Senin, September 21, 2026
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
NEWSLETTER
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
No Result
View All Result
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
No Result
View All Result

Rihlah untuk Menuntut Ilmu (Bagian 2)

Abu Dawud ad-Dumbuwiyy by Abu Dawud ad-Dumbuwiyy
30 Agustus 2026
in TAZKIYATUN NUFUS
Reading Time: 5 mins read
0
Home TAZKIYATUN NUFUS

Tulisan ini ditulis sebagai motivasi untuk penuntut ilmu yang telah berkeluarga. Menuntut ilmu yang paling berat adalah menuntut ilmu ketika usia kita sudah tidak lagi muda.

RELATED POST

Aku Ingin Terus Semangat dalam Ibadah

Kisah Seorang Penuntut Ilmu bersama Gurunya

Apa yang membuat menuntut ilmu di usia tersebut terasa sangat berat? Karena seseorang harus menggabungkan antara banyak hal; menuntut ilmu, mencari nafkah, mendidik anak dan muroja’ah.

Beratnya Istiqomah

Suka-duka dalam menuntut ilmu di usia yang sudah tidak lagi muda sangat beragam bagi setiap individu. Ada yang berat dalam mengatur waktu untuk muroja’ah. Ada yang berat untuk mempertahankan istiqomah dalam menuntut ilmu. Ada yang berat karena faktor ekonomi yang sangat sulit. Ada yang berat karena istri dan anaknya yang sakit-sakitan. Dan faktor yang terakhir inilah yang paling berat bagi saya pribadi.

Waktu luang penuntut ilmu yang sudah menikah dalam belajar bervariasi tergantung banyaknya anak. Tidak jarang waktu subuh yang terbaik untuk mengulang-ulang ilmu yang sudah di hafal semalam suntuk di hari-hari ujian, harus tersibukkan dengan kewajiban membeli gas, cabai di pasar, mencari air galon yang buka setelah subuh, sehingga pelajaran bercampur antara ushul fiqh dan tabung gas, mustholah hadits dengan galon air, pelajaran fiqh dengan semua menjadikan menuntut ilmu menjadi sedikit berat.

Kondisi yang cukup berat juga yang dirasakan oleh pentut ilmu yang sudah tidak lagi muda adalah berat nyabelajar ketika kondisi anak dan istri anak kita sakit.

Jika anak-anak sakitnya ringan, istri kita masih bisa menangani itu semua. Artinya kita masih bisa masuk kelas untuk belajar. Tapi jika kondisi anak-anak harus dirawat di rumah sakit, otomatis kita akan meninggalkan pelajaran dan bolak-balik opname anak-anak di rumah sakit, bahkan istri dan kita sendiri yang di opname. Minggu ini satu orang masuk rumah sakit, sepekan kemudian satu lagi masuk rumah sakit lain. Dari rumah sakit Mabarot Bugah, sampai PKU Muhammadiyyah Sekapuk. Dari rumah sakit Khodijah Mriyunan, sampai rumah sakit Ibnu Sina Gresik, dan semua itu butuh keimanan dan mental baja seorang penuntut ilmu sejati untuk melewatinya.

kita sakit. Inilah diantara hal yang berat yang paling sering membuat kita tidak bisa istiqomah masuk kelas. Semua pekerjaan rumah akan beralih  ke pundak kita, dari memasak, mencuci piring, mengurus anak-anak, mencuci pakaian, membuat sarapan pagi, kita semua yang akan mengerjakannya.

Saya pribadi memiliki banyak pengalaman pahit dalam hal ini, bahkan pihak Puskesmas Raci Tengah Sidayu Gresik sampai mengatakan dengan nada bercanda, ‘Jika sekali lagi Mas datang merawat anak-anak di Puskesmas ini lagi, nanti Masnya kita kasih voucher.’

Ucapan ini hanya candaan tapi menunjukkan tingkat keseringan mengopname anaka-anak di Puskesmas. Bahkan Ibu Dokter pernah mengatakan, ‘Istrinya dimana Pak, kok di Puskesmas ga pernah jenguk.?’ Saya berkata, ‘istri saya menjaga anak-anak di rumah Ibu Dokter, kalau kesini nanti anak-anak akan terbengkalai.

bawa semua anak menginap di rumah sakit, bahkan sampai kita sendiri yang justru harus dirawat di rumah sakit dan meninggalkan banyak pelajaran.

Cerita ini hanya sepercik ujian dalam menuntut ilmu di usia yang tidak lagi muda, bahkan saya menyaksikan banyak teman-teman yang lebih berat lagi ujiannya, menuntut ilmu di usia tersebut, tapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

طلب العلم فريضة على كل مسلم.

“Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.” (Sunan Ibnu Majah no.224)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

من سلك طريقا يلتمس فيه علما، سهل الله له به طريقا إلى الجنة.

“Barangsiapa yang menempuh jalan dalam rangka mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no.2699)

Umar bin Khoththob pernah mengatakan :

تعلموا قبل أن تصودوا

“Belajarlah senelum kalian diangkat menjadi pemimpin.

Membagi waktu dalam belajar sangat sulit, nuansa belajarpun bercampur dengan adonan tepung, minyak goreng, mentega, galon mineral dan tabung gas. Sehingga tidsk jarang ketika masa-masa ujian tiba, hafalan pelajaran bercampur dengan hal-hal di atas, membagi waktu menemani anak-anak yang juga ujian, menjadi wasit dalam perikaian anak-anak, yang berebut mainan, nuansa belajar yang tidak biasa, kitab di sepan, si kecil satu diatas pundak, satu di punggung, yang lain berlari-larian membuat suasana belajar tidak bisa seratus persen masuk.

Dikeheningan malam, itulah waktu paling baik untuk murojaah. Disaat anak-anak terlelap dalam mimpi indahnya, tingkat kefokusan menjadi lebih meningkat. Tapi masalah lain yang menjadi rutinitas di jam-jam 1-3 adalah serangan para tukang sihir yang penuh dengan amarah dan rasa dendam.

Pelajaran yang selalu digandengkan ketika ujian adalah pelajaran fiqh dan syarh umdatul ahkam. Kisi-kisinya masyaAllah, untuk syarh umdatul ahkam 25 soal yang dibuat oleh santri, satu santri satu soal, dan soal-soal itu belum pasti mana yang keluar, ditambah lagi Ustadz akan menambah soal itu dan memodifikasinya, sedangkan pelajaran fiqh, kisi-kisinya 20 soal, tapi lebih mudah dari syarh umdatul ahkam.

Nuansa khusyuk dalam belajar sedikit dirusak oleh para tukang sihir ‘kroco’ itu dengan santet-santetnya, sehingga ujiannya menjadi dua, ujian ma’had dan ujian dari tetangga-tetangga yang jahil. Walhasil, tingkat kefokusan menurun menjadi 20 %. Bahkan sama sekalintidak belajar. Sehingga tidak jarang, masuk kelas ujian tanpa persiapan yang baik.

Diantara ujian para penuntut ilmu yang sudah berkeluarga, anak sakit, istri sakit, kekurangan biaya dalam belajar, keterbatasan waktu untuk mencari nafkah, semua itu seolah memunculkan pikiran untuk lari dan berhenti belajar.

Ujian yang paling berat bagi santri berkeluarga adalah ketika istri kita sakit, karena semua aktifitas dari masak, mencuci, mengurus anak, belanja dll, kembali ke pundak suami, nelajar terputus total, bahkan selam satu pekan istri kita sakit misalnya, selama itu pula kita tidak pernah masuk kelas. Berbeda ketika anak kita yang sakit, kita masih bisa belajar karena istri kita yang menjaga mereka.

Semua itu terasa kecil mengingat perjuangan ulama kita dahulu.

Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu melakukan perjalanan selama satu bulan menuju ‘Abdullah bin Unais hanya untuk mendapatkan satu hadis.

Sa‘id bin Al-Musayyib berkata:
“Sesungguhnya aku benar-benar melakukan perjalanan berhari-hari dan bermalam-malam hanya untuk menuntut satu hadis.”

Imam Ahmad berkata:
“Di Mesir terdapat sebuah kitab sahih tentang tafsir yang diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalhah. Seandainya seseorang melakukan perjalanan ke Mesir khusus untuk mendapatkannya, sungguh hal itu bukanlah sesuatu yang berlebihan.”

Abu Hamid Al-Isfarayini berkata:
“Seandainya seseorang melakukan perjalanan ke negeri Cina demi mendapatkan kitab Tafsir karya Muhammad bin Jarir (ath-Thabari), hal itu tidaklah berlebihan.”

Abu ‘Abdillah ‘Abdurrahman bin Al-Qasim tinggal jauh dari kampung halamannya selama dua puluh tahun dalam perjalanannya menuntut ilmu, dan ia tidak kembali hingga Imam Malik wafat.

“Di antara hal yang menakjubkan yang aku baca tentang perjalanan dalam menuntut ilmu adalah apa yang disebutkan oleh Ibnu Abi Hātim. Ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: ‘Pada tahun pertama aku keluar untuk menuntut hadis, aku menetap selama tujuh tahun. Aku menghitung jarak yang kutempuh dengan berjalan kaki, ternyata lebih dari seribu farsakh. Aku terus menghitung hingga jaraknya melebihi seribu farsakh, lalu aku berhenti menghitungnya. Perjalananku dari Kufah ke Baghdad sudah berkali-kali sehingga tidak dapat kuhitung, dan dari Mekah ke Madinah pun berkali-kali.

“Aku berangkat dari Bahrain menuju daerah sekitar Madinah, lalu terus ke Mesir dengan berjalan kaki. Dari Mesir aku menuju Ramalah dengan berjalan kaki, dari Ramalah ke Baitul Maqdis, dari Ramalah ke ‘Asqalan, dari Ramalah ke Thabariyyah, dari Thabariyyah ke Damaskus, dari Damaskus ke Hims, dari Hims ke Antiokhia (Antakiyah), dan dari Antiokhia ke Tarsus.

Kemudian aku kembali dari Tarsus ke Hims, dari Hims ke Baisan, dari Baisan ke Raqqah, dan dari Raqqah aku menaiki perahu menyusuri Sungai Efrat menuju Baghdad. Aku berangkat sebelum perjalananku ke negeri Syam, dari wilayah tengah menuju Sungai Nil, lalu dari Sungai Nil ke Kufah, semuanya itu kulakukan dengan berjalan kaki.

Semua perjalanan ini terjadi pada perjalanan pertamaku, dan saat itu usiaku dua puluh tahun. Aku mengelilingi dunia selama tujuh tahun. Aku berangkat dari Rayy pada tahun 213 H, lalu kami tiba di Kufah pada bulan Ramadan tahun 216 H, kemudian kami menuju Mekah dan kembali lagi ke Kufah. Kami kembali ke Kufah pada tahun 221 H.

Aku melakukan perjalanan untuk kedua kalinya pada tahun 242 H dan kembali pada tahun 245 H. Aku menetap selama tiga tahun, dan aku tiba di Tarsus pada tahun 217 atau 218 H.” (An-Nubadz fii Aadaab Tholabil Ilmi, 31-32)

***

Puskesmas Sidayu Gresik, 20 Desember 2025

Penulis : Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Artikel : Meciangi.or.id

ShareTweetPin
Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Penuntut ilmu dengan nama Erwin Gunawan, S.T. Pernah belajar kepada para asatidzah di Yogyakarta, diantaranya Ustadz Ahmad Halim, Ustadz Sa'id Abu Ukkasyah, Ustadz Ahmad MZ, Ustadz Ari Wahyudi, Ustadz Abu Isa, Ustadz Aris Munandar dan Ustadz Afifi Abdul Wadud dan para asatidzah lainnya. Alumni Ma'had Aly Al Furqon Al Islamiy Srowo Sidayu Gresik. Alumni S1 Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Related Posts

Aku Ingin Terus Semangat dalam Ibadah
TAZKIYATUN NUFUS

Aku Ingin Terus Semangat dalam Ibadah

15 September 2026
Kisah Seorang Penuntut Ilmu bersama Gurunya
TAZKIYATUN NUFUS

Kisah Seorang Penuntut Ilmu bersama Gurunya

30 Agustus 2026
Do’a Hadiah Terindah untuk Keluarga
TAZKIYATUN NUFUS

Do’a Hadiah Terindah untuk Keluarga

25 Agustus 2026
Kumpulan 15 Pertanyaan Indah dalam Kehidupan
TAZKIYATUN NUFUS

Kumpulan 15 Pertanyaan Indah dalam Kehidupan

24 Agustus 2026
Penghalang Hidayah
TAZKIYATUN NUFUS

Penghalang Hidayah

18 Agustus 2026
Empat Modal Berharga Menyongsong Masa Tua
TAZKIYATUN NUFUS

Empat Modal Berharga Menyongsong Masa Tua

14 Agustus 2026
Next Post
Natal Tahun Baru dan Aqidah Al-Wala’ wal-Baro’

Hadiah dari Orang Nasrani untuk Kaum Muslimin saat Natal

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TENTANG KAMI

Website meciangi.or.id adalah situs dakwah Islam yang dikelola oleh Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi. Diantara kegiatan utama dakwah kami adalah Ma'had Meci Angi. Ma'had Meci Angi merupakan tempat menimba ilmu para penuntut ilmu yang berpijak pada pemahaman shalafus sholeh. Diantara kegiatan utamanya adalah pembelajaran bahasa arab seperti nahwu, shorof, belajar baca kitab, mengadakan daurah syar'iyyah, menerbitkan buletin serta kegiatan kegiatan dakwah lainnya.

Alamat sekretariat Website: Jln. Lintas Sumbawa, Gg. Potlot no.14. Lingkungan Rasa Bou - Kelurahan Kandai Dua - Kecamatan Woja - Kabupaten Dompu - NTB 84218.

Follow us

Terbaru

  • Hikmah dalam Berdakwah (Seri 3)
  • Hikmah dalam Berdakwah (seri 2)
  • Hikmah dalam Berdakwah (Seri 1)
  • Aku Ingin Terus Semangat dalam Ibadah

Kategori

  • ADAB DAN AKHLAQ
  • AL-QUR'AN
  • AQIDAH
  • BAHASA ARAB
  • BANTAHAN
  • BIOGRAFI
  • BULETIN MECI ANGI
  • E-BOOK
  • FATWA ULAMA
  • FIQH
  • KHUTBAH JUM'AT
  • KITAB ULAMA
  • MANHAJ
  • MUTIARA SALAF
  • QOIDAH FIQH
  • SIROH
  • SYAIR
  • TAFSIR
  • TANYA JAWAB
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • USHUL FIQH
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
  • FIQH DAN MUAMALAH
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
  • LAINNYA

© 2024 by mantapp

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI

© 2024 by mantapp