November 2025
Tatkala Futur dan Rasa Malas Melanda
TAZKIYATUN NUFUS

Tatkala Futur dan Rasa Malas Melanda

22 November 2025
Kesuksesan yang Sejati
TAZKIYATUN NUFUS

Kesuksesan yang Sejati

18 Desember 2025
Next Post
Membaca Al-Qur’an atau Menjawab Adzan?

Membaca Al-Qur'an atau Menjawab Adzan?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TENTANG KAMI

Website meciangi.or.id adalah situs dakwah Islam yang dikelola oleh Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi. Diantara kegiatan utama dakwah kami adalah Ma'had Meci Angi. Ma'had Meci Angi merupakan tempat menimba ilmu para penuntut ilmu yang berpijak pada pemahaman shalafus sholeh. Diantara kegiatan utamanya adalah pembelajaran bahasa arab seperti nahwu, shorof, belajar baca kitab, mengadakan daurah syar'iyyah, menerbitkan buletin serta kegiatan kegiatan dakwah lainnya.

Alamat sekretariat Website: Jln. Lintas Sumbawa, Gg. Potlot no.14. Lingkungan Rasa Bou - Kelurahan Kandai Dua - Kecamatan Woja - Kabupaten Dompu - NTB 84218.

Follow us

Terbaru

  • Pemimpin yang Dzolim Buah dari Rakyatnya yang Dzolim
  • Sunnah Memakai Peci
  • Kita Kaum Muslimin
  • Dzikir Memiliki Kedudukan yang Tinggi

Kategori

  • ADAB DAN AKHLAQ
  • AL-QUR'AN
  • AQIDAH
  • BAHASA ARAB
  • BANTAHAN
  • BIOGRAFI
  • BULETIN MECI ANGI
  • E-BOOK
  • FATWA ULAMA
  • FIQH
  • KHUTBAH JUM'AT
  • KITAB ULAMA
  • MANHAJ
  • MUTIARA SALAF
  • QOIDAH FIQH
  • SIROH
  • SYAIR
  • TAFSIR
  • TANYA JAWAB
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • USHUL FIQH
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
  • FIQH DAN MUAMALAH
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
  • LAINNYA

© 2024 by mantapp

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI

© 2024 by mantapp