Afwan ustadz izin bertanya apakah boleh kita belajar Al-Qur’an kepada orang yang tidak berpegang teguh dengan manhaj salaf? (Abu Musa)
Jawab :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين، وبعد.
Hukum asalnya belajar agama adalah memilih guru yang berpemahaman ahlu sunnah wal jama’ah dan menghindari guru-guru yang mengamalkan bid’ah.
Muhammad bin Sirin rahimahullah salah satu ulama tabi’in mantan budak Anas bin Malik rahimahullah berkata :
إنَّ هذا العِلمَ دِينٌ، فانظُروا عمَّن تأخُذون دينَكم
“Ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambilnya.” (HR. Muslim di muqoddimah kitab shohihnya)
Lihat lah bagaimana Ibnu Sirin sangat keras kepada Ahlu bid’ah bahkan tidak mau mendengar sepatah kata pun dari mereka.
Dari Asma’ bin Ubaid rahimahullah berkata :
دخل رجلان من أهل الأهواء على ابن سيرين، فقالا: يا أبا بكر، نحدثك بحديث. قال: لا، قالا: فنقرأ عليك آية من كتاب الله عز وجل، قال: لا، لتقومانِّ عني أو لأقومنَّ. قال: إني خشيت أن يقرآ عليَّ آية فيحرفاها فيقرَّ ذلك في قلبي
“Ada dua laki laki dari ahlu bid’ah ingin bertemu Ibnu Sirin seraya keduanya berkata: wahai Abu Bakar, kami sampaikan kepadamu satu hadits? Beliau menjawab: Tidak, mereka menimpali lagi: kami bacakan satu ayat Al Qur’an? Beliau berkata: tidak, kalian segera berdiri dari sini atau aku yang berdiri?!
Orang orang pada keheranan lantas Ibnu Sirin menjelaskan:
Aku khawatir dia baca satu ayat dengan diselewengkan sehingga itu nempel di hatiku.” (HR. Darimi 1/81)
Terlebih lagi mengambil ilmu dari Ahlu bidah di zaman ini bahayanya sangat akut.
Betapa banyak orang yang awalnya di atas sunnah karena bermudah mudahan mengambil ilmu dari dari ahlu Bid’ah yang pada akhirnya ikut dengan gerombolan mereka, walaupun awalnya dengan embel embel ingin belajar madzhab Syafi’i.
Terkait betapa bahayanya masalah ini syeikh bin Baz rahimahullah berkata :
الموضوع عظيم موضوع البدع، ولاسيما في هذا العصر الذي اشتد فيه غربة الإسلام، وقل فيه العلم، وكثر فيه مدعو العلم على غير هدى، وعلى غير بصيرة، وانتشرت فيه البدع والضلالات والأهواء، وقل فيه الدعاة إلى الخير في غالب البلاد، ولا حول ولا قوة إلا بالله، وفي هذا يتعين على المؤمن أن يحرص جدًا على سلامة دينه، وألا يأخذ العلم إلا عن أهله؛ لأن المدعين كثيرون، فيجب على المؤمن أن يتحرى في أخذ الحق في التفقه في دينه والسؤال عما أشكل عليه حتى لا يقدم إلا على بصيرة، وحتى يأخذ العلم من أهله.
“Masalah ini sangat besar sekali, masalahnya masalah bidah, terlebih lagi di era ini yang di mana islam yang ori semakin asing, ilmu menjadi langka, pengakunya yang tidak di atas hidayah dan bashiroh semakin banyak.
Bid’ah, kesesatan dan hawa nafsu benar benar tersebar dan para da’I kebaikan semakin langka di hampir seluruh negri.
Dalam kondisi seperti ini tidak ada pilihan lain atas seorang mukmin kecuali benar benar memastikan keselamatan agamanya, tidak mengambil ilmu dari sembarangan orang kecuali memang dari ahlinya; karena yang mengaku ngaku sangat banyak.
Sehingga wajib atas seorang mukmin selektif dalam mengambil kebenaran, dalam belajar agama, dalam menanyakan problematika problematika yang terjadi, supaya tidak berfatwa kecuali benar benar di atas ilmu, dan tidak mengambil ilmu kecuali benar benar dari ahlinya.” (Lihat Fatawa Bin Baz 1203)
***
Jember, malam Rabu 4 Jumadil Ula 1446 H/5 November 2024 M
Dijawab oleh : Ustadz Muhammad Yusuf Rustam, Lc., M.A
Artikel : Meciangi.or.id






