Karnaval bisa mubah dan bisa terlarang tergantung kegiatan di dalamnya karena inti dari karnaval ada perayaan.
Dan perayaan dalam Islam terkadang boleh dan terkadang tidak boleh.
Dia diperbolehkan jika ada perintahnya dalam syariat atau itu adalah perayaan yang sangat insidental seperti penduduk Madinah merayakan kedatangan Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Atau seperti menyambut kedatangan para pahlawan dari peperangan dan berbagai macam perayaan insidental lainnya yang sifatnya mubah.
Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata :
ويسمع المسلمون بالمدينةِ مَخرجَ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ من مكةَ ، فكانوا يَغدونَ كلَّ غداةٍ إلى الحَرَّةِ ، فينتظرونه حتى يَرُدَّهم حَرُّ الظهيرةِ ، فانطلقوا أيضًا بعد ما أطالوا انتظارَهم ، فلما أووا إلى بيوتِهم ، أوفَى رجلٌ من اليهودِ على أَطَمٍ من آطامِهم لأمرٍ ينظرُ إليه ، فبصر برسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ وأصحابِه مُبيضِينَ ، يزولُ بهم السَّرابُ ، فلم يملِكِ اليهوديُّ ، أن قال بأعلى صوتِه : يا معشرَ العربِ هذا جَدُّكم الذي تنتظرونَ . فثار المسلمون إلى السِّلاحِ ، فتلقَّوا رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ بظَهرِ الحَرَّةِ
“Penduduk Madinah mendengar kabar perginya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari Mekkah, maka mereka setiap pagi menyambut kedatangan nya sampai akhirnya mereka kembali ketika panas sudah semakin menyengat.
Mereka pun kembali setelah berhari-hari menanti kedatangan beliau.
Maka tatkala mereka kembali ke rumah-rumah mereka ternyata ada seorang Yahudi melihat kedatangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya memakai baju putih setelah sirnanya pandangan fatamorgana dari atas benteng mereka.
Maka si Yahudi pun tidak bisa mengendalikan dirinya sehingga berteriak dengan suara yang keras :
Wahai orang-orang Arab, telah datang yang selama ini kalian tunggu-tunggu.
Maka orang-orang pun berbondong-bondong membawa senjata mereka menyambut kedatangan beliau di tengah terik nya matahari.” (HR. Bukhari 3906).
Namun jika perayaan tersebut berisi maksiat-maksiat, suara sound horeg, joget joget laki-laki wanita, kostum busana yang sama sekali bukan busana muslim, wanita berpakaian ketak, tidak berkerudung dan bahkan banyak lebih menyerupai gaya dan model perayaan orang-orang kafir maka hal ini sudah barang tentu menjadi karnaval yang diharamkan.
Sehingga jika seseorang menghadiri acara-acara seperti ini apakah diperbolehkan menjamak dan menqoshor sholat?
Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.
Jumhur ulama memandang tidak boleh menqoshor sholat kecuali untuk safar yang mubah saja, adapun jika safar tersebut untuk maksiat maka tidak boleh menqoshor sholat.
Dan pendapat kedua memandang tetap bolehnya menqoshor sholat walaupun safarnya berisi maksiat.
Al Baji rahimahullah berkata :
وأمَّا سفر المعصية، فالمشهورُ من مذهب مالك: أنَّه لا تُقصَر فيه الصلاة، وبه قال الشافعيُّ، وروى زيادُ بن عبد الرحمن عن مالكٍ: أنَّه تُقصَر فيه الصَّلاة، وبه قال أبو حنيفة
“Adapun safar maksiat, maka yang masyhur dari madzhabnya Malik tidak boleh diqoshor, dan ini juga pendapat Syafi’iyah.
Dan diriwayatkan dari Ziad bin Abdurrahman dari Malik :
Boleh menqoshor sholat, dan ini pendapat Abu Hanifah.” (Lihat Al Muntaqo 1/261).
***
Sidayu, Selasa 10 rabiul awwal 1447 H/2 September 2025 M
Penulis : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A
Artikel : Meciangi.or.id






