Bismillah. Alhamdulillah. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’iin. Wa ba’du.
Anggapan Masyarakat tentang Kesabaran
Banyak masyarakat menilai dan merasakan bahwa kesabaran itu ialah sesuatu yang menjengkelkan hati seseorang tatkala mendapati keadaan yang sulit serta tidak sesuai harapan. Sehingga anggapan mereka tatkala berada pada kondisi tersebut, ingin segera keluar darinya.
Bahkan tidak sedikit masyarakat kita mengalami keadaan hidup yang serba sulit, terlilit hutang, istri tidak sholihah, anak tidak berbakti, kehilangan mata pencarian, ditinggal orang yang dicintai, sampai-sampai dirinya pun mendapatkan keadaan dimana Allah uji dengan sakit. Lalu apa yang mereka lakukan? Mereka semua akan mengatakan kesabaran ada batasnya loh, saya bukan malaikat, saya bukan nabi, saya bukan manusia super dan segala hal-hal yang semisal akan diucapkan.
Karena itulah mereka mengatakan kesabaran itu tidak ada pada kami. Maka sikap-sikap diatas tidaklah keluar dari beberapa hal, yaitu menganggap dirinya hebat tanpa menggantungkan setiap urusan kepada Allah dan tidak mengetahui hakikat takdir serta kurangnya dekat dengan ajaran agama. Ingatlah, bahwa segala sesuatu itu harus kita sandarkan kepada Allah baik hal yang kecil dan besar, selebihnya serahkan kepada Allah Ta’ala. Untuk itu butuh pengetahuan tentang solusi tersebut, dimana solusi tersebut tidak bisa didapati kecuali dengan sentuhan agama.
Mencela Takdir Buruk
Dalam Shahih Bukhari dan muslim “Allah –‘Azza wa Jalla– berfirman (yang artinya) : “Anak Adam itu telah menyakiti-Ku karena mencela masa/waktu, dan Aku adalah masa itu. Di tangan-Ku lah segala urusan, Aku membolak-balikkan malam dan siang”. (HR. Bukhori: 4826 dan Muslim: 2246) dan di dalam riwayat Muslim: “Janganlah kalian mencela masa, karena Allah adalah masa”.
Ibnu Abdil Bar –rahimahullah– berkata :
“Imam As Syafi’i berkata: “Penjelasan dari hal itu –wallahu a’lam– bahwa orang-orang Arab kebiasaan mereka adalah mencela dan menghina masa, pada saat terjadi musibah yang menimpa mereka, dari mulai kematian, kehancuran, hilangnya harta benda, atau musibah lainnya, mereka mengatakan: “Kita telah tertimpa potongan masa, mereka dihancurkan oleh masa, masa telah datang kepada mereka, malam dan siang tidak berpihak kepada mereka, sehingga mereka menghina masa dan mencelanya. [Soal-Tanya-Jawab Islamweb, no.296855]
Musibah Apapun Teratasi dengan Kesabaran
Diantara anugerah yang terbesar seorang hamba ialah kesabaran, bagaimana bisa, tentu itu bisa dikatakan anugerah, sebab tidak semua mendapatkan kesabaran. Contohnya para Nabi dan Rasul-rasul yang diutus kepada kaumnya apakah mereka mendapatkan kebahagian? Jawabannya tidak. Mereka mendapatkan siksaan bahkan sampai ada yang dibunuh. Namun mereka semua terhadap upaya-upaya kaumnya untuk mencelakannya bisa bersabar dalam menghadapi ujian tersebut, sebagaimana firman Allah Ta’ala :
وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌۭ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُوا۟ عَلَىٰ مَا كُذِّبُوا۟ وَأُوذُوا۟ حَتَّىٰٓ أَتَىٰهُمْ نَصْرُنَا ۚ وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَـٰتِ ٱللَّهِ ۚ وَلَقَدْ جَآءَكَ مِن نَّبَإِى۟ ٱلْمُرْسَلِينَ
Artinya : “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) para rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak seorang pun yang dapat mengubah kalimat- kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu.” (Al-An’am : 34).
Lihat apa yang terjadi diatas, itu semua adalah anugerah dari Allah Ta’la kepada mereka. Sehingga buah dari kesabaran tersebut mereka dapat terbebas dari yang namanya musibah.
Merasa Kesabaran Tidak Akan Diberikan Kepada Manusia BIasa
Semua yang terlahir kedunia ini pasti merasakan kesulitan, kepahitan dan kesempitan dalam hidup, karena memang dunia ini tempatnya merasakan hal tersebut. Kapan orang mendapatkan kebahagian yang haqiqi? Jawabannya ialah di surga. Karena surgalah tempat yang abadi, bahkan manusia paling pertama diciptakan ialah Nabi Adam alaihi salam ketika di surga semua diberikan termasuk kebahagian yang haqiqi, namun tatkala diturunkan ke surga, hilang kebahagian tersebut.
Diantara kisah manusia yang mendapatkan ujian yaitu Abu Qilabah, beliau adalah seorang manusia yang serba kekurangan; kedua tangannya buntung, matanya buta, dan sebatang kara tanpa sanak dan keluarga. Lalu apakah dia mengeluh, atau mengatakan dia tidak bisa bersabar karena bukan manusia yang terpilih seperti nabi? Jawabannya adalah tidak. Bahkan dia bersabar. Apa yang dia lakukan? tidak hentinya beliau mengucapkan “alhamdulillah segala puji hanya milik Allah yang melebihkanku diatas banyak ciptaanmu (manusia)” diulang sebanyak dua kali dalam ucapannya.
Tergambar dalam kisahnya tersebut ada seseorang yang tersesat, dan kemudian terheran-heran ada sosok lelaki yang tua di dalam kemah, dimana keadaanya sangat tidak normal; kedua tangannya buntung, matanya buta, dan tidak ada yang mengurusinya, tetapi malah tetap melantunkan pujian kepada Allah Ta’ala.
Terjadi dialog diantara seorang tersebut dan sosok lelaki yang tua, “apa yang membuat kamu mengucapkan pujian kepada Allah Ta’ala atas banyak kelebihan yang diberikan kepadamu padahal kondisimu serba kekurangan? Tanya seseorang tersebut.”
“Maka singkat cerita seseorang tadi bertanya kepada lelaki tua tersebut, kemudian beliau lelaki tua tersebut akan menceritakan kenapa bisa demikian kalau seseorang tadi mau menolongnya.
Lalu bukan, dibalik semua kekuranganku Allah masih memberikan banyak kelebihan? Misalnya Allah masih memberikanku fikiran dan akal yang sehat tatkala kekuranganku pada fisik, sehingga aku mampu berfikir? Jawabnya iya.
Kemudian disi lain aku masih bisa mendengar yang aku jadikan untuk mendengar adzan, karena mungkin saja banyak yang tuli disekitarku untuk mengabaikan adzan.
Selanjutnya dengan lisan, juga aku bisa gunakan untuk berdzikir kepada-Nya, serta keadaan muslim aku menjadi selamat dunia dan akhirat dibanding orang yahudi dan Nasrani. Maka inilah nikmat yang diberikan kepadaku, sehingga aku masih bisa bersyukur kepada-Nya.” [Dinukil dari situs http://basweidan.com/ Abu Hudzaifah Al Atsary]
Memang benar apa yang Allah Ta’ala firmankan :
۞ لَّيْسَ ٱلْبِرَّ أَن تُوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ ٱلْمَشْرِقِ وَٱلْمَغْرِبِ وَلَـٰكِنَّ ٱلْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةِ وَٱلْكِتَـٰبِ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ وَءَاتَى ٱلْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَـٰمَىٰ وَٱلْمَسَـٰكِينَ وَٱبْنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَـٰهَدُوا۟ ۖ وَٱلصَّـٰبِرِينَ فِى ٱلْبَأْسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلْبَأْسِ ۗ أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ ۖ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُتَّقُونَ
Artinya : “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi- nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta, dan (memerdeka-kan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya bila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah : 177).
Jadi yang namanya kebajikan itu tidak terbatas bahkan kesabaran yang diberikan kepada orang biasa pun bisa terjadi.
Kesabaran Hanya Ada di Lisan
Semua orang mungkin sudah mencoba bagaimana itu sabar, bahkan sudah diajarkan ketika dibangku sekolah namun prakteknya adalah ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan, yang terjadi adalah emosional sikap marah yang dimunculkan bukan kesabarannya. Faktanya terkadang ada seseorang mengajarkan kesabaran misalnya di sekolah, tapi ketika anak muridnya bercanda, mengobrol dan tidak mendengarkan pelajaran, sikap yang diambil dari pengajar tersebut adalah marah-marah dan sederet perlakuan keluar demi melancarkan peredaran darah yang kalau itu sedang meninggi. Tentu inilah yang disebut kesabaran hanya di lisan, ketika dipraktekkan justru hilang dari apa yang diajarkan.
Kenapa Sabar itu Sulit
Sabar memang sulit, namun butuh latihan serta pengetahuan tentang sabar tersebut. Jika kita melihat kepada hadits Nabi ﷺ tentang kesabaran :
الطُّهورُ شطْرُ الإيمانِ ، والحمدُ للهِ تملأُ الميزانَ ، وسُبحانَ اللهِ والحمدُ للهِ تَملآنِ ما بين السماءِ والأرضِ ، والصلاةُ نورٌ ، والصدَقةُ بُرهانٌ ، والصبْرٌ ضِياءٌ ، والقُرآنُ حُجَّةٌ لكَ أوْ عليكَ ، كلُّ الناسِ يَغدُو ، فبائِعٌ نفسَهُ ، فمُعتِقُها أوْ مُوبِقُها
Dari Abu Malik al-Harits bin ‘Ashim Al-Asyh’ari radhiyalaahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Bersuci itu sebagian dari iman, ucapan alhamdulillah memenuhi timbangan, subhanallah dan alhamdulillah, keduanya memenuhi antara langit dan bumi. Shalat itu cahaya, sedekah itu bukti nyata, kesabaran adalah cahaya, sedangkan al-Quran adalah hujjah yang membelamu atau hujjah yang menuntutmu. Setiap manusia berbuat, seakan-akan ia menjual dirinya: ada yang memerdekakan dirinya sendiri ada yang membinasakan dirinya sendiri (HR.Muslim 223, dinukil dari Hadits Arba’in)
Disitu kita akan mendapati kata sabar itu dengan kata ضياء karena makna kata tersebut ialah cahaya mengeluarkan hawa yang panas sedangkan نور maknanya ialah cahaya yang tidak mengeluarkan hawa panas. Maka pantas orang yang menahan kesabaran tersebut seolah-olah menahan cahaya yang mengeluarkan hawa panas dalam dirinya, sehingga orang yang tidak terlatih akannya akan tersilaui dengan cahaya tersebut dan tidak kuat berada padanya. Sedangkan orang yang berlatih akan tahan terhadap panas tersebut
Buah dari Kesabaran
Allah Ta’ala tidak akan menelantarkan seseorang yang berusaha untuk berbuat kebajikan. Dan tentu saja semua itu akan diganjar dengan pahala yang besar dari Allah Ta’ala. Ketika seorang mukmin mampu memenjarakan dirinya dari kesenangan dunia, sahwatnya, hal-hal yang dimakruhkan serta yang diharamkan atasnya, maka dia akan mendapatkan pahala atas kesabarannya.
Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍۢ
Artinya : “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (Az-Zumar : 10)
Dan Nabi ﷺ pernah menyampaikan dalam haditsnya :
الدُّنيا سجنُ المؤمنِ وجنَّةُ الْكافرِ
“Dunia itu penjara bagi setiap mukmin, surga bagi orang kafir” (HR.Muslim)
Al-Imam An-Nawawi Rahimahulullah mengatakan makna dari mukmin terpenjara maksudnya dilarang bagi mukmin untuk terjatuh kepada keharaman, syahwat maupun makruh ketika di dunia. Tentu ini adalah beban syariat baginya untuk melakukan ketaatan-ketaatan yang menyulitkannya, sehingga ketika mukmin itu wafat maka dia telah beristirahat dari perkara tersebut.
Adapun surga bagi orang kafir maksudnya ialah mereka akan mendapatkan sesuai yang mereka miliki di dunia, meskipun kesulitan serta gangguan lainnya. Namun ketika mereka mati akan diberikan azab serta kemalangan yang selama-lamanya.
Ketika bisa memahami bahwasannya buah dari kesabaran ialah pahala yang indah nan menenangkan hati setiap mukmin.
Kesabaran adalah Ibadah Hati
Kita sudah mengetahui sesungguhnya jenis-jenis amalan secara umum ada 2 ibadah; badaniyyah dan ibadah maliyyah. (lihat Syarah Ushuul ats-Tsalasah bab macam-macam ibadah, hal 95).
Ibadah badaniyah itu ada 3 :
- Amalan Lisan mencakup : tasbih, dzikir, tahlil, mengucapkan syahadat, dan semua yang disyariatkan untuk diucapkan dengan lisan maka ini ibadah lisan
- Amalan Badan : rukuk, sujud, jihad berperang, jihad melawan hawa nafsu, dan hijrah dst.
- Amalan Hati : takut, harap, takut disertai dengan pengagungan, cinta, tawakal, inabah, istianah, ikhlas dst.
Kemudian Abu Bakr bin al-Anbary dari sebagian ulama menghikayatkan terkait kenapa dinamakan kesabaran sebab sabar itu memahitkan hati menjengkelkan jiwa seperti pahitnya kesabaran. (An-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits libnil Atsiir, 4/317, dan Dzammul Hawa libnil Jauziy, hal.58)
Penukilan diatas lah yang menujukkan bahwa sabar itu memahitkan hati, yang pastinya itu terletak pada hati.
Meraih Pahala dengan Kesabaran
Kesabaran memang sesuatu yang menyulitkan jiwa, oleh karenanya kesabaran itu setengah keimanan. Dan siapa saja yang mengamalkannya akan mendapatkan pahala yang besar, sebagaiman firman Allah Ta’ala :
إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍۢ
Artinya : “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (Az-Zumar : 10)
Oleh karenanya kesabaran itu ada tiga macam:
- Sabar dalam ketaatan kepada-Nya
- Sabar terhadap untuk tidak melakukan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala
- Sabar terhadap musibah dan tidak mengeluh terhadap rabb-Nya
Adapun untuk dapat membantu dalam kesabaran :
- Mencintai Allah Ta’ala melebihi apapun
- Takut kepada Allah
- Memuliakan dan membersihkan jiwa
- Memendekkan angan-angan
- Menjauhi mencampuri urusan orang lain
- Menghadirkan sifat malu kepada Allah
Dengan demikian, ketika sudah mengilmui terhadap kesabaran kita akan semakin yakin akan kesabaran ialah tanpa batas dan bisa dilakukan oleh siapapun. Dengannya lah kita akan mendapatkan pahala, serta karenanya lah kita mendapatkan keridhoan Allah Ta’ala sehingga mendapatkan pahala yang tanpa batas.
Dan kalau ditanya sampai kapan sabarnya? Jawabannya sebagaimana firman Allah Ta’ala :
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
Artinya : “Sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-yaqin(kematian)” (Al-Hijr : 99)
Dalil ini menunjukkan kepada jenis kesabaran yang pertama, artinya kita harus sabar dalam ketaatan termasuk di dalamnya. Dan kita berdoa semoga Allah Ta’ala menjadikan kita manusia yang bisa bersabar dalam segala keadaan, sampai datang kepada kita kematian yang khusnul khatimah. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
***
Bekasi, 10 Muharram 1444 H / 8 Agustus 2022
Diterbitkan ulang : 16 Jumadil Awwal 1447 H / 7 November 2025
Penulis : Ustadz Hendri Abu Abdirrahman Al-Idris, S.Kom
Artikel : Meciangi.or.id






