Bolehkah orang tua istri menahan istri tidak kembali ke rumah suami karena sakit hati kepada suaminya? Atau Karena tidak ridho kepada akhlak suaminya?
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين، وبعد
Orang tua memiliki kewajiban membantu rumah tangga anaknya baik di atas kebaikan, sehingga ikut serta dalam menjaga kebaikan untuk rumahtangga anaknya, meluruskan jika ada kesalahan.
Adapun memisahkan anaknya dengan suaminya maka ini tidak dibenarkan, kecuali dia segera selesaikan di mahkamah atau pengadilan.
Syeikh bin Baz rahimahullah berkata :
ننصح والدها بأن يتقي الله، وأن يعيد المرأة إلى زوجها، إلا أن يكون هناك عذر شرعي فيبين للزوج هذا العذر، فإما أن يفارق وإما أن يذهب معه إلى المحكمة، وفي المحكمة البركة والخير، أما أن يمنعها من زوجها بغير وجه شرعي فهذا حرام وظلم
“Kami menasehati sang bapak untuk takut kepada Allah, mengembalikan sang anak kepada suaminya, kecuali memang ada udzur syar’i dan menjelaskannya kepada suami, maka di sini suami memilih antara menceraikannya atau pergi ke pengadilan, dan pengadilan in sya Allah berkah dan baik.
Adapun sang bapak menahan anaknya seperti ini dari suaminya secara tidak syar’i maka ini haram dan dzalim.” (Lihat fatawa bin Baz 4870).
Beliau juga berkata :
وعلى وليها أن يتقي الله، وأن يمكن الرجل من زوجته إذا كانت الزوجة راضية بذلك، أما إن كانت الزوجة آبية، وهناك خصومة، فهذه ترجع إلى المحاكم، تراجع المحكمة هو وزوجته ووليها، والحاكم ينظر في الأسباب التي أوجبت النزاع
“Sang wali/bapak hendaknya takut kepada Allah, hendaknya dia kembalikan anaknya kepada suaminya jika sang anak sudah ridho.
Adapun jika anak masih enggan dan masih ada perselisihan maka segera datang pengadilan supaya segera diputuskan oleh pengadilan terkait masalah ini apa yang menyebabkan pertengkaran.” (Lihat fatawa bin Baz 13848).
Jika masalah ini tidak segera diselesaikan maka dikhawatirkan orang tua masuk kategori hadits ini.
ليسَ منَّا من خبَّبَ امرأةً علَى زوجِها أو عبدًا علَى سيِّدِه
“Bukan golongan kami yang membuat istri benci kepada suaminya dan budak kepada tuannya.” (HR. Abu Dawud 2175 dan dishahihkan Albani)
Dan nasehat kepada suami supaya bertaqwa kepada Allah dalam menjaga istrinya yang telah di amanahkan kepadanya, tidak mempersulit orang tuanya berhubungan dengan istrinya, tidak kasar kepada mertua dan sabar kepada yang lebih tua serta senantiasa menjaga adab dan tata karma; karena jika hati sudah terlanjur sakit maka sangat susah untuk mengobatinya.
***
Jember, Jum’at 6 Jumadil Ula 1446 H/8 November 2024 M
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A
Artikel : Meciangi.or.id






