Ketika dua manusia belum berkumpul dalam pernikahan maka yang nampak adalah kesempurnaan dan pikatan yang aduhai, namun ketika keduanya dipertemukan dalam bingkai rumah tangga maka keduanya tidak bisa menghindar dari aib yang selama ini tertutup rapat dihadapan pasangannya masing-masing.
Oleh karena itu sepasang suami istri lebih mudah untuk digoda setan terhadap pasangannya masing-masing, di mana rasa tidak puas terhadap pasangannya sering kali menyeret sang laki-laki untuk pingin menambah lagi alias poligami, sedangkan pihak istri ingin menyudahi hubungannya dengan sang suami.
Padahal jika sang suami menambah lagi juga masalah serupa juga akan dia hadapi karena tidak ada kesempurnaan di dunia ini.
Begitu pula dengan sang istri ketika tidak lagi menghargai lagi suaminya belum tentu akan mendapatkan yang lebih baik.
Inilah fakta yang tidak bisa dipungkiri dalam dunia rumah tangga.
Dan dalam kondisi seperti ini pihak wanita lebih sering dalam posisi bahaya karena mereka adalah makhluk yang lemah walaupun dunia mengatakan bahwa wanita adalah ras terkuat di muka bumi ini.
Oleh karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpesan kepada para suami supaya menyayangi istri mereka, karena mereka adalah makhluk yang penuh kekurangan tapi selalu melihat orang lain yang selalu salah.
اسْتَوْصُوا بالنِّساءِ؛ فإنَّ المَرْأَةَ خُلِقَتْ مِن ضِلَعٍ، وإنَّ أعْوَجَ شَيءٍ في الضِّلَعِ أعْلاهُ، فإنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وإنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أعْوَجَ، فاسْتَوْصُوا بالنِّساءِ.
“Berbuat baiklah kalian kepada istri-istri kalian, karena para wanita itu diciptakan dari tulang rusuk.
Dan sesuatu yang paling bengkok pada tulang rusuk adalah bagian paling atasnya. Jika engkau bertindak untuk meluruskannya, maka engkau akan memecahkannya (mematahkannya).
Namun jika engkau membiarkannya, maka selamanya ia akan bengkok.
Maka berbuat baik lah kalian kepada istri istri kalian.” (HR. Bukhari 3331 dan Muslim 1468)
Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga berpesan:
لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إنْ كَرِهَ منها خُلُقًا رَضِيَ منها آخَرَ
“Janganlah seorang Mukmin (suami) membenci wanita mu’minah (istri) , jika dia membenci salah satu perangainya, hendaknya dia suka dengan perangai yang lainnya.” (HR Muslim 1469)
Oleh karena Syeikh Utsaimin dalam menjelaskan hadits ini menyebutkan bahwa suami lah yang harus lebih bersabar dalam hal ini daripada istrinya, karena dia laki laki, akalnya lebih dari pada wanita dan kelebihan kelebihan yang lainnya.
***
Tuban, Jum’at 19 Jumadil akhir 1446 H/20 Desember 2024 M
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A
Artikel : Meciangi.or.id






