Sabtu, Juni 6, 2026
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
NEWSLETTER
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI
No Result
View All Result
Meci Angi | Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi
No Result
View All Result

Muqoddimah Puasa (seri 1)

Abu Dawud ad-Dombuwiyy by Abu Dawud ad-Dombuwiyy
19 Februari 2024
in FIQH
Reading Time: 8 mins read
0
Home FIQH

Bismillah, alhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in, wa ba’du.

RELATED POST

Orang Tua yang Melarat adalah Tanggungan Anaknya

Gambaran Ilmu Fiqh, Qowaid Fiqhiyyah dan Ushul Fiqh

Puasa merupakan ibadah yang agung, ibadah yang mulia, dan pahalanya berlipat ganda. Dan puasa itu sendiri akan terasa lebih nikmat jika kita telah mengilmui tentang definisinya, dalil-dalilnya, rukun-rukunnya dan lain sebagainya. Karena itu, agar semakin menyemangati kita dalam melaksanakan ibadah puasa, dibawah ini kita akan membahas beberapa permasalahan dan faedah seputar puasa, diantaranya pengertian puasa, rukun-rukun puasa beserta dalil-dalilnya.

1. PENGERTIAN PUASA

Puasa ditinjau dari pengertiannya terbagi menjadi dua, pertama secara bahasa, kedua secara istilah. Para ulama menjelaskan :

  .الصيام في اللغة : الإمساك عن الشيء

.وفي الشرع : الإمساك عن الأكل، والشرب، وسائر المفطرات، مع النية من طلوع الفجر الصادق إلى غروب الشمس

Puasa secara bahasa : Menahan diri dari sesuatu.

Secara Syar’i : Menahan diri dari makan, minum, dan dari segala yang membatalkan, disertai dengan niat, dari terbitnya fajar shodiq hingga terbenamnya matahari. [Al-Fiqhu Al-Muyassar fii Dhou’il Kitaab was Sunnah, hal.149. Cet. Ad-Daarul ‘Aalamiyyah]

Dari definisi ini dapat difahami secara bahasa bahwa puasa bermakna menahan, sebagaimana ucapan Maryam binti Imran :

«فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ ٱلْبَشَرِ أَحَدًۭا فَقُولِىٓ إِنِّى نَذَرْتُ لِلرَّحْمَـٰنِ صَوْمًۭا فَلَنْ أُكَلِّمَ ٱلْيَوْمَ إِنسِيًّۭا»

Artinya : “Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (QS. Maryam : 26)

Puasanya Maryam ketika itu adalah menahan diri dari berbicara dengan kaumnya sebagaimana firman Allah :

«فَأَتَتْ بِهِۦ قَوْمَهَا تَحْمِلُهُۥ ۖ قَالُوا۟ يَـٰمَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْـًۭٔا فَرِيًّۭا. يَـٰٓأُخْتَ هَـٰرُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ ٱمْرَأَ سَوْءٍۢ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّۭا. فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ ۖ قَالُوا۟ كَيْفَ نُكَلِّمُ مَن كَانَ فِى ٱلْمَهْدِ صَبِيًّۭا»

Artinya : “Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina, maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?” (QS. Maryam : 27-29)

Maryam menunjuk kepada anaknya karena ia sedang berpuasa ; yaitu tidak ingin berbicara dengan seorangpun pada hari itu. Lalu Nabi Isa ‘alaihissalam-pun berbicara kepada Bani Isroil dan membela kehormatan Ibunya, sehingga membuat Bani Isro’il merasa terheran-heran dan berselisih pendapat tentang hal tersebut.

2. RUKUN PUASA DAN DALILNYA

Puasa memiliki rukun-rukun sebagaimana sholat. Adapun rukun puasa ada dua:

.الأول : الإمساك عن المفطرات من طلوع الفجر إلى غروب الشمس

ودليل هذا الركن قوله تعالى : «فَٱلْـَٔـٰنَ بَـٰشِرُوهُنَّ وَٱبْتَغُوا۟ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلْأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ .ٱلْأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا۟ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ ۚ». والمراد بالخيط الأبيض والخيط الأسود : بياض النهار وسواد الليل

الثاني : النية، بأن يقصد الصائم بهذا الإمساك عن المفطرات عبادة الله عز وجل، فبالنية تتميز الأعمال المقصودة للعبادة عن غيرها من الأعمال، وبالنسبة تتميز العبادات بعضها عن بعض، فيقصد الصائم بهذا الصيام : إما صيام رمضان، أو غيره من أنواع الصيام

«ودليل هذا الركن قوله صلى الله عليه وسلم : «إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى

Yang Pertama: Menahan diri dari segala yang membatalkan dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

Dalil rukun ini firman Allah Ta’ala (yang artinya) : “Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” Yang dimaksud benang putih dan benang hitam yaitu terangnya siang dan gelapnya malam.

Yang Kedua : Niat. Orang yang berpuasa hendaknya meniatkan menahan diri tersebut dalam rangka ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka dengan niat, akan membedakan amal-amal ibadah yang dimaksudkan dengan perbuatan yang sifatnya bukan ibadah, dan dengan niat pula, akan membedakan antara satu ibadah dengan ibadah lainnya, maka orang yang berpuasa meniatkan puasa tersebut ; baik puasa ramadhon atau puasa lainnya dari macam-macam puasa.

Dalil rukun kedua ini yaitu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : ((Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang tergantung apa yang ia niatkan)). [Al-Fiqhu Al-Muyassar fii Dhou’il Kitaab was Sunnah, hal.149. Cet. Ad-Daarul ‘Aalamiyyah]

Dengan mengetahui pengertian puasa secara bahasa dan istilah serta rukun-rukunnya, diharapkan akan menambah keilmuan kita terkait puasa ramadhan yang sebentar lagi akan menyapa kita, sehingga kita-pun bisa melaksanakan puasa ini dengan bimbingan ilmu dan keyakinan bukan sekedar ikut-ikutan.

Faedah yang bisa di ambil :

1. Adanya dua pengertian puasa secara bahasa dan secara syar’i

2. Puasa secara bahasa yaitu : Menahan diri dari sesuatu, sebagaimana firman Allah kepada Maryam binti Imran :

 

«فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ ٱلْبَشَرِ أَحَدًۭا فَقُولِىٓ إِنِّى نَذَرْتُ لِلرَّحْمَـٰنِ صَوْمًۭا فَلَنْ أُكَلِّمَ ٱلْيَوْمَ إِنسِيًّۭا»

Artinya : “Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (QS. Maryam : 26)

Maka puasanya Maryam ketika itu adalah menahan diri untuk tidak berbicara dengan seorang-pun. Dan ini makna puasa secara bahasa.

3. Puasa secara syar’i yaitu : Menahan diri dari makan, minum, dan dari segala yang membatalkan, disertai niat dari terbitnya fajar shodiq hingga terbenamnya matahari.

4. Makna ayat :

«حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلْأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلْأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ»

Artinya : “Hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.”

Yang di maksud dengan benang putih dan benang hitam yaitu terangnya siang dan gelapnya malam.

5. Huruf jar إِلَى pada ayat :

«ثُمَّ أَتِمُّوا۟ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ ۚ»

Yaitu (lil-intiha’) ujung atau batas. Maksudnya penghujung atau batas akhir waktu puasa yaitu sampai terbenamnya matahari.

6. Rukun puasa ada dua : Pertama : Menahan diri dari makan, minum, dan segala perkara yang membatalkan puasa, dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

Rukun Kedua : Niat, yaitu dalam rangka beribadah kepada Allah semata bukan dalam rangka ria

7. Tujuan niat ada dua :  Pertama : Agar membedakan antara ibadah dengan adat kebiasaan. Contoh : Tidur, jika diniatkan agar lebih kuat dalam beribadah kepada Allah, maka tidur itu bernilai ibadah dan akan mendapatkan pahala. Tapi jika seseorang tidur hanya semata-mata adat kebiasaan manusia, atau hanya sekedar ingin menghilangkan ngantuk, maka hal itu tidak termasuk ibadah dan dia tidak mendapatkan pahala sedikitpun.

Karena itu perkara yang mubah, bisa menjadi berpahala jika diikatkan dengan niat yang baik. Berkata Doktor Bandar bin Nafi’ :

أنه ينبغي للمرء أن ينوي النية الصالحة حتى في المباحات، كأكله وشربه ونومه ونفقته على أهله حتى يكون مأجورا عليها

“Bahwasannya semestinya bagi seseorang agar meniatkan niat yang baik sampai-pun dalam perkara yang mubah, seperti makan, minum, tidur dan nafkah (yang ia berikan) untuk keluarganya, sehingga hal itu menjadi pahala.” [Ad-Durar as-Saniyyah bi Fawaaid al-Arbaiin an-Nawawiyyah, hal. 15. Cet. Daar Ibnil Jauziy]

Kemudian beliau membawakan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

قال النبي سلى الله عليه وسلم لسعد بن أبي وقاص رضي الله عنه : ((وإنك لن تنفق نفقة تبتغي بها وجه الله أجرت بها حتى ما تجعله في فم امرأتك)). متفق عليه

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu : ((Sesungguhnya tidaklah engkau menafkahkan suatu nafkah yang dengannya engkau mengharap wajah Allah, kecuali engkau akan mendapatkan pahalanya, sampai-pun apa yang kamu letakkan dimulut istrimu)). Muttafaqun ‘alaihi. [Ad-Durar as-Saniyyah bi Fawaaid al-Arbaiin an-Nawawiyyah, hal. 15. Cet. Daar Ibnil Jauziy]

Berkata sebagian salaf :

من سره أن يكمل له عمله، فليحسن نيته، فإن الله عز وجل يأجر ((العبد إذا أحسنت نيته حتى باللقمة))، فإذا نوى المرء بأكله التقوي على طاعة الله وبنومه كذلك كان مأجورا

((Barangsiapa yang gembira agar disumpurnakan amalnya, maka hendaklah dia memperbaiki niatnya, karena Allah ‘Azza wa Jalla memberikan pahala kepada seorang hamba jika baik niatnya, sampai-pun satu suapan -ke mulut istrinya-)), apabila seseorang telah berniat dengan makan tersebut agar menjadikan dia kuat dalam ketaatan kepada Allah dan dengan tidurnya demikian pula, maka baginya pahala.  [Ad-Durar as-Saniyyah bi Fawaaid al-Arbaiin an-Nawawiyyah, hal. 15. Cet. Daar Ibnil Jauziy]

Kedua : Niat merupakan pembeda antara satu ibadah dengan ibadah lainnnya. Contoh : Puasa itu banyak, ada puasa ramadhon, puasa sunnah, puasa nadzar dll. Jika seseorang ingin puasa ramadhon, maka dia harus niatkan bahwa puasa ini puasa ramadhon, bukan puasa sunnah, sehingga menjadi jelaslah jenis ibadahnya. Karena itulah niat merupakan pembeda antara satu jenis ibadah dengan ibadah lainnnya.

8. Pentingnya niat

9. Wajibnya memulai niat dimalam hari sebelum terbit fajar shodiq bagi puasa yang fardhu seperti puasa ramadhan, puasa kafarat, puasa nadzar. Adapun puasa sunnah, boleh niat puasanya ketika siang hari sebagaimana disebutkan :

يجب على الصائم أن ينوي الصيام، وهي ركن من أركانه كما مضى ؛ لقوله صلى الله عليه وسلم : ((إنما الأعمال بالنية وإنما لكل امرئ ما نوى)). و ينويها من الليل في صيام الواجب ؛ كصوم رمضان والكفارة والقضاء والنذر، ولو قبل الفجر بدقيقة واحدة ؛

.((لقوله صلى الله عليه وسلم : ((من لم يبيت الصيام قبل الفجر فلا صيام له

فمن نوى صوما في النهار، ولم يطعم شيئا، لم يجزئه الا في صيام التطوع، فيجوز بنية من النهار، إذا لم يطعم شيئا من أكل أو شرب ؛ لحديث عائشة رضي الله عنها قالت : دخل علي النبي صلى الله عليه وسلم ذات يوم فقال : ((هل عندكم من شيء؟)) فقلنا : لا، قال : ((فإني إذن صائم)). أما صيام الواجب فلا ينعقد بنية من النهار، ولا بد فيه من بنية الليل

“Wajib bagi orang yang berpuasa agar dia meniatkan puasanya, dan niat merupakan rukun dari rukun-rukun puasa sebagaimana yang telah berlalu berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : ((Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang tergantung apa yang ia niatkan)). Ia niatkan niatnya mulai dari malam hari untuk puasa wajib ; seperti puasa ramadhan, puasa kafarat, puasa qadho’ (mengganti puasa yang ditinggalkan), dan puasa nadzar, walaupun satu menit sebelum fajar ; berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : ((Barangsiapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa untuknya)).

Barangsiapa yang berniat puasa di siang hari tapi dia belum makan sesuatu apapun, tidak boleh dia mencukupkannya kecuali dalam puasa sunnah, maka boleh dengan niat di siang hari jika dia belum makan sesuatu apapun dari makanan atau minuman berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata : Pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kepadaku dan berkata : ((Apakah kalian memiliki sesuatu?)) Maka kami katakan, Tidak. Beliau bersabda : ((Jika demikian saya akan berpuasa)). Adapun puasa wajib maka tidak ditetapkan dengan niat disiang hari, akan tetapi wajib dengan niat di malam hari.” [Al-Fiqhu Al-Muyassar fii Dhou’il Kitaab was Sunnah, hal.149. Cet. Ad-Daarul ‘Aalamiyyah]

10. Niat itu cukup sekali di awal bulan ramadhan saja, sebagaimana disebutkan oleh para ulama :

 .وتكفي نية واحدة في بداية رمضان لجميع الشهر، ويستحب تجديدها في كل يوم

Dan niat satu kali saja diawal bulan ramadhan cukup untuk seluruh bulan (ramadhan), dan dicintai untuk memperbaharuinya setiap hari.” [Al-Fiqhu Al-Muyassar fii Dhou’il Kitaab was Sunnah, hal.149. Cet. Ad-Daarul ‘Aalamiyyah]

Masih banyak faedah-faedah lain dari tulisan ini, hanya ini yang bisa kami simpulkan. Semoga tulisan ringkas ini bermanfaat untuk kaum muslimin.

***

Dompu, Nusa Tenggara Barat : 24 Sya’ban 1443 H/27 Maret 2022

Penulis : Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Artikel : Meciangi.com

ShareTweetPin
Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Penuntut ilmu dengan nama Erwin Gunawan, S.T. Pernah belajar kepada para asatidzah di Yogyakarta, diantaranya Ustadz Ahmad Halim, Ustadz Sa'id Abu Ukkasyah, Ustadz Ahmad MZ, Ustadz Ari Wahyudi, Ustadz Abu Isa, Ustadz Aris Munandar dan Ustadz Afifi Abdul Wadud dan para asatidzah lainnya. Alumni Ma'had al-Furqon al-Islamiy Srowo Sidayu Gresik. Alumni S1 Jurusan Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Related Posts

Orang Tua yang Melarat adalah Tanggungan Anaknya
FIQH

Orang Tua yang Melarat adalah Tanggungan Anaknya

21 Januari 2026
Gambaran Ilmu Fiqh, Qowaid Fiqhiyyah dan Ushul Fiqh
FIQH

Gambaran Ilmu Fiqh, Qowaid Fiqhiyyah dan Ushul Fiqh

11 Januari 2026
Bahaya Meninggalkan Sholat
FIQH

Bahaya Meninggalkan Sholat

9 November 2025
Bacaan Tasyahud bagi Makmum Masbuq Ketika Imam sedang Tasyahud Akhir
FIQH

Bacaan Tasyahud bagi Makmum Masbuq Ketika Imam sedang Tasyahud Akhir

5 Oktober 2025
Jamak dan Qoshor Sholat Ketika Karnaval
FIQH

Jamak dan Qoshor Sholat Ketika Karnaval

4 Oktober 2025
Anak Kecil Sholat Berjamaah apakah Memotong Shof Sholat
FIQH

Anak Kecil Sholat Berjamaah apakah Memotong Shof Sholat

12 September 2025
Next Post
Muqoddimah Puasa (seri 2)

Muqoddimah Puasa (seri 2)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TENTANG KAMI

Website meciangi.or.id adalah situs dakwah Islam yang dikelola oleh Forum Kajian Mahasiswa Meci Angi. Diantara kegiatan utama dakwah kami adalah Ma'had Meci Angi. Ma'had Meci Angi merupakan tempat menimba ilmu para penuntut ilmu yang berpijak pada pemahaman shalafus sholeh. Diantara kegiatan utamanya adalah pembelajaran bahasa arab seperti nahwu, shorof, belajar baca kitab, mengadakan daurah syar'iyyah, menerbitkan buletin serta kegiatan kegiatan dakwah lainnya.

Alamat sekretariat Website: Jln. Lintas Sumbawa, Gg. Potlot no.14. Lingkungan Rasa Bou - Kelurahan Kandai Dua - Kecamatan Woja - Kabupaten Dompu - NTB 84218.

Follow us

Terbaru

  • Angkatlah Do’amu di Hari Arafah
  • Puasa Awal Dzulhijjah
  • Kambing 1,7 Tahun Belum Powel
  • Biografi Syaikhuna wa Waliduna Aunur Rafiq bin Ghufron bin Hamdan

Kategori

  • ADAB DAN AKHLAQ
  • AL-QUR'AN
  • AQIDAH
  • BAHASA ARAB
  • BANTAHAN
  • BIOGRAFI
  • BULETIN MECI ANGI
  • E-BOOK
  • FATWA ULAMA
  • FIQH
  • KHUTBAH JUM'AT
  • KITAB ULAMA
  • MANHAJ
  • MUTIARA SALAF
  • QOIDAH FIQH
  • SIROH
  • SYAIR
  • TAFSIR
  • TANYA JAWAB
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • USHUL FIQH
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
  • FIQH DAN MUAMALAH
  • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
  • LAINNYA

© 2024 by mantapp

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BELAJAR ISLAM
    • AQIDAH
    • MANHAJ
  • FIQH DAN MUAMALAH
    • FIQH
    • QOIDAH FIQH
    • USHUL FIQH
  • TAZKIYATUN NUFUS
    • ADAB DAN AKHLAQ
    • TAZKIYATUN NUFUS
  • DOWNLOAD
    • E-BOOK
    • BULETIN MECI ANGI
    • KITAB ULAMA
    • REKAMAN KAJIAN
  • LAINNYA
    • FATWA ULAMA
    • TAFSIR
    • SIROH
    • KHUTBAH JUM’AT
    • BAHASA ARAB
    • BANTAHAN
    • TANYA JAWAB
    • MUTIARA SALAF
    • BIOGRAFI

© 2024 by mantapp