Penanya : Fredy Lisdianto
Boleh menghajikan maupun mengumrohkan orang lain dengan dua syarat: pertama orang yang meninggal, kedua orang yang tidak mampu haji atau umroh sendiri.
Jawab:
Imam Nawawi rahimahullah berkata:
لكن لا يجوز عن المعضوب إلا بإذنه، ويجوز عن الميت بإذنه وبغير إذنه، ويجوز من الوارث والأجنبي سواء أذن له الوارث أم لا بلا خلاف
“Tidak boleh mewakili orang yang tidak mampu kecuali dengan seizinnya, dan boleh mewakili orang yang meninggal baik dengan seizinnya maupun tanpa seizinnya, dan boleh dari ahli waris maupun yang bukan, baik diizinkan ahli waris maupun tidak tanpa ada khilaf perbedaan pendapat.” (Lihat Al Majmu 7/101)
Sehingga bagi yang ingin membayari orang untuk menghajikan maupun mengumrohkan orang tuanya yang telah meninggal maka hendaknya dia memilih orang-orang yang terpercaya agamanya.
Syeikh Utsaimin rahimahullah berkata:
فإذا أردت أن تعطي شخصاً ليحج عن أبيك المتوفى أو أمك ، فعليك أن تختار من الناس من تثق به في علمه وفي دينه ؛ وذلك لأن كثيراً من الناس عندهم جهل عظيم في أحكام الحج ، فلا يؤدون الحج على ما ينبغي ، وإن كانوا هم في أنفسهم أمناء
“Jika anda mau kasih seseorang untuk menghajikan bapak anda yang meninggal atau ibu anda, maka anda wajib memilih orang yang terpercaya ilmunya dan agama nya, itu dikarenakan kebanyakan orang jahil terhadap hukum hukum haji, sehingga tidak menunaikan nya sebagaimana seharusnya, walaupun mereka adalah orang orang yang terpercaya bukan pembohong.” (Lihat fatawa Utsaimin 21/154)
Dan bagi yang menghajikan maupun mengumrohkan maka hendaknya bertaqwa kepada Allah bukan dalam rangka mencari harta.
Syeikh Utsaimin rahimahullah berkata:
وإن من المؤسف أن كثيراً من الناس الذين يحجون عن غيرهم إنما يحجون من أجل كسب المال فقط ، وهذا حرام عليهم ؛ فإن العبادات لا يجوز للعبد أن يقصد بها الدنيا
“Termasuk hal yang sangat disayangkan adalah kebanyakan orang yang menghajikan orang lain umum nya tujuan untuk cari keuntungan harta saja, dan ini HARAM, sesungguhnya ibadah tidak boleh dimaksudkan untuk mencari dunia.” (Lihat Adh Dhiya Al Lami’ 2/477)
***
Madinah, Selasa 10 Syawal 1446 H/8 April 2025 M
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A
Artikel : Meciangi.or.id






